Bissu, Laki-laki feminim Berkekuatan Supranatural : Bugis Makassar


Bissu dalam pengertian Suku Bugis Makassar adalah : pemimpin upacara adat yang bersifatreligius dan ritual juga dgn tugas merawat dan mengatur alat alat kerajaan dan benda-benda suci yang dikeramatkan, penampilan seorang bissu serupa lelaki feminim yang juga kadang bekerja di puritan (tempat istana putri dan merawat benda-benda pusaka kerajaan, dan tambahan lain sebab penting adanya "ia bissu memahami bahasa langit atau dapat menyampaikan pesan kepada dewa di langit (dewata seuwae) Bissu dan waria (dalam pengertian modern) secara pisik memang sama, yang berbeda sebab bissu telah mati kelamin (tidak sebagai pria juga wanita) sebab ritual-ritual tertentu yang dilakukannya, asbab inilah mereka bissu terlepas dari tuntutan biologis dan lebih dekat hubungan /dapat berhubungan dengan dewa bahkan dianggap hubungan mereka tidak putus. Sedang Waria atau banci atau bencong adalah seseorang yang secara fisik terlahir sebagai laki-laki tapi ingin hidup sebagai perempuan. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan hal ini, bisa karena bawaan dari lahir, pilihan hidup, atau mungkin tuntutan profesi. 

keterangan gambar : kekuatan supranatural maggiri/ menusuk tubuh dengan badik pada bagian yang rawan leher, mata dan jantung tapi tanpa terluka / kebal

Dalam lacak jejak keberadaan bissu dan komunitas bissu pada masa lampau di Kabupaten Maros, sedikit berbeda dalam peran bissu di kabupaten lainnya, (Dalam lacak jejak crew Budaya Pappaseng), atas masa lampau peran keberadaan  Bissu lebih  pada penjagaan dan pemeliharaan kuburan-kuburan yang dituakan sebagai mana sumber mengatakan, "pada lokasi dimana kiprah bissu tersebut pernah beraktifitas yaitu di daerah kec. Simbang kab.maros,  re-aktifitas bissu ini teranggap memegang teguh tradisi dan peran sebagai pemelihara dan pelestari nilai-nilai budaya Bugis klasik". Sebagian diantaranya adalah pengungsi dari kerajaan Bone (mungkin efek dari pelarian saat penangkapan mereka oleh DI/TII saat akan dihukumi menurut aturan Islam). Dan sebagai tambahan bissu digambarkan sebagai manusia setengah dewa yang memiliki kekuatan Supranatural. Tambahan sumber mengatakan > "kadang-kadang dalam percakapan mereka sesama bissu terlebih ritual, Bissu  menggunakan seolah bahasa Bugis tapi tidak dimengerti oleh orang lain yang bukan bissu, atau semacam bahasa "arkhais". semisal 

Tudakko denra maningo, gojengaq denra mellettung,
tudakki mattule' tule', mattule' tule' tinaju'

Artinya :
dewa yang tidur bangunlah sambil berbaring-baring, jika perlu bangunlah duduk-duduk, duduk-duduk dengan tenang  
________________
naskah paddangeng Nrangeng, by Johan Nyompa,1985:27
*menanggapi teks bahasa Bugis arkhais tersebut maka aku hanya mengenal kata "tudakko" yang berarti : duduklah. selebihnya tak kukenali.

Bissu mencuci arajang/benda-benda kerajaan

Bissu dan supranatural: Mereka mendayagunakan hubungan dengan dunia roh dan bertindak sebagai media roh yang memasukinya. Setelah kerasukan barulah mereka dapat melaksanakan upacara ritual, seperti Maggiri sebuah ritual menikam diri sendiri. Bissu dengan tradisi transvestite-nya ( Laki-laki feminim yang berperan sebagai perempuan) juga dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno pra Islam. Mereka memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata dan para sesamanya. Keberadaan Bissu sebagai benang merah kesinambungan adat dan tradisi Bugis kuno juga masih eksis dimaros, “Butta Salewangang” ini di temui di jejaknya di kampung Bukkang Mata, adapun tradisi kesenian yang masih mereka gelar dikenal dengan nama “Mammaseri/pammaseri“. Sebuah tradisi hiburan rakyat yang sebelumnya digantikan dengan keberadaan orkes dangdut di era tahun 70-an.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar