Lontara Pattoriolong menyunting Marusu / Maros (Thn 1590)

Ke “Gedung KeArsipan dalam lacak jejak” menandai catatan Lontara Pattoriolong menyunting Marusu / Kabupatem Maros. periode tahun 1590. Teks Konflik masa lalu itu mengemuka seperti berikut ini.

1. Kendatipun, Orang Tak punya salah tetap dibunuhnya. (…manna taena salana taua ti’ring nibunoji) 
Penelusuran:
 
latar belakang peristiwa tentang kekejaman raja Gowa XIII “I Tepu Karaeng Daeng Parabbung”, yang membunuhi banyak orang meskipun seseorang itu tidak bersalah, di bawah kepemimpinannya ia memerangi Bone (kerajaan terbesar daerah Bugis), dan merubah sistim “se’re ata rua raja”, ke pengalihan tunggal penguasaan atas diri pribadi, Keterangan : sebelumnya kerajaan Gowa dan Tallo tetap satu adanya / kerajaan kakak beradik, tapi periode pemerintahan raja ini hanya menjadi satu raja / perubahan sistim). Para pendatang  asal Jawa dan Melayu ketika itu meninggalkan tanah Macassar, dikatakan pula pula dalam Lontara Pattorioloang bahwa semua anak raja melarikan diri, kecuali beberapa diantarannya termasuk karaenga ri Marusu “LoE ri Pakere’, dia adalah seorang raja tua yang tidak mempunyai/ memiliki keturunan. (catatan ,sementara Crew Budaya Pappaseng Maros).

2.Upacara Musim Panen Akbar di Lipukasi Maros 
Telusur jejak :
Menandai peristiwa di tahun 1590-1593, sekaitan dengan Upacara Musim Panen Akbar di Lipukasi Maros.Dalam catatan B.Erkeles, 1897“. Telusur jejak sejarah ini tuai paupau. Sebuah informasi  atau berita dari Uak Daming, berkata “ri moteranni mi anjo nia raja battu rate ri Gowa, ni tarai nampa ni buno rateang biseanna tonji…anjo mbunoai saribbattang passusuaanna tonji ni areng……dan seterusnya.

Tetapi yang menarik dari peristiwa ini adalah “Pesta Panen Raya yang di gelar di Marusu, dengan identifikasi daerah bernama Lipukasi”. Sebuah tanda masa lalu tentang kesuburan sebuah tanah juga sebuah kemajuan terhadap aspek pertanian dari sebuah masa lampau itu, kukira ini terkait dengan banyak hal sakral, misalnya pesta adat addengka ase lolo, (tradisi yang setiap tahun-nya masih terlaksana di berbagai tempat di kabupaten Maros, terlebih lagi di kampung Jawi-jawi dan Kassi kebo. Dan mantra-mantra a’lessoro ase, masih..…dst—(Cat. Sementara crew BP Maros)
__________
Referensi  : B Erkelens, 1890, op.cit: 7.
                  Uak Daming dan Ba Colleng Panjallingang

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar