Tradisi A’Resa Resa_

Bermula dari panorama yang indah disebuah pesisir ketika air sedang pasang surut, tampak jelas pasir putih di antara sekumpulan tebaran kerang, pun angin dengan manja menarik-narik ranting kelapa seakan telah terjalin berkelindan persahabatan masa lalu adalah panorama di sebuah pesisir daerah Bontoa Maros. Sekilas  menelusuri jejak ini seakan mengembalikan jeda kenangan kita pada masa lalu, tatkala seorang raja merindukan suasana pantai, tempat rekreasi di pesisir, tepat ketika air sedang pasang surut, maka tepian pantai ini merupakan saksi dimulainya tradisi A Resa-Resa
Makna tradisi "a' resa resa" ini, menunjukkan gambaran keterbukaan, keterpeliharaan hubungan baik dan terjalin secara emosional, antar masyarakat terpimpin dan raja mereka dalam menyampaikan segala hal yang terjadi dan berkembang di kampung tersebut secara langsung. Lihatlah..serombongan masyarakat budaya yang terpimpin oleh raja mulai beranjak, maka arak-arakan pun bergerak dari rumah kediaman raja ke pesisir pantai, tampaklah raja dikelilingi oleh gadis-gadis memakai “Baju Bodo merah”, (sebagai salah satu warna yang lumrah dipakai oleh masyarakat berstratifikasi Tu Deceng dan Ata kecuali warna hijau, kuning dan ungu adalah warna pakaian milik keturunan bangsawan ), kostum adat baju bodo tersebut yang digunakan oleh gadis-gadis, terpadu dengan asesori khas yang menggantung ditelinga para gadis, dikenal dengan nama ”Bangkara Ta′rowe” atau anting panjang yang menggantung. serupa Anting-anting suku Ainu di Jepang bagian utara, wanitu suku pengguna anting ini menganggap hal ini sebagai aksesori eksklusif yang dipakai kaum hawa, maka tampaklah anting-anting gantung tersebut dengan panjang mencapai bahu.

Rombongan gadis- gadis yang menengai pembesar negeri itu, senandungkan lagu “Kadang Dio”, sebagai insfirasi menyampaikan pandangan dan  ungkapan tersebut terdengar seolah elong-elong atau nyanyian, lewat syair elong tersebut juga menyampaikan sebuah simbol kebahagiaan dan pemanjatan doa-doa bagi raja dan kelestarian alam yang disampaikan dengan lagu berbahasa Makassar

Sejuk aura pantai seakan melupakan waktu yang terus bergulir, suara mereka terdengar saling bersahutan dan berbalas-balas, senandung lagu kadang dio kadang terdengar lembut, datar kerap pula melengking. Lagu “ Kadang Dio  diiringi oleh “kacaping” (kecapi –alat musik petik khas Sulawesi Selatan bentuknya menyerupai perahu) terkadang dipadukan dengan gambusu (alat musik resitas dengan cara dipetik ala kecapi dengan dawai menggunakan tali nilon) sebagai melodi, adapun irama lagu, temponya diatur oleh ritme suara Rabana.

Beberapa saat kemudian, panorama pantai surut, teriring dengan teriakan gadis-gadis yang kakinya teriris oleh kerang-kerang yang memenuhi pasir putih, keharmonisan itu berjalan tanpa kendali menggenapkan keindahan dirinya sebagai alam pa’ resa-resakkang atau hiburan tradisi di pesisir pantai yang surut.

Pesan-pesan kultural masyarakat budaya ini, alamat mengemukakan curahan hati kepada pemimpinnya, tanpa merasa terbebani akan konsekuensi dari kesalahan berbahasa juga dapat terjadi berupa permintaan sesuatu kepada raja negeri ini
 
:sebuah keterbukaan komunikasi yang dapat di tandai dengan kemajuan sebuah kearifan peradaban, hal ini terkait juga dengan bangun syair dari rangkaian pappaseng yang dicipta oleh masyarakat lampau Kab. Maros tsb.

Mengalihkan masalalu itu  ke masa kini sebaiknya, sebuah generasi di harapkan tumbuh secara natural oleh sebuah sistim yang mencipta kondisi "bebas menyampaikan pendapat", demi sesuatu yang juga harus tumbuh sebagai kompleksitas /farian dari hidup ini, seolah para aktivis menyatukan sikap dalam pernyataan kepembuatan kebijakan kerajaan lebih jauh.
"ri paui mattake-takke, na simata macinnong ri mangkalingae nasaba pada tana ri lettuki.


Sebab sumber Dg.Teka dari daerah pesisir kampung Rea-Rea, Bontoa Maros, teks lagu kadang dio ini sampai pada peneliti. Adapun salah satu teks lagu tersebut seperti berikut ini ;

Anne naung turungangku daeng,
Labuangku masinoa
Ia mammalo, Ia sengka a’resa-resa’,
Inakke tama pa’risa, Rima lette’ labuanna,
Lanri ngallenu, Gusung pa’resa’ resakkang

Odende karaengku a’ mata jamarro
Ikambe laninring nakku antayang rigusung dalima
Ammio nawa-nawa riesa’na tamparang
Mattamparang mami pangngadakkang
Appakalabbiri ammuntui a resa-resa
Demikian ungkapan yang disampaikan masyarakat budaya dan tradisi ini menampilkan suatu keadaan kerajaan yang terletak dekat dengan pesisir pantai dan dalam kegiatan ini terjadi kedekatan komunikasi secara intens antara masyarakat dan pejabat pemerintahan atau kerajaan, maka sebagai bentuk revitalisasi budaya jika tidak karena sumber awal (Andi Radja Karaeng NaI) tentulah tradisi ini terputus atau tak diketahui masyarakat belakangan karena hempasan gelombang hiruk pikuk perjalan sejarah bangsa, serta kerasnya gelombang arus teknologi informasi yang melumpuhkan semua sendi dan akar tradisi bangsa ini.
------------------------------
kaimuddin.mbck ~Revitalisasi Budaya Lokal Maros.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar