Unsur puisi

Bila struktur batin lebih menekankan unsur pembangun dari dalam puisi, maka struktur fisik menekankan unsur pembangun dari luarnya. Banyak kajian yang menelaah struktur puisi, baik struktur fisik maupun maupun struktur batin, atau keduanya. Tapi, dalam penelitian ini, lebih menekankan struktur fisiknya guna memudahkan telaah lebih untuk kajian unsur puisi selanjutnya.
Pembelajaran Bahasa Hermeneutik
pendapat mengenai unsur-unsur puisi:
a) Richards (dalam Tarigan, 1986) mengatakan, bahwa unsur puisi terdiri dari; (1) Hakikat puisi yang melipuiti tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone), serta (2) Metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme, dan rima.
b) Waluyo (1987) mengatakan, bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.

c) Altenberg dan Lewis (dalam Badrun, 1989:6), meskipun tidak menyatakan secara jelas tentang unsur-unsur puisi, namun dari outline buku mereka bisa dilihat adanya (1) Sifat puisi, (2) Bahasa puisi: diksi, imajeri, bahasa kiasan, sarana retorika, (3) Bentuk: nilai bunyi, versifikasi, bentuk, dan makna, (4) Isi: narasi, emosi, dan tema.

 d) Dick Hartoko (dalam Waluyo, 1987:27), menyebut adanya unsur penting dalam puisi, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik puisi lebih menunjuk ke arah struktur batin puisi, unsur sintaksis menunjuk ke arah struktur fisik puisi.

e) Meyer menyebutkan unsur puisi meliputi; (1) Diksi, (2) Imajeri, (3) Bahasa kiasan, (4) Simbol, (5) Bunyi, (6) Ritme, (7) Bentuk [Badrun, 1989:6].
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi; (1) Tema, (2) Nada, (3) Rasa, (4) Amanat, (5) Diksi, (6) Imaji, (7) Bahasa figuratif, (8) Kata konkret, (9) Ritme dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu struktur batin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat), dan struktur fisik puisi (diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima).


 
Struktur unsur Batin Puisi
unsur puisi  1. Sense
Sesuatu yang diciptakan atau dikembangkan oleh penyair lewat puisi yang dihadirkannya itulah yang disebut sense (Aminuddin, 1978:150). Terdapatnya sense dalam suatu puisi, pada dasarnya akan berhubungan dengan gambaran dunia atau makna puisi secara umum yang ingin diungkapkan penyairnya. Dalam analisis puisi keberadaannya akan menimbulkan pertanyaan lagi, “Apa yang ingin dikemukakan penyair lewat puisi (yang dikemukakannya?”
 
unsur puisi 2. Subject Matter
Struktur yang kedua dalam struktur batin ialah subject matter. Subject matter merupakan pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya (Aminuddin, 1987:150). Bila sense baru berhubungan dengan gambaran makna dalam puisi secara umum, maka subject matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuatu yang diungkapkan penyair. Oleh sebab itu, dalam rangka mengidentifikasi subject matter, pembaca akan menampilkan pertanyaan, “Pokok-pokok pikiran apa saja yang diungkapkan penyair, sejalan dengan sesuatu yang secara umum dikemukakan penyairnya?”.
Subject matter yang dimaksud adalah seperti pengulasan pada setiap baitnya yang kemudian dibentuk paragraf atas pokok-pokok pikiran sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam puisi tersebut pokok pikiran antara yang satu dengan yang lainnya begitu erat berkaitan.
 
unsur puisi 3. Feeling
Adapun mengenai sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya disebut dengan feeling (Aminuddin, 1987:150). Feeling mungkin saja terkandung dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya pokok pikiran dalam puisi karena setiap menghadirkan pokok pikiran tertentu, manusia pada umumnya juga dilatarbelakangi oleh sikap tertentu pula. Maka akan timbul pertanyaan dari pembaca dalam menganalisis feeling, “Bagaimana sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya?”.
Pembahasan mengenai felling tidak akan terlepaskan dengan pembahasan sebelumya, yakni subject matter. Sikap penyair terhadap apa yang ditampilkan lewat puisinya tersebut akan tercermin ketika pokok pikiran penyair terhadap puisinya sudah diketahui terlebih dahulu.
 
unsur puisi 4. Tone
Tone mengandung maksud sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang ditampilkannya (Aminuddin, 1987:150). Hal yang demikian ini mungkin saja terjadi karena sewaktu penulis berbicara masalah cinta maupun tentang cinta itu sendiri kepada kekasih, penulis akan berbeda sewaktu peneliti berbicara kepada teman. Dalam rangka menganalisis tone dalam suatu puisi, pembaca akan berhubungan dengan pencarian jawaban dari pertanyaan, “Bagaimana sikap penyair terhadap pembaca?”. Jawaban yang diperoleh mungkin akan berupa sikap keterharuan, kesedihan, keriangan, semangat, masa bodoh, menggurui, atau pelbagai macam sikap lainnya sejalan dengan keanekaragaman sikap manusia dalam menyikapi realitas yang dihadapinya.
 
unsur puisi 5. Total of Meaning
Tingkatan kelima dalam struktur batin ialah total of meaning. Total of meaning (totalitas makna) adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam satu puisi (Aminuddin, 1987:151). Penentuan totalitas makna puisi berdasarkan atas pokok-pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair terhadap pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca. Hasil rangkuman itu akan menimbulkan totalitas makna dalam suatu puisi, yang berbeda dengan sense yang baru memberikan gambaran secara umum saja kepada pembaca. Bila menganalisis totalitas makna puisi, pembaca dapat menampilkan pertanyaan, “Bagaimanakah makna keseluruhan puisi yang saya baca berdasarkan subject matter, felling, dan tone yang telah saya temukan?”.
Menganalisis dengan tahapan ini, tidak dapat meninggalkan tahapan-tahapan sebelumnya, sebab tahapan sebelumnya merupakan suatu korelasi yang tidak dapat terpisahkan satu dengan lainnya. Karena sebelum mencapai tahapan total of meaning (totalitas makna) maka haruslah melampaui tahapan-tahapan sebelumnya seperti subject matter, felling, dan tone.
 
unsur puisi 6. Theme
Ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi itulah yang dimaksud dengan theme atau tema (Aminuddin, 1987:151). Tema berbeda dengan pandangan moral ataupun message meskipun tema itu dapat berupa sesuatu yang memiliki nilai rohaniah. Disebut tidak sama dengan pandangan moral maupun message karena tema hanya dapat diambil dengan jalan menyimpulkan inti dasar yang terdapat dalam totalitas makna puisi, sedangkan pandangan moral atau message dapat saja terdapat dalam butir-butir pokok pikiran yang ditampilkannnya. Dengan kata lain, bidang cakupan tema lebih luas daripada pandangan moral maupun message. Nantinya dalam menganalisis tema muncul pertanyaan seperti berikut, “Apakah ide dasar atau inti dari totalitas makna itu?”. Masalahnya sekarang, bagaimanakah memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan itu.
Theme juga demikian, merupakan sebuah kelanjutan dari telaah-telaah pada tahapan sebelumnya. Sehingga pada tahapan theme ini ide dasar atau pokok dari totalitas makna tersebut apa.
 
unsur puisi 7. Intention
Intention atau amanat merupaakan pesan atau tujuan yang hendak disampaikan oleh penyair (Aminuddin, 1987:151). Tingkatan ketujuh ini dapat ditelaah setelah mampu memahami pelbagai tahapan sebelumnya. Tujuan amanat ini merupakan yang mendorong penyair menciptakan puisinya. Amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun, dan yang berada dibalik tema yang diungkapkan. Amanat yang hendak disampaikan penyair ( skripsi-dan-draft-sastra )mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang disampaikan.
 
Struktur Fisik Unsur Puisi
      Adapun struktur fisik puisi yang terdiri dari unsur-unsur pembangunan. atau disebut juga dengan Unsur intrinsik suatu puisi meliputi berikut ini :
a) Tipografi (perwajahan puisi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
b) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69), menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu; penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik).
 
c) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti; penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu; imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
 
d) Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata konkret “salju”: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata konkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
 
e) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias dalam unsur Batin yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-macam majas antara lain; metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
 
f) unsur puisi Versifikasi, yaitu menyangkut / rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup; (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

g) Unsur puisi atas pengaruh kepenyairan_ :Suatu pandangan terhadap puisi yaitu teks adalah hasil dari pengalaman hidup manusia yang diserap oleh organ tubuh, sehingga melahirkan suatu pemikiran yang baru. Pengalaman hidup manusia dalam pandangan ke Penyairan mensikapi lima bagian yaitu; 


Pengalaman empirik Pengalaman empirik adalah pengalaman pribadi. Pengalaman ini menjadi pengalaman yang subjektif karena setiap orang memiliki pengalaman dan kadar rasa yang berbeda. Misalkan pengalaman putus cinta Amran dengan Utis akan berbeda, kadar kesakitannya pun akan berbeda. 


Pengalaman Sosial Pengalaman sosial adalah pengalaman hidup bermasyakat. Masyarakat ini tentunya berbeda, ada masyarakat kota dan desa. Kedua masyarakat itu mempunyai aktivitas yang berbeda, sehingga memberikan suatu pengalaman yang berbeda pula.


Pengalaman Mitos atau Legenda

Pengalaman mitos atau legenda ini akan menjadi refresentasi dari sebuah kebudayaan. Jawa Barat mempunyai legenda Sangkuriang dan Sumatra mempunyai legenda Malin Kundang, ditambah lagi dengan kekuatan-kekuatan orang-orang sakti yang bisa terbang atau menghilang. Secara langsung atau tidak langsung hal itu mempengaruhi pengalaman kita.


Pengalaman Sejarah

Pengalaman sejarah ini adalah pengalaman yang tidak pernah habis. Satu detik kebelakang adalah sejarah. Sejarah ini yang selalu menginspirasi penyair untuk menuliskan sebuah puisi.


Pengalaman Imajinasi

Pengalaman ini sangat berkaitan sekali dengan sastra. Ada yang dinamakan imaji yang liar dan imaji yang dangkal. Imajinasi juga bisa menjadi sebuah teknik untuk membuat sebuah karya (puisi).


Lima pengalaman hidup manusia di atas,  penyair mempunyai pengalaman dan ruang yang berbeda. Hal itu akan mempengaruhi semangat karya, kemudian ditunjang dengan bahasa serta kepekaan seorang penyair terhadap lingkungan. Selamat berkarya ...memperhatikan tingkah laku orang-orang di sekitar mu....sebuah gudang teks kukira.......... 

SUMBER PUSTAKA


Aminuddin. 2004. Teori Apresiasi Karya Sastra (cetakan ke-5). Bandung: Sinar Baru
Luxemburg, dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra (terjemahan Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia
Luxemburg, dkk. 1989. Tentang Sastra (terjemahan Akhdiyati Ikram). Jakarta: Intermasa
Algensindo
Pradopo, Rachmat Djoko. 2004. Pengkajian Puisi (cetakan ke-11). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga 

__________________
kupersembahkan untuk kemudahan adik-adikku (spesifikasi jurusan sastra bahasa) di HIMABAS STKIP , demi mengenal struktur dari unsur puisi , selamat menuliskan metafora...wassalam. Unsur puisi : skripsi

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar