Catatan Sajak : Mati itu sekali tebas

"Pucuk-pucuk daun yang tiba-tiba gugur" : terlihat sangat berat,
harapan terdalam tentang gambaran hari esok adalah "keterlambatan, ketakutan dingin dan gelap",
kau tak melupakan peristiwa itu, tak ada pilar juga ruang, kau  lelah... menyesal...., bahkan terlambat
untuk bertanya,"mengapa mati ?",

Hanya satu kali itu saja...  menghayatinya
       : tak ubahnya seperti patung lilin,
         kau tercengang tanpa kata dengan tatapan kosong
         tetesan darah menitik dengan bunyi tik…tik, bagai titik air yang jatuh  
         dari keran, sangat hening, bahkan terlambat untuk...bernapas.

menggiringmu pada akhir cerita
Sedetik sebelum kematian, 
pertama kali kau keluar kan erangan, entah bermakna atautidak, kelihatan kau sedang bertaruh…atau coba lari ketempat yang paling jauh.
         
ketika kehidupan selesai pada tikungan gelap, dengan rupa tikaman tikaman yang darahnya mengucur tak kau hirau, jangan lagi berkata." Bolehkah aku mati di depanmu sekali saja?,

Sekedip saja episode ini....menelusupkanmu kelubang pori-pori
________________
kaimuddin mbck , dalam "Catatan Sajak : Mati itu sekali tebas" ilustrasi catatan "terbaring lesu lebaran Idul fitri ke Idul adha.

{ 2 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

indra anwar mengatakan...

tak tahu berkomentar apa, karena kematian adalah msiteri

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

ya...dan kita selalu dinanti, haha..ha...cepatki nikah sayang....

Posting Komentar