begini-begini saja tapi kau keterusan Rindu

"Begini-begini saja tapi kau keterusan Rindu"
Sederat kalimat yang tak semestinya dikatakan, terlebih jika harus diteriakkan,  tak ada kalimat "keterusan rindu ", terlebih di tengah era yang penuh ambisi diri ini, kerinduan itu telah beralih fungsi.kerinduan itu terhenti kamuflase kehidupan, kerinduan itu sub formal, ia berupa "kebijakan publik", kebaikan kesenangan yang hinggap di hati banyak orang.

Rindulah yang utilitarian : menyerahkan segalanya demi kesenanganmu.

tak ada apapun yang dinanti , ketulusan rindu bukan menegas pada rangkai hatimu yang misteri tapi menegas pada kata yang sering kita ucapkan saat upacara senin yaitu " begini-begini saja demi keadilan sosial, hal yang bukan karena kerinduan : kukira. Dan kemerdekaan yang kita rasakan kini sungguh tak memungkinkan tersertakan dengan perasaan rindu serupa dengan tak mungkinnya kita duduk berdampingan dengan para pembunuh, peng-korup dan setan di negara kita", < sederet cerita masalalu saat masih merasa muda/aktifis banget waktu itu. Tetapi hari ini adalah zaman pencerahan semesta, meskipun yang kita lalui tetap lorong-lorong yang banyak pintunya, pilih hingga pada akhirnya kita katakan bahwa "setiap pilihan selalu /pasti tepat", tetapi apakah ini termasuk pilihan hati atau suatu yang terjadi karena mengikuti kefitrahan...ah, laku kita juga susah ditebak baik dan benarnya, atau kita mungkin telah terkontaminasi dengan sistim hidup yang kita anuti secara mengalir. (catatan di 17 agustus 2011)

 Dalam rindu ini sebilah belati mencorat-coret wajah pada  atribut, wajah-wajah terjajar di tiang-tiang jembatan dan lampu jalan, sinyalemen “kota yang kehilangan tubuhnya sendiri”,  siapa yang bersetia padamu ?, tentu “bukan aku” dan rindumu bukan disini tempatnya..!!

Tetapi biasanya hati manusia kan selalu tiba pada keyakinan; bahwa kemuliaan insan terlahir dari "sikap mandiri ", jika membenarkan sikap tadi maka kita menerima hidup ini dengan terjemahan bahwa " Pola pikir umat manusia pada jaman kegelisahan justru harus diawali dari diri pribadi kita sendiri, demikian hal yang kusebut menarik dan dengan begini kau keterusan rindu, haha..ha... Dalam suatu sikap terkepal, membebas, terkristalisir pada era yang ada, dalam selaras spirit jaman, meluang keyakinan bahwa waktu/ segala kejadian di masyarakat ini sesungguhnya telah ter- pola pikir penuh dan tegas, ada (segelintir orang) bilang "hidup ini tetap merupa-kan  keraguan, sebagai tanda bahwa itu hidup..!"(dialog "jebak kontaminasi zaman dan perkembangan hati"__(masy A'lim lampau "jika Zaman sedemikian bobrok, dan sekaulitas tanpa tersadar, maka hijrah adalah pilihan, bumi Allah swt, sungguh luas  ").

Rindu begini : dan gejolak zaman tak komfromi,"kuharap kau baik-baik saja, termasuk memperlakukan sepimu", bahwa : sepi sendiri itu, berupa bisikan yang sangat halus saat ia menyelami dirinya sendiri. lihatlah lebih ke kedalam kemanusiaan, karena kedalaman kemanusiaan itulah yang sebenarnya memiliki keluasan yang tidak terbatas, lebih luas dari dunia luar kita. bukan pada ritme waktu yang lebay tentang  sepi juga bukan tentang sehat-sakitk pula atas dan bawah. Yah...sebab sayang maka keterusan rindu < tak mengapa : berkeraslah tetap mencari kabarmu di semua berita, agar dunia tak terus-terusan rindu padamu, haha..ha.., jika kau maklum maka hal ini bukanlah omong kosong belaka.

haloo..angkat topi buat lo, ya...begini-begini saja
Keterusan rindu tak menapikan perbedaan :Tetapi beda itu karena " kita bahkan kehilangan senja ini, tak ada yang melihat kita jalan bergandengan tangan, sementara malam yang biru ambruk ke dunia. Hentilah berbeda...!, dunia memang pariatif tapi : tanpa mengenal perbedaan dalam "kasih sayang", (kau tak perlu hijrah karena ini ya?), katakanlah sesekali...., atau panggillah aku dengan kata,"sayang....", jika itu membahagiakanmu.
_____________________________
~Kaimuddin,Mbck, Maros bete di Baruga Bantimurung  menunggu siswa apresiasi bentar malam, maka ya tulis-tulis saja : dalam "begini  keterusan ...Rindu"

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar