Marusu Denyut Kehidupan Kota Transit

Maros atau idiom yang masih lazim terdengar yaitu "Marusu". adalah Kaputaen kini dengan kisaran lampau yang merupakan kota atau wilayah tempat pertemuan dengan tipologi karakter masyarakat "urban", dari transit imperium kerajaan Gowa-Bone. Uraian singkat berikut ini adalah hasil "pembacaan subyektif ", ya sebuah keadaan  kota yang coba menarik kembali atraktif lampaunya seperti lomba dayung dan hias perahu yang pernah dilakukan tahun 70-an dan kembali dilaksakan di Sungai Marusu.  Tak seperti  kota urban lainnya,  Maros dianggap anomaly dari keadaan gesselchaft* sebagaimana ciri kota transit pada umumnya, dan lengannya kota tua ini sehari setelah lebaran masih menuansa religi dengan nilai silaturahim antar masyarakat, atau istilah "lokka massiara". Yah, kota ini masih merawat nilai-nilai budaya juga religi masa lalunya juga dengan padanan pandangan hidup lebih rasional.

Kota ini tempat kerajaan tua dahulu tahun 1471 dengan raja bernama "Karaeng Loe Ri Pakere" , hari ini penduduknya terutama lebih banyak 'disesaki' oleh kalangan pendatang, dengan berbagai alasan masing-masing, kalangan ini menggerakkan roda kehidupan sehari-hari kota ini, termasuk di antaranya adalah para pencari ilmu, pekerja, menjadi pegawai atau pun sekadar jalan-jalan sebab destinasi yang keren. Dulu dan kini berbagai penjuru mereka datang,  baik dari masyarakat Gowa (tepatnya Makassar kini), Sinjai dengan dialek bahasa lisan serupa digunakan di Camba (salahsatu kecamatan di Maros)  terlebih Bone juga pendatang dari melayu dan dari luar Pulau Jawa.

Kabupaten Maros, menyimpan dan menciptakan sejumlah ragam potensi wisata. Potensi itu tak hanya wisata pantai, air terjun, permandian air panas Mallawa, tapi juga wisata kuliner semisal PTB. Namun, yang tak kalah menarik dan menakjubkan, bahwa di daerah ini juga dunia mengakui keberadaan kawasan bukit atau gugusan karst terluas di dunia selain karst di Cina Selatan dan Vietnam

ya, sebuah pandangan dari konteks atas kota yang kontekstan penyangga Kota Provinsi Makassar. Demikianlah kota Maros atau Marusu, mungkin ini pandangan  terlalu pribadi sebab mengesan sepi dalam sehari setelah  lebaran.
____
Maros _ Warkop "Labu Esso", 23 Agustus 2018, ketika Masy OI Maros masih sedang tidur kecuali Calon Kepala Desa Darwis Gassing Ampekale dan  Danial (si pengantin baru) pengurus Oi Kabupaten.

*gesselchaft : hubungan kekerabatan mulai pudar.


{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar