Tuhan, tak perlu undangan resmi

Pengaasih Tuhan turun pada nabi Ibrahim As, meski malaikat sebelumnya menawarkan bantuan padanya, katanya "ia Allah Zat yang lebih mengetahui keadaanku", dan nabi Ibrahim pun dibakar atas perintah raja Namrudz selama 3 hari, dan ia tanpa kekurangan apapun, adapun raja namrud dihinakan oleh Allah SWT, dimana kekuatan militernya tak berguna membelanya atas lalat yang masuk kehidungnya, riwayat mengatakan bahwa lalat tersebut yg masuk melalui hidung bahkan sampai pada saraf2 otak di kepala Namrud, ya demikian Allah mengHINAkan-nya. (hal serupa pula terjadi pada Abraha dengan pasukan gajahnya, dimana Allah SWT menghinakan pasukan besar tersebut hanya dengan burung-burung kecil sebagai tandingan).

Kaum Bani Israil di suatu waktu mendatangi Nabi Musa. “Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami”. Dengan marah Musa menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?” Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, “Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang.
Aku sangat dekat pada mereka, bahkan lebih dekat dari pada urat lehernya < tak perlu undangan resmi

 
Non Undangan Resmi, Sangat Dekat

Tuhan sangat dekat bahkan lebih dekat dari 
rasa dekat. Demikian salah satu petuah bijak dari langit.

kedekatan sama artinya dengan hidup itu sendiri. Itu sebabnya, mereka tidak mengenal surga atau neraka dan tidak perlu diadili di akhirat.

Kedekatan adalah sebuah penghayatan bahwa kita ini sedang 
bercengkrama, selalu berkomunikasi di setiap detak jantung dan berada di “pelukan” Tuhan. Rasanya? Setiap individu akan mengalami rasa yang berbeda-beda bila dekat dengan Tuhan. Lidah kita akan mengatakan manis saat merasakan permen, namun sensasi selanjutnya dari manisnya permen tentu berbeda-beda pula komentarnya.


___________
 Saat Tuhan Memenuhi Undangan

“Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku”.

Berbakti kepada sesama manusia bukanlah kewajiban sekelompok orang. Setiap Muslim apa pun jenis kelamin, usia, dan status sosialnya berkewajiban memperlakukan semua orang dengan baik.

“Semua makhluk adalah keluarga-Ku. Makhluk yang paling Aku cintai adalah yang paling penyayang pada makhluk yang lain, yang paling bersungguh-sungguh dalam memenuhi keperluannya” (Hadis Qudsi)

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar