Menekuri Dalamnya Jiwa Rahasia Ketenangan Batin

Kamis, Juli 11, 2013

Kedalaman jiwa secara esensial merupakan kondisi ruhani, sebuah ruang yang di dalamnya pernah terjadi percakapan sebelum lahir, ikrar atau janji, “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al Insaan, 76 : 1) hal yang semisal nilai suprasegmental yang kemudian meruang dalam kesadaran melahirkan kepasrahan perasaan dengan istilah "tawakkal" / sebenar-benar berserah.

Apapun tenangkan batinmu "Untung dan bahagia sejati adalah jika kita tahu bahwa kita tidak hidup terbuang di dalam dunia ini. Tetapi ada yang berkehendak terhadap kita, juga mencintai kita (yaitu: Allah SWT, nabi SAW dan kedua orang tua kita).by Buya Hamka.

Ketenangan Batin dgn Membebaskan Jiwa 
Jiwa berserah dgn implemetasi bahwa  ia tidak melihat subyek atau sesuatu selain  Allah Swt. Tak melihat yang lain sering pula di istilahkan ilmu "tauhid", mesederhanakan hal ini semisal frem kesempurnaan pada tekad :

“Tiada Tuhan selain Allah, sendiri tiada berserikat, milik-Nyalah segenap kekuasaan dan segala bentuk puja-puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Atraktif pada keadaan ini merupakan tancapan dasar yang melahirkan kondisi tawakal sebagai predikat yang memenuh / menguasai kalbunya. Pada akhirnya kita tak dimana dan tak kemana.

Maka kekuatan-kekuatan di dunia yang tidak mengandalkan penuh dari kekuatan Tuhan atau me-nomor duakan Tuhan belum pernah berhasil memahami apa yang dimaksud dengan membebaskan jiwa sebagai rahasia ketenagan batin.

Firman-Nya pula: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya?” (Q.S. Az-Zumar: 36).

Sebab dipahami era kini kebebasan jiwa / kemerdekaan dalam kehidupan kini, hasil pemikiran yang menyandera dan memenjarakan manusia dengan ekosistem kekuasaan, aturan-aturan pembebasan jiwa orientasinya pada materialisme beku dan kapitalisme yang tanpa batas. Sementara kekuatan sekunder dalam peradaban dunia, yakni Agama, yang sebenarnya merupakan alat pemberi harapan dan ketenangan hidup manusia – masih juga terbukti menambahi proses pembekuan, penindihan, penindasan, penekanan, yang sejatinya justru  menambah ketidak bebasan  manusia.

Kalimat adzan “hayya ‘ alas-shalah, hayya ‘alal-falah” menggambarkan suatu rekomendasi peradaban (hidayah, tuntunan), suatu dinamika tanpa henti selama kehidupan di dunia untuk mencapai ujung yang bernama kebebasan jiwa dan panggilan ketenangan batin jadi penuhilah. 

Kebebasan bukan “manusia bebas melakukan apa saja”. kebebasan bukan lawan kata dari keterbatasan atau keterikatan. Lawannya keterbatasan, adalah keluasan. Dan keterikatan justru merupakan salah satu yang sangat dibutuhkan oleh hakikat hidup manusia, Keterikatan pada janji atas kehidupan yang tegas dipandang kesementaraan untuk pulang kelak di akhirat.

Maka kebebasan atau pengetahuan jiwa dalam pencarian, adalah suatu keadaan di mana manusia yang terikat atau mengikatkan dirinya dalam batas-batasnya masing-masing, menjalani hidup dengan kewajaran, “alamiah”, tidak ada yang menekan dan tertekan, tidak ada yang memaksa dan dipaksa, tidak ada yang menghimpit dan dihimpit. Darah mengalir lancar, otot tidak kaku-kaku dan tegang, urat saraf pikiran tidak tertekan, hati selalu mempertahankan kelembutannya, perut tidak kembung, kepala tidak puyeng, perilaku mengalir dalam kewajaran dan dengan keikhlasan. Demikian juga kewajaran dan keikhlasan itulah yang merupakan hakiki kemerdekaan warga dari suatu negara, organisasi, keluarga atau kumpulan apapun, termasuk apa saja yang dialami oleh alam dari perilaku manusia.

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Q.S. Ath-Thalaq: 3).

Yang diperlukan oleh manusia untuk memasuki ketenteraman sejati itu bukan beban ilmu, kekayaan atau kekuasaan, melainkan kepercayaan, harapan terhadap Zat Maha Abstrak yang jiwa manusia rebah total pada-Nya. Ketenteraman sejati itulah simpul membebaskan jiwa yang sebenarnya, dan bukan freewill atau freedom of ini-itu yang justru sangat potensial untuk menindihnya, menghimpitnya, sehingga jauh dari kemerdekaan jiwa.


Rahasia Ketenangan Batin ~ Ilmu jiWa Agama

Manusia bisa mengalami ketenteraman jiwa selama tidur yang sejati, rahasia yang ia perlukan "prasangka baik pd Allah SWT", tarik napas pelan-pelan hilangkan hal membebani resapkan bahwa bahwa ada zat yang mengindahkan keadaanmu jadi baik, lapang. Dan hal terjadi sebelumnya tak diperkeruh oleh sesuatu hal yang dapat ia bawa ke-dalam mimpinya.

tak putus-putusnya berdendang atau mendengar keluh sendiri, 
merdu sekali bisik jiwa itu rupanya, hingga jantungku berdegup kencang 
memecah bising, lekas-lekas kuterjemahkan waktu -penuh pengertian, 
sebelum segalannya hanya terasa sepele

Meniti jauhnya jiwa sungguh sebuah bahasa paling bisu di dunia,
Yang dengan itu aku bebas matiiii atau hiiiiduuuup atau merasa tak pernah-
lahiiiir, ih….kemana ruhku ?
_____

Ketersingkapan sebab pahaman tawakkal secara tepat, merupakan ketersingkapan rahasia , ketika diperlihatkan banyak hal dimana dia tahu betul bahwa keseluruhannya bersumber dari lahir dan subyek yang Satu secara teratur, sebuah matarantai sebab-akibat serta keterkaitannya antara rangkaian keberadaan dirinya sebagai hamba, dunia tempatnya fitnah dan penerimaan keridhaan Allah atas taqdir baginya, menjadikan jauh dari kondisi keanekaan (atas perilaku dan keragamannya yang terikat yang sesungguhnya hanyalah satu), takjub pada sesuatu yang sesungguhnya tunggal. 

Ayat Al Quran tentang
 Rahasia Ketenangan Batin ~ Ilmu jiWa Agama

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S. Al-Maidah: 23).

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberi rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah.” (Q.S. Al-‘Ankabut: 17). 

Meniti jauhnya jiwa sungguh sebuah bahasa paling bisu di dunia : seseorang tenggelam dalam Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Benar Al-Wahidul-Haq, dengan kalbu yang tidak menoleh kepada selain-Nya, juga tidak kepada diri sendiri, sebab dirinya sendiri—dan sisi dia sendiri adalah pihak lain selain Allah. Bagi dirinya tidak ada nilai lain dengan melihat pihak lain (selain Dia). bersambung...___ (malam 3 ramadhan 2013) 
_____
Sangbaco. ulasan berbagai sumber , menjadikan catatan sebagai bacaan menekur jiwa, semoga item ini Rahasia Ketenangan Batin ~ Ilmu jiWa Agama, memberi manfaat

You Might Also Like

6 comments

  1. Gabung ki di Blogger Maros???
    kalau tidak, bisa ki langsung ke Web nya

    http://bloggermaros.com
    atau Group FB nya : http://www.facebook.com/groups/komunitasbloggermaros/

    BalasHapus
  2. setuju dengan Touya sebaiknya gabungki sama Blogger maros supaya jadi rame bisa saling mengisi satu sama lainnya sampai jumpai di Blogger Maros dan salam sama keluarga di rumah

    BalasHapus
  3. iyye sedang ku konfir tuh ke Ansari

    BalasHapus
  4. saya juga mau gabung tapi saya baru belajar nge-blog

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images