hati yang tulis, hati pula yang baca

Pesan di sebuah esai : "Pahamilah keindahan citra hati yang tidak akan hancur, rusak, dan terhalang. Sesungguhnya keindahan alam menipu, sedangkan keindahan jiwa mengasyikkan”.
Tulis dengan hati ?, lalu lahirkan syair/teks, ya..., sedikit lebih susah ( org Sulsel melisankan "susah itu kodong"), atau tak tuk mudah menyerahkan pilihan kepada idiom atau kata sebagai perwakilan maksud dari hati, terlebih jika maksud hati ke bahasa, lebih lagi ke khasanah linguistik, segala sebab "tanggung jawab lahirnya teks". Ada pula yang memberi preposisi lebih terhadap bahasa bahwa : "cetusan bahasa itu merupakan usaha untuk menundukkan alam semesta...", berlebihan ya....?.

"sebegini tulis ..., sebegini baca ...,", hal inilah yang bikin heran, (kenapa lalu kemudian aku, juga orang lain terus menulis) padahal hasil tulisan lebih banyak hanya tata-an imajinasi, teman saya bilang (Uak Sena), "karena kertas mantonji / kertas aja yang mo nerima nih teks, sedang menyimpannya tanpa apresiasi bisa saja dia berkarat, haha..ha..", lanjut ia bilang " tapi meskipun saya tidak menuliskannya , otak saya juga tdk bakalan penuh".

Sekali itu, catatan hatinya menorehkan : seberapa jauh "kita", sedang sebuah berita kau tunggu, padahal aku hanya punya, secarik kertas kumal bertuliskan: "jaga dirimu, sayang, hidup begitu menggetarkan..."

esai : sebab hati yang menulis, maka hati pula yg m-baca-nya
tapi ranah ini dalam teman2 bergulat dengan penemuan teks yang baru / menurutnya "unik" (istilahku/ atau istilah siapa lah), melakukannya bukan hanya 'kesadaran akal' namun juga 'kesadaran batin', yang di bangun dari sebuah proses panjang, tentang pemenuhan menyampaikan hal secara jujur dan secara sadar bahwa hal tersebut menyebabkan keadaan semakin baik, sebab dirimu kebaikanmu adalah juga bagian dari diriku (sungguh kita satu tubuh) sebagai bagian yg harus di tekskan.

Benar bahwa pengalaman batin dan badan takkan pernah mampu kita jelaskan secara menyeluruh. Karakter inilah yang membedakan karya sastra dari produk laboratorium, karya jurnalistik, telaah sejarah, atau penyusunan biografi.

*terhadap penciptaan teks sekali itu ia jujur pada kekasihnya ; " Ketika aku konyol dan tolol, seluruh maumu tak kuindahkan sama sekali, alur sedang melambat sayang, ya..., kekurangan sedang berlangsung dan penuh kesan mengada-ada, tapi aku tak sempat ‘berbohong’pada keindahan yang harus kutanggapi dengan pengertian yang benar, saat rambutmu di gerai angin, meski : indahmu belum juga dapat ku teriakkan sayang....?

*Socrates berkata : ”Janganlah engkau memperhatikan wajahnya tapi perhatikanlah akalnya. Niscaya engkau akan tahu keburukannya.

Menulis untuk diri sendiri dan dengan rasa bebas untuk meluahkan apa yang terbuku dan apa yang tersurat dalam hati,  semestinya adalah  pengalaman-pengalaman terbaik dan indah meskipun untuk diri sendiri_ menambah kepercayaan diri akan seringnya kata tak tepat mewakili keadaan,  maka aku sering tak lupa memandang ke bawah dengan memberi judul " ya...tulis-tulis saja", agar merasa bahwa dimanapun aku ...maka kau tak luput ku serempet.haha...haha..ha..., menulis hati memang aneh....(kelak sambung__
kaimuddin mbck.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar