naskah drama I Nyunyi’ dan Kampung Labuaja

Naskah drama ini pada awalnya adalah paupau rikadong (bahasa Bugis terjemah : cerita-cerita menghibur sebelum tidur/ semacam cerita rakyat, yang diadaptasi menjadi naskah drama dari buku "Kearifan Budaya Lokal" ditulis oleh : Kaimuddin Mbck. kupersembahkan pada anak-anakku tercinta di SMA Negeri 6 Bontoa dan SMA Pergis Kab.Maros, sebagai bahan untuk paket pentas apresiasi seni. 


 (I Nyunyi masuk melenggang sambil membawa cucian melintasi panggung, suara I Nyunyi terdengar lirih lalu seperti tercekik  ), 

Suara dari backstage :Sebuah tempat di pertengahan kampung antara Camba dan Bantimurung, tersebutlah sebuah sungai yang terkenal dengan keganasan buayanya. Orang-orang kampong yang mandi dan mencuci juga juga yang Cuma melintas pinggir sungai selalu berhati-hati. banyak sudah manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Kini I Nyunyi’ tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. ia sirna bagaikan ditelan bumi.
Tapi di sebuah tempat di dasar sungai tampak seorang gadis tergolek lemas. Dan diantara terdapat 3 gadis yang sedang mematung, dan Mantang nama gadis yang   terikat dengan badan penuh luka, seseorang yang masih terbaring adalah I Nyunyi’.
I Nyunyi’ :Mmaa…..Mmaa….ma !, (posisi terbagun) “Ayah, Ibu, aku ada di mana?”, (Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah gua. Yang lebih mengejutkannya lagi, ketika ia melihat dinding-dinding gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian indah-indah yang memancarkan sinar berkilauan diterpa cahaya obor yang menempel di dinding-dinding gua).

 Mantang : perhatikan semuami itu na silau matamu, itu liat he….(sambil menunjuk pada ketiga gadis yang mematung itu)
I Nyunyi; :“Wah, sungguh banyak perhiasan di tempat ini. Tapi, milik siapa ya?”, (mendengar suara orang sedang menuju ketempat tersebut I Nyunyi  berpura-pura pingsan)
Suara dari backstage : “Hai, Gadis –gadis rupawan! Tidak usah takut. Benda-benda ini adalah milikku.”, (masuk  seekor buaya besar merangkak di sudut gua. Dan mendekati I Nyunyi dan memeriksa, yakin bahwa ia masih pingsan SB mengambil dupa yang berasap lalu meniupkan mantera kepada ketiga gadis yang mematung tersebut dan segera siuman, giliran I Nyunyi yang hendak di asapi mantera, tapi Mantang mulutnnya juga terus berkomat-kamit dan mengirimkan tiupan pada I Nyunyi)
I Nyunyi’ : “Anda siapa? Wujud anda separuh buaya…
Sang Buaya : “Tenang, Gadis cantik! Wujudku memang buaya, tapi sebenarnya aku adalah manusia seperti kamu. Wujudku dapat berubah menjadi manusia ketika purnama tiba.,”
Mantang : lalu kau menggodaku dan itu tak cukup tampan bagiku, kau tetaplah buaya….buaya darat….!(mantang menerima tamparan dari SB)
Sang Buaya : “Dulu, aku terkena kutukan karena perbuatanku yang sangat jahat. Namaku dulu adalah so’ngala, perampok ulung di Sungai ini. Aku selalu merampas harta benda setiap saudagar yang berlayar di sungai ini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini,”
I Nyunyi’ : “Lalu, bagaimana jika Anda lapar? Dari mana Anda memperoleh makanan?” tanya.
Sang Buaya : “Kalau aku butuh makanan, harta itu aku jual sedikit di pasar desa di tepi Sungai “samangki” saat bulan purnama tiba, tidak seorang penduduk pun yang tahu bahwa aku adalah buaya jadi-jadian. Mereka juga tidak tahu kalau aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut,”( I Nyunyi’ : (manggut-manggut seolah mengerti sesuatu )ada pa….mengapa….
Sang Buaya : “Hai, Gadis Cantik! Siapa namamu?”,
I Nyunyi’: “Namaku I Nyunyi’. Aku tinggal di sebuah dusun di tepi Sungai ini,” “Wahai, Buaya! Bolehkah aku bertanya kepadamu?”
Sang Buaya : “Ada apa gerangan, Nyunyi? Katakanlah!”, (sang buaya mendekatkan mukannya ke wajah I Nyunyi)
Mantang :jangan…,  jangan tatap matanya…!(kembali menerima tamparan)
I Nyunyi’:“Mengapa Anda menculikku dan tidak memakanku sekalian?”,
Sang Buaya : “Ketahuilah, Nyunyi! aku membawamu ke tempat ini dan tidak memangsamu, karena aku suka kepadamu, kamu adalah gadis cantik nan rupawan dan lemah lembut, maukah engkau tinggal bersamaku di dalam gua ini?”. (mendengar pertanyaan buaya itu, I Nyunyi’ jadi gugup. Sejenak, ia terdiam dan termenung)
Mantang : Uh…gombal murahan,  tidak bisakah kau berkata “aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu…mesti kau takkan pernah tahu…”, dasar buaya darat (kembali menerima tamparan yang lebih keras)


I Nyunyi : “Ma… maaf, Buaya! Aku tidak bisa tinggal bersamamu, ambokku pasti akan mencariku”,
Sang Buaya : “Jika Engkau bersedia tinggal bersamaku, aku akan memberikan semua harta benda yang ada di dalam gua ini, akan tetapi, jika kamu menolak, maka… aku akan memangsamu,” ( I Nyunyi’ terkejut mendengar ancaman Buaya itu. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Sejenak ia berpikir mencari jalan agar dirinya bisa selamat dari terkaman Buaya itu (music sedih mengiringi).
I Nyunyi : “Baiklah, Buaya! Aku bersedia untuk tinggal bersamamu di sini,” jawab I Nyunyi’ setuju”.  (mantang sibuk bergerak > layar tertutup)
Season 2
Keterangan adegan dan suara dari back Stage : ”Akhirnya, I Nyunyi’ pun tinggal bersama Buaya Perompak itu di dalam gua. Setiap hari Buaya itu memberinya perhiasan yang indah dan mewah. Tubuhnya yang molek ditutupi oleh pakaian yang terbuat dari kain sutra. Tangan dan lehernya dipenuhi oleh perhiasan emas yang berpermata intan.
(Sang Buaya bertepuk tangan dan ketiga gadis yang tersihir itu melukakn tarian persembahan untuk SB, Pada suatu hari, Buaya Perompak itu sedikit lengah. Ia tertidur pulas dan meninggalkan pintu gua dalam keadaan terbuka. Melihat keadaan itu, I Nyunyi’ pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
I Nyunyi : “Wah, ini kesempatan baik untuk keluar dari sini,” (lalu melirik pada Mantang) Ditengah kesantaian tersebut I Nyunyi mengambilkan minuman U/ SB yang sebelumnya telah mengambil sebuah bubuk racun dari mantang , SB pun entah tertidur atau pingsan…..) 
*I Nyunyi pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada kedua orangtuanya dan seluruh warga di kampungnya. Sejak itu, warga pun semakin berhati-hati untuk mandi dan mencuci di tepi sungai tersebut. Sebab penculikan I Nyunyi’ tersebar ke seluruh daerah maka dikenallah tempat tinggal I Nyunyi’ tersebut dengan kampung bernama “Labuaja”. demikian kelengkapan naskah drama

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar