Ramal adalah separuh sihir (Masyarakat Lampau Bugis)

Ramalan kuno "lagaligo" kitab sastra tertua dan terpanjang di dunia, ompu ahli nasab mengejut saat ari kaki bayi sawerigading membenam dalam lintas ramalannya, ucapnya sangat meyakinkan, “saudara kembar ini sertakan padanya tolak bala dengan  kekuatan penolakan cinta, mereka harus dipisahkan, ya dua saudara kembar dampit. Mereka saling mencintai bahkan sebelum lahir dan hidup mereka akan dibentuk oleh upaya yang sia-sia  untuk menghindari berbuat salah, cinta yang tak pernah berakhir. Sawerigading akan selalu terhela oleh senyum mempesona saudarinya, We Tenriabeng, yang kemudian mengirimnya pergi.”

Terdapat kebiasaan bagi masyarakat lampau Bugis meramal atas kelahiran bayi, maka mereka pihak orang tua mengharapkan sebagai usaha optimalisasi  perjalanan/ pengenalan hidup kedepannya bagi bayi tersebut, tentang mengetahui nasib buruk jika ter-isarat atau terbaca dalam ramalan dan mengambil antisipasi/ tawaran lebih baik. Jika di telisik dari latar-belakang peristiwa dalam kitab ini, maka penerapan ramal bagi masyarakat lampau Bugis masa itu adalah kebiasaan jamak, dalam masyarakat mengenal awal Watak dan tindakan kelak si bayi  dgn  keterpengaruhan  aspek kehidupannya kelak, segalanya.demi menyelamatkan dari "peristiwa buruk" _ sebuah cam pada ancang-ancang atau mawas diri dalam menghadapi gambaran masa depan dan implementasi hasil ramalan ini benar menuai konflik yang sangat besar jika saja sebab ramalan tidak di indahkan.  


atas perjalan panjang penuh onak dan duri, perang dan penghancuran, sawerigadingpun menemukan seseorang serupa dgn saudara kembarnya di negeri china ia bernama we cudai, namun cinta pada saudara kembarnya we tenriabeng tak lekang oleh waktu, ya hal tersebut mengantarkan taqdirnya pada kutuk ramalan yang dilanggar, perahu pinisi pertama di dunia dari kayu purba bernama welwrengnge (pecahan perahu) terdampar di ara (peneliti sejarah dan arkeologi mengindikasikan bahwa ara (kini) adalah kab Bulukumba sul-sel yg terkenal sebagai "panrita lopi "/ ahli membuat perahu pinisi._ refleksi bacaan lontara lagaligo (seadannya) oleh kaimuddin mbck

Ramalan kuno dapat mengimplemetasikan aspek  perjalanan negara, keadaan pemimpin , gejolak alam, yaitu berbagai bencana alam termasuk wabah dan penyakit , perubahan iklim dan geologis/geografis. Esensi ramalan adalah tanggapan / jawaban mengandung nasehat demi selamat sejahtera dengan berkah dari dewata seuwae', dan melanggar ramalan serupa melanggar norma-norma baku kehidupan seperti moralitas, tata susila , maka pelanggaran pantangan sebagai ketetapan sejak bayi adalah nista, terpuruk, tidak karuan.

Tradisi meramal bayi yang dilakukan oleh ompu dengan nasab tertentu, hal serupa yang terjadi juga bagi kaum Arab dengan  kaidah "innal irqa datzas...."bahwa ramalan ini serupa dengan rumput yang telah terinjak pasti membentuk bekas/ pasti kelak terjadi.., (kubaca) anggapan lain yaNg marak dalam dunia ramal terkait angka adalah no "4" mereka Bugis menyebutnya dgn "sulapa eppa" (kelak kita bahas lebih detail)juga adalah angka "21 ", malah sebab ini dianggap sebagai salah satu jurusan dALAm akademik atau bahasa krennya di sebut jurusan "astrologi", ini mi kapang /MUNGKIN yANg juga era kekinian melatar belakangi lahirnya film "destination" wallahua'lam bisshowab.?.....bersambung (kelak lebih kubenahi catatan sementara ini ) 
 _________
*tersebutlah ketika dua to manurung (Orang langit atau dari langit dan berada /tinggal di bumi) lahir kembar Sawerigading dan we Tenriabeng, hasil ramalan menunjukkan bahwa mereka harus di pisahkan sebab (pihak-karakter sawerigading) terbaca : memilik kemauan keras  menyukai saudara kembarnya.

* (Robert Wilson – Director Pementasan I La Galigo)
oleh Sang Baco pada 24 Juli 2011

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar