Perih doa doa_

Pada luka yang kuraba, maka tak juga ku menahan air mata sayang…
rupanya bayangan daun rebah dan kita saling berlayar sendirian
di kepit pada daerah perbatasan yang bernama ramadhan
jerit juga harapan telah mengambang menutup semua peristiwa ,
keterpaksaan pun mengarung disela lahir dan mati.

pada sela malam-malam tumbang, dan pekan-pekan waktu khusyu ini, berkeras kita nikahi: aku belajar duduk, mencerna juga bersila.masih....perih doa doa kurapal,  sayang…

Dan malam malam melingkar, boleh jadi aku masih meraba luka ini, dan
seperti melipat parasut tempat tanah rata menempa kaki, selalu saja begini : kita terus di bumi dengan selokan bau juga dengan katakata maaf tiada henti.
ya Allah...dipintumu kuberdiri malu
___________________________________
kaimuddin mbck, maros ramadhan 2011~Perih doadoa_

Catatan Bodoh tentang Perih
~Perih doa doa_
 Perih adalah kisah  metafora atas luka-luka, redup.. juga tatapan mata terebut rembulan, perih kata-kata yang maha rumit rasanya saja yang cukup jelas,  terkadang perih sebab rasa benar yang seolah tanpa keteraturan sama sekali, perih nan jelas dengan tampak di permukaan gerigi dan benjolan, perih membawa segala  basah dan mengeja hidup dengan malu-malu, perih kadang warna darah juga hitam legam,  perih ? entahlah...seberapa nasehat sebab : Allah..mengetahui keadaanMu, Allah berkehendak atasmu dan Allah mendengarmu jika kau ingin di dengar...?.

Perih Bom Bali
sunting > http://katakamidotcomindonesianews : Kepada INNChannels, Selasa (18/12), Fauzan dari Majelis Mujahidin Indonesia, mengatakan, keluarnya buku memoar ini menimbulkan pertanyaan. Ya, bagaimana bisa seorang terpidana yang dipinjam bertahun-tahun oleh Mabes Polri mampu membiayai pembuatan buku otobiografi yang terkesan luks dan mahal?.
Menurut Fauzan, publik harus kritis menyikapi situasi ini, dengan mempertanyakan mengapa terpidana penjara seumur hidup yang terbukti bersalah sebagai pelaku kasus Bom Bali I yang menelan korban jiwa lebih dari 200 orang, dibiarkan berkeliaran seenaknya dan sengaja tidak menjalani masa hukumannya?

Diskriminasi hukum seperti ini, lanjut Fauzan, tidak lantas berhenti pada pertanyaan itu. Sebab, patut dipertanyakan juga, dari mana sumber pendanaan atau siapa ‘jenderal’ di Mabes Polri yang membiayai pembuatan buku memoar Ali Imron?

Tentang keberadaan pengebom Ali Imron dan Mubaroq yang dijaring Tim anti-Teror Mabes Polri, tadinya, hampir terlupakan oleh publik dan lepas dari pengamatan media. Kabar terakhir tentang Ali Imron menghangat ketika Brigjen Gories Mere ‘ngopi’ bersamanya di Starbucks Cafe Plaza EX Jalan Mh Thamrin, 1 September 2004.

September 2007, Ali Imron bersama Mubaroq, rekan sesama teroris dan sesama terpidana penjara untuk kasus Bom Bali I, diundang buka puasa bersama di rumah Brigjen Surya Dharma di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tak kurang dari PM Australia (ketika itu) John Howard mengecam berkeliarannya kedua terpidana itu.

Dari situlah baru ketahuan Ali Imron dan Mubaroq memang tidak pernah berada dalam tahanan. Kapolri Jenderal Sutanto secara tegas menyatakan kepada pers baru-baru ini, kedua terpidana itu memang dibon Mabes Polri untuk membantu mengungkap jaringan teroris di Indonesia, Luka itu masih menganga. Dan, buku itu bukanlah obat atau ramuan ampuh yang dapat menyembuhkannya.

Buku itu malah menguak luka hingga 
makin menganga. Makin menyakitkan. Tragis.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar