hujan sore tadi dengan seseruput kopi

Atas hujan sore tadi maka langit baru saja berubah, sesuatu terbentuk berwarna-warni memanjang tapi bukan pelangi, rupanya hujan yang merangkul segala warna-warni di bumi lalu menyemai harumnya bau tanah basah juga melembutkan awan. catatan ini dan seseruput kopi, mengingatkanmu tentang hari ini dan hujan serupa yang (kala itu) membiarkan kita saling menunggu di pojok jalan, rupanya amat sederhana hujan meletakkan kasih, juga meletakkan  warna-warmi peristiwa  haru

hujan sederhana yang mengeratkan kita tentang menunggu juga harapan, pada ketuk ke suara jiwa tak siapapun mengingkari  hujan sore tadi, "jika tidak" aku terus ke bulan dan enggan menoleh, sebab hujan turun hari ini karena aku, karena aku menunggumu .....penuh guyur, basah....

Sungguh sederhana hujan sore tadi
_____________
ya…zaman sedang busuk sayang .., bahkan dengan hujan mereka memaksamu terus bertahan, badai hujan porakporandakan kesederhanaan milik kita satu-satunya yaitu cinta, ya..demikian Jalan hidup yang penuh ke-tidakterdugaan, saat hujan yang sama menyengsarakan rakyat merampas hak milik mereka,  (juga)hingga hujan yang meluluh lantakkan Palestina, tapi adakah kita tetap mengenal hujan ini, sebagai hujan yang mengajarkan kasih dan dekapan. (kirain kini kau begitu mapan sekarang ya..?)

adakan kita masih mencintai hujan ini, seperti cinta yang kita dramatisir sendiri, lalu setiap derai hujan adalah kita yang tetap menyandingkan dingin tampa ampun bahkan  menajamkan  kisah yang kemudian  ditulis oleh kemarau, tentang "lengkungan hari sepanjang hujan dan  tautan jemari yang memeluk. apakah kau rindu hujan hari ini ?, hujan sore tadi dan aku masih sesederhana ini dengan jaket lusuh yang pernah kukenakan padamu.
______________________
kaimuddin mbck, sebab "Sungguh sederhana hujan sore tadi"
Berikut ling terkait dengan metafora catatan hujan
kumpulan puisi hujan - Sang Baco


Catatan berikut sunting dari Farid Ab (Santri Pesantren Media)
 Presiden Hujan Sore
Di sebuah sore, hujan turun dengan lebatnya. Tetes demi tetes air langit yang bening seolah-olah gembira bertemu dan bersentuhan dengan tanah gersang yang kering dan tandus. Pertemuan itu menebarkan aromanya yang khas. Suaranya pun membuat gaduh atap-atap rumah, terutama yang terbuat dari seng. Udara sejuk khas musim hujan, memberikan kedamaian dan ketentraman di hati hampir semua penduduk kota. Kedamaian yang sudah begitu lama dinanti. Kedamaian yang singgah setelah musim kemarau menjadi penengah musim hujan.
................

Namun bagi Dullah, seorang bocah yang sehari-hari hidup dari sisa-sisa sampah yang dibuang orang di tepian jalan, hujan sore itu bukanlah surga baginya. Entah kenapa, suara rintik hujan sore itu terasa menghantam, mengiris, dan merobek-robek hatinya hingga hancur lebur. Bayangan tragedi memilukan di musim hujan terdahulu, tergambar jelas di matanya.
Wajahnya yang kurus dan pucat terlihat semakin layu. Matanya kosong dan hampa menatap riak gelombang sungai yang semakin semarak oleh tetes-tetas air hujan. Perlahan-lahan air matanya mulai berlinang membasahi pipi bercampur dengan air hujan yang  menetes dari lubang atap gubuknya yang terbuat dari seng, pun esok ketika Dullah tak di rumah dari jauh tampak iring-iringan kendaraan polisi pembongkar : Gubuk dibentur benda besar dengan keras. Sebuah buldozer menabrak, mangangkat, dan langsung menceburkan gubuk reot itu ke dalam sungai yang hanya berada setengah meter di sampingnya. Gubuk reot itu langsung hilang bersama tubuh lemah di dalamnya. Sungai yang bergolak telah menyeret ayah Dullah entah kemana.
 .................
Mata Dullah terbelalak. Mulutnya menganga. Jantungnya berdegup kencang.
“Ayah…” Desisnya. Dullah pun berlari kesetanan. Rumput jalanan patah oleh terjangan kakinya. Tanpa sengaja Dullah menginjak sesuatu. Sebuah botol. Dullah melihat ada kertas di dalamnya. Dia buka dan dia baca.

“Dullah, kamu harus percaya. Ada malam, pasti ada siang. Rubahlah malam dengan cahaya nurani di tanganmu. Ayah titip adikmu. Jagalah dia baik-baik…”

Dullah terpekur. Sejenak ia pandangi adiknya. Tiba-tiba kepalanya berkunang-kunang. Ia jatuh tersungkur. Gelap.

~~~~ooOOOoo~~~

“Kriiiinggg!!!” Suara handphone itu mengagetkan seorang lelaki setengah baya yang sedang asyik melamun di pinggir sungai. Dia mengangkat telpon itu.
“Ya.”
“Pak Presiden, ada tamu dari luar negeri.”
“Ya aku segera pulang” Jawab lelaki itu berwibawa.
Dia langsung bergegas ke jalan raya. Sesaat kemudian dia menyetop sebuah angkutan kota. Dia naik ke minibus yang hampir penuh sesak itu. Para penumpang seakan sudah tidak asing lagi dengan wajahnya. Bahkan, seluruh penduduk negeri juga akrab dengannya. Semua orang di negeri itu selalu menyapa, “Selamat sore Pak Presiden. Mau ke mana?”
Ya. Dialah Pak Dullah, sang presiden jalanan. Julukan presiden jalanan sudah melekat kuat pada dirinya. Semua itu bukan tanpa alasan. Semenjak dia menjabat sebagai presiden, kebiasaannya sebagai rakyat jelata tidak pernah berubah, dekat dengan rakyat. Ia tetap bergaul dengan rakyat jelata layaknya seorang tetangga dekat.

Bebas. Dekat dengan rakyat. Ia pergi kemanapun ia mau. Kadang dia terlihat berjalan di antara rumah penduduk, ngobrol di warung pojok, duduk bersama pedagang di pasar, membantu membuat rumah, dan masih banyak lagi. Ia menggunakan mobil kepresidenan hanya disaat kondisi mendesak saja. Di luar itu, dia lebih senang menggunakan angkutan kota. Berbagi rejeki dengan para sopir angkutan kota. Para menteri dan para pejabat lain menjadi segan dan akhirnya meniru. Akhirnya, tak satu pun masyarakat miskin yang tidak terbantu. Presiden benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya. Bukan penguasa.
______________
"Sungguh sederhana hujan sore tadi"

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar