tulis cinta di pohon : cerita kisah

cerita kisah : tulis cinta di pohon, nyata bahwa kita bukan wisatawan yang saling jatuh hati dan berkisah-kasih di bawah pohon rindang lalu saling menuliskan nama di sebuah pohon, oh my god ?,  kisah demikian hanya ada di film bro.._kisah wisatawan ini terjadi saat liburan dan mereka melakukan pertemuan di pohon cinta itu lalu menorehkan nama mereka, sampai akhirnya sebab waktu mereka menikah dan punya anak, tapi hingga kini tidak di ketahui siapa sebenarnya dua pasangan di cerita tersebut, ada yang bilang cerita itu di buat- buat, dan bisa saja nama tersebut diberikan secara tidak sengaja karena banyaknya manusia yang punya kebiasaan demikian (tulis nama di pohon), pohon pinus malino yang banyak di datangi pengunjung, tak mengisyaratkan satu namapun kecuali peristiwa dingin sebab kabut tebal dan kita saling berdekapan, asyik memang berpacaran di sepanjang hutan pinus malino kita di buat tak mengerti mengapa iklim begini ramah dan tubuh kita menghambur satu sama lain. tapi cuaca mendadak kabut tiba-tiba dan kita  belum menulis apapun apakah itu "kau" atau "aku" terlebih "kita", rupanya seluruh salju langit ambruk ke bumi dan kita harus saling berlarian tak tentu arah....Pohon itu tinggal sendirian tanpa nama.

Melupakan Nama Kita di Pohon Itu

(jangan menulis cinta di pohon)
Udara malam dingin..gigil….

dan di pemberhentian berikutnya,

kita berpisah jalan dan saling mencari

(ketika kita saling menuliskan nama di pohon itu), 

dan berjanji tak meraba bahkan tak  menyentuh gurat nama kita itu,

        

Gumpalan asap perpisahan…

isyarat kita tak pernah kesini lagi

         tampa tangis ….seperti pohon itu yang

ditinggalkan oleh daun,

  tangan kita saling melepas 

dan, "udara malam dingin….., beku…..", 
tak seperti biasa.
kita saling menebak atas rindu di pertemuan selanjutnya 

___________________
cerita kisah : tulis cinta di pohon, Rindu membenarkan bahwa "aku ingin melihatmu duduk manis di bawah pohon pinus itu, sebelum ranting-ranting tua itu rapuh  dan melupakan hidup, Kapan Lagi ...bukankah masih jelas nama kita tertulis di pohon itu, duh...uban ku mulai tumbuh liar, tidak aku tak boleh kesal meski pegal-pegal mulai terasa di paha hingga pundak, kapan lagi kau duduk manis di bawah pohon pinus ini dan berkesempatan membacakan puisi rinduku.
 

Cinta kita tak seperti keabadian pohon pinus itu, Kemaraukupun habis dan  Musim  berakhir. rindu ini bukan lagi tentang menyelami lekuk kota atau duduk di taman juga menuliskan nama-mu. Bukan lagi tentang embun yang jatuh menjejak tanah. Karena ternyata aku tak lagi peduli lagi tentang musim apa saat ini.
Atau musim mana yang lebih aku cintai. Karena sesungguhnya kamu adalah musim itu sendiri, haha,,ha...satu musim yang tidak memiliki siklus. Satu musim yang tak berganti.
kubersihkan lumut yang melekat pada namamu di pohon itu, sebelum akhirnya aku adalah pinus itu sendiri dan kabut yang mengantrkanmu dingin_esok nantimu di Malino.



kaimuddin mbck, *bersama panitia penerimaan mahasiswa baru di malino

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar