Panggilan Arwah Sumiati (Pelajaran Cerpen : Mistik 1.

Atas aura alam, dan perasaan aneh  yang kadang tak terjelaskan.
Perasaan ini sejenis perasaan egois yang hanya dimiliki mereka 
yang gemar bermain-main dalam terawang antara garis batas kesadaran dan alam kesetanan. jenis perasaan yang acapkali meletup-letup mencumbui adrenalin. Perasaan itulah yang saat ini mengendap pada ruang kesadaran, sekali ini dalam cerpen hantu "panggilan arwah Sumiati".(sumber terkait atas cerpen populer ini mengenalkan tragedi misteri sumiati yang trend di sulawesi selatan,
 kunjungi link berikut: 

Dalam perjalanan memasuki kelebatan pohon di ujung jalan sebuah kampung, aku berpapasan dengan sosok kakek tua misterius. Tubuhnya kurus pakaiannya serba hitam. Kurasa kakek itu baru saja meninggalkan perkampungan tersebut, atau ia bagian dari masyarakat kampung itu...

Panggilan  Arwah Sumiati (Pelajaran Cerpen  : Mistik 1.

" mau kemana ?” tanyanya waktu itu dengan suara serak dengan mata yang sedikit di picingkan. sebelum menjawabnya, ia kemudian terkekeh hingga dadanya berguncangan. Aku menyahutinya dengan mengatakan "tujuan saya mau masuk kampung ini dan hendak menemui seseorang,  mendengar jawabanku wajahnya sedikit mendung namun, dan tatapannya penuh misteri seakan menelusup kesetiap pembuluh darahku.

“ jangan ke sana cuaca sedang buruk, burung-burung saja lebih suka berada di luar kampung ini daripada terbang masuk kesana, hehehe (ketawa dinginnya meremangkan )“ ujarnya sembari mempertunjukkan beberapat ekor burung berwarna hitam yang memang beterbangan di luar kampung itu, sementara seekor lagi berwarna merah, yang saat itu kusaksikan lesu berada di tangan pak tua itu  tak lagi bisa terbang. Kurasa sayapnya patah...“aku tak pernah menangkapnya. Burung ini yang datang sendiri ketanganku di detik yang hampir membuatnya tewas, haha..ha..ha...”, selalu panggilan itu...apakah kau pernah mendengar nama sumiati , hai burung..?,

Di musim hujan ini, ketika langit terlihat cerah selama tiga hari, aku menggunung dan tak ada lain setelahnya kecuali insting kuat untuk menaklukkannya, menundukkan arwah yang mencandu-ku pada atmosfir tipis bibirnya yang ku sebut sebagai "puncak pegunungan yang indah dan seksi", bercengkrama dengan angin yang sesekali mengganggu wajahnya, ah perempuan itu...Juluran rambut yang terusik menatapnya, hatiku beresonansi di kedalam balik baju merahnya...ya...sebuah lekuk yang memaksa sebagai  alasan implisitku. "oh... memang cool ", ketika pura-pura memendam ekspresi atau mungkin juga aku kegilaan, ketika mencintai perempuan yang telah di kabarkan orang bahwa "dia telah mati", bagiku ia hidup dan sangat dekat. bukan arwah...dan nasihat pak tua misterius tadi bukan apap-apa bagiku.

Mendadak kabut tebal turun hingga mengganggu jarak pandang. Bebukitan di kejauhan tak nampak lagi, semuanya lenyap. Perlahan-lahan kuhadapi situasi yang mengkhawatirkan. Terpapar di padang rumput tak berpelindung. ia hadir dan kurasakan kulitku tersentuh kondensasi kabut yang dingin mencekat, "tapi sungguh-sungguh ia benar-benar perempuan itu...perempuan itu..."

Situasi kemudian berubah drastis, raut wajahku menegang pada jarak pandang yang kian dekat entahlah... apapun...tapi sesuatu harus kukatakan ya..minimal mengatakan hai.., ketika aku harus menyapanya dan sebentar kemudian (seperti biasa) lalu menggenggam tangannya, serasa sinar matahari tak mampu menembus awan, angin dari hutan gunung mulai membekukan darah-ku, ini tak biasa...?. kupandangi.... dan wajah itu benar-benar pucat ya..pucat sekain kapan, mendadak tiupan angin kian kencang, menampar-nampar keras ujung daun , kutatap matanya yang sesekali terpicing mengatasi deru angin, semakin aku mencium bau semerbak kamboja putih, "sumiati..."aku menyebut namanya tapi seolah tak ia dengar, aku dengan sedikit teriak....ah .aku teriak sangat keras...."aku memanggilmu sumiati..!", tapi suaraku seolah dilarikan angin....bersambung (tulisan  terkait
________
Link terkait perihal Belajar Analisis Teks Puisi ini : berikut ini >
menulis ki ku baca pi,  cara membuat judul & menulishati yang menulis,pembelajaran cerpen paling imajinasi, maka hati pula yg m-baca-nya,  dengan rindu ku-menulismuBaca tulis dengar, ya tulis-tulis sajamenulis pada tulang sungsum .Tips Menulis-kan Metafora Menjadi Cerpen (Materi Pembelajaran ) 

Pelajaran : misteri panggilah arwah sumiati adalah cerpen mistik yang menanggapi tentang isarat sakral alam dengan aura mistik kental yang dikandungnya, dan sebagai pembelajaran menulis cerpen genapkanlah kekuatan cerpen itu dengan mengamati iklim ,nuansa habitat  alam juga dengan alam psikis yang dikandungnya dan terjemahkanlah peristiwa tersebut dengan pilihan kata yang tepat demi kepentingan reseptor atau pembaca- bersama cerpen maka tuliskanlah segala peristiwa.
  ____________________________
kaimuddin mbck, me/ penulis mistik dalam Panggilan  Arwah Sumiati

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

samad mengatakan...

keren mentong sang baco

Posting Komentar