kisah : kegilaan atas kecantikan

Tanpa make up pun kau tampak cantik, tapi setelah make up ? apa ya.., bukan hanya cantik namun rona muka itu lebih natural, seakan hasil hias dandanan  pengantin Bugis Makassar ini mengembalikan nelangsa lampau puri-putri raja kerajaan Bone yang terkenal sangat cantik. dalam banyak kisah : sekali sang raja memerintahkan istrinya yaitu ratu/permaisuri, terkadang tampil sebelum dia dan tamu-tamunya dengan mengenakan mahkota untuk memamerkan kecantikannya, dan juga sebuah Legenda kecantikan Bissudaeng dalam cerita "Toakala"dimulai pada zaman dahulu ketika sebuah desa bernama Pattiro tempat Bissudaeng tinggal dan kecantikannya terkenal hingga keseluruh pelosok kerajaan, dan kisah tersebut dalam banyak sumber menegaskan bahwa karena kecantikan Bissudaeng, ular monyet dan binatang lainpun sangat menyayanginya, terlebih Toakala yang dengan semangat cintanya harus bertaruh antara gagal dan menjadi monyet dalam melaksanakan tugas ritual atau berhasil memenuhi janji dan berhasil mempersunting Bissudaeng, ya sebuah perjalanan cinta yang sangat traumatis. kisah selengkapnya > Toakala dan Bissudaeng.
make up hias pengantin busana tradisional







Kegilaan terhadap rahasia ke-Cantikan
Berikut catatan gila atas / sebab kecantikan
*Kisah-kisah dongeng kerajaan atau sejarah selalu mengungkap perempuan-perempuan bangsawan memiliki kecantikan tak berbanding. Cantik, harum, kulit halus dan bersih, adalah beberapa ciri-ciri yang sering digunakan untuk menggambarkan kecantikan para putri di kerajaan-kerajaan kita. Apa rahasia para putri-putri zaman kerajaan atau yang bisa kita katakan, leluhur kita itu? Dalam buku Herbal Indonesia Berkhasiat, Bukti Ilmiah dan Cara Racik mengungkap, ramuan alami sudah digunakan oleh bangsa Indonesia untuk kesehatan dan kecantikan setidaknya ratusan tahun silam. Yang tercatat berupa : Daun, rimpang, akar (termasuk akar rumput bahan pengharum untuk pupur bedak musim tropis) dan kayu dari berbagai tanaman berkhasiat diolah secara tradisional untuk mempertahankan kecantikan wanita.

*Upaya gila atas kecantikan lebih jauh terjadi, ketika Tahun 1790 hingga 1830 periode raja Mataram, tersebutlah Sri Sultan Hamengku Buwono II dalam upaya pembuktian kecantikan yang diterapnya dengan menggunakan tanaman herbal dan keadaan ini bersimbiosis dengan tersertakan pula ritual kecantikan atas  keluarga bangsawan, sebuah istilah kecantikan dalam ramuan herbal yang terkenla hingga kini yaitu "Serat Centhini (1814) yang berisikan ramuan jamu-jamuan.

*Eksplorasi atas kecantikan sejak dahulu memang tak setengah hati, lantaran cara pembuatan jamu pula, sudah terlukis pada dinding candi Hindu dan Budha, seperti pada candi Borobudur, tampak pada relief candi tersebut ada: lumpang, pipisan, dan ulesan untuk membuat dan meracik jamu dan herbal baik untuk kesehatan maupun kecantikan. tak selesai hingga di sini petugas informan candi menambahkan bahwa "bahan yang tampak ini dan itu telah menjadi tradisi dengan membuatnya menjadi bedak dingin, tapel, pilis. dengan cara direbus atau dikeplak, dirajang lalu diminum..."

*Upaya untuk cantik telah membudaya sejak periode kerajaan Bugis-Makassar juga Hindu-Jawa. Terdapat kebiasaan alami para putri2 raja juga Bissudaeng yang punya kebiasaan mandi di je'ne taesa yang dingin, tips ini tak lain yang dengan air dingin tersebut dianggap bermanfaat untuk menghaluskan kulit atau mengecilkan pori2 kulit, dan hal lain dengan menggunakan Mangir untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang menumpuk, supaya kulit baru terlihat dan cantik, sekaligus untuk memutihkan dan mencerahkan. Biasanya dilakukan dua minggu sekali," jelas Nenek Nawi Dg.Cora (istri veteran Subhu Desang Dg Ngerang), katanya menambahkan "mangirika nipasitumbuki anjo tammua ni pasiagang pole kunyi..." terjemah "tumbuklah  mangir tersebut bersamaan dengan temu giring dan kunyit , hal ini kami gunakan untuk persiapan sebelum appacci pada gadis yang dikenai lamaran atau akan menikah sebentar lagi"..._bersambun (kmdn Mbck)

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar