~MeNekuri jaUhnya jiWa__

Kedalaman jiwa secara esensial merupakan kondisi ruhani, sebuah ruang yang di dalamnya pernah terjadi percakapan, ikrar dan hal yang semisal suprasegmental, dalam nilai religi bagi umat Islam atraktif yang kemudian meruang dalam kesadaran melahirkan kepasrahan perasaan dengan istilah "tawakkal" / sebenar-benar berserah dgn implemetasi bahwa :  ia tidak melihat subyek lain selain Allah Swt. Tak melihat yang lain sering pula di sanding-simpulkan didengan istilah "tauhid", mesederhanakan hal ini semisal frem kesempurnaan pada  tekad : “Tiada Tuhan selain Allah, sendiri tiada berserikat, milik-Nyalah segenap kekuasaan dan segala bentuk puja-puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Atraktif pada keadaan ini merupakan tancapan dasar yang melahirkan kondisi tawakal sebagai predikat yang memenuh / menguasai kalbunya. Pada akhirnya kita tak dimana dan tak kemana.

BUKAN dgn kekasaran (x) bahasa menyebutnya:
 tanpa nama,  jazad, ruh juga tanpa kelamin.
 
Puisi (nih puisi ya ?)
Menekuri jauhnya jiwa
tak putus-putusnya berdendang atau mendengar keluh sendiri, 
merdu sekali bisik jiwa itu rupanya, hingga jantungku berdegup kencang 
memecah bising, lekaslekas kuterjemahkan waktu -penuh pengertian, 
sebelum segalannya hanya terasa sepele

Meniti jauhnya jiwa sungguh sebuah bahasa paling bisu di dunia,
Yang dengan itu aku bebas matiiii atau hiiiiduuuup atau merasa tak pernah-
lahiiiir, ih….kemana ruhku ?
_____

Ketersingkapan sebab pahaman tawakkal secara tepat, merupakan ketersingkapan rahasia , ketika diperlihatkan banyak hal dimana dia tahu betul bahwa keseluruhannya bersumber dari lahir dan subyek yang Satu secara teratur, sebuah matarantai sebab-akibat serta keterkaitannya antara rangkaian keberadaan dirinya sebagai hamba, dunia tempatnya fitnah dan penerimaan keridhaan Allah atas taqdir baginya, menjadikan jauh dari kondisi keanekaan (atas perilaku dan keragamannya yang terikat yang sesungguhnya hanyalah satu), takjub pada sesuatu yang sesungguhnya tunggal. 

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S. Al-Maidah: 23).

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Q.S. Ath-Thalaq: 3).

Firman-Nya pula:
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya?” (Q.S. Az-Zumar: 36).

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberi rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah.” (Q.S. Al-‘Ankabut: 17). 


Meniti jauhnya jiwa sungguh sebuah bahasa paling bisu di dunia : seseorang tenggelam dalam Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Benar Al-Wahidul-Haq, dengan kalbu yang tidak menoleh kepada selain-Nya, juga tidak kepada diri sendiri, sebab dirinya sendiri—dan sisi dia sendiri adalah pihak lain selain Allah. Bagi dirinya tidak ada nilai lain dengan melihat pihak lain (selain Dia). bersambung...___ (malam 3 ramadhan 2013) 
MeNekuri jaUhnya jiWa 2.

{ 6 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Blog Touya mengatakan...

Gabung ki di Blogger Maros???
kalau tidak, bisa ki langsung ke Web nya

http://bloggermaros.com
atau Group FB nya : http://www.facebook.com/groups/komunitasbloggermaros/

Cara Buat Blog mengatakan...

setuju dengan Touya sebaiknya gabungki sama Blogger maros supaya jadi rame bisa saling mengisi satu sama lainnya sampai jumpai di Blogger Maros dan salam sama keluarga di rumah

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

iyye sedang ku konfir tuh ke Ansari

Ratna Sary mengatakan...

saya juga mau gabung tapi saya baru belajar nge-blog

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

ok, kreeNn buat Ratna S

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar