Apresiasi seni Kampus " Paling Bajingan "

*Sekelompok anak muda di kampus STKIP Maros dengan ledak kemerdekaan ,
Sebuah arus mengerang dipikirannya. arus hutan apresiasi penuh keliaran dan dengan terpaksa kita masuk kedalamnya, menemu bunga hutan, lalu memenuhi mata kita dengan warna/i  ulat bulu yang membesar bagai pelangi : mereka mahasiswa/i kampus ngajak "adik, kakak , bapak/ibu bahkan nenek-nenek kesenian di kabupaten maros, sul-sel, TUK singgah berekspresi pada "Pentas paling bajingan" di Aula yapim kampus
ft. "masy Seni Salima akustik"
Dialog dan Apresiasi seni Kampus : Bukan tentang surat cinta,  rindu kekasih, atau kata asmara dan puisi romantis, bukan semua itu...tapi hal tanda adalah  PEMBEBASAN DIRI, berkata "ini dan itu", juga bukan penunjukan pretensi aksioma atau ideologi, sederhananya berhentilah merasa diri jujur. Lakukan dengan mengatakan atau menuliskan "apa adanya", kukira refleksi tersebut sebagaimana udara melahirkan embun, atau air mengamplas kehalusaan batu, jika teks itu polos dan tulus.  Ketika kita mengatakan sesuatu yang juga memang harus ada misalnya "tahi, kentut,comberan, bajingan , lonte bangsat, terkutuk, dll", segalanya adalah teks bahkan puisi, katamu "kau juga primitive”,  tak apalah haha..ha..

Sore itu "arus di kantin kampus" : Gelombang cinta dunia sedang mengintip mereka tapi kukira duniapun terlalu cantik baginya, jejak yang coba terbekas hanya berupa tawaran dengan pendekatan teks. Teks yang coba cairkan beku dalam dinding lemari es mereka, sungguh mereka baru saja mulai menata satu-satu "" garis, titik dan tanda baca", sekalimat rindu sore itu didendangkan-nya : " sebab tak ada selain ini..., selain penjara sepi yang yang menjilat-jilat, seluruhnya adalah dingin, bugil bahkan persetubuh, aku terkubur sekali lagi lalu terlahir kembali sebagai kata dalam "Apresiasi seni Kampus "paling bajingan"

Pentas. Apresiai (temu mahasiswa banyak jurusan  dari sanggar-sanggar kampus) tegas "mereka  memulainya" tulis peristiwa, berbicara juga teriak atas segala terlihat, segala yang terdengarr dan terhayati dari kondisi masyarakat sekitarnya. mereka melirik : BBM, mengintip koruptor juga memberangus macet di jembatan Maros, juga ungkapan cinta yang sangat banyak. Tapi kenyataan menguat  pada luka sendiri juga pada keadaan yang memiskinkan mereka sebab "dunia kekuasaan", (kata sebuah apresiasi.....), katanya mereka disergap kesepian dan  membuatnya terasing dalam derap laju pembangunan yang gegap gempita...?. (kukira panitia dak kekurangan / nombok utang ,mungkin...?, kataku "itu sih..deita lo.., haha..ha..", tapi mereka membangun aura berkesenian itu pada (pementas) pemula SMP, SMA juga sebuah  wajah baru (hasil rekrutmen nggota) dari "Masyarakat Seni Salima", turut melngkapi bising-bising malam tadi, malam tak terlupakan dan sangat bajingan...,huahaha..ha.., hadir juga Muh.Ilyas chika, Husni Siame, Uak Sena, Ibu Sarnawiyah, Lori Hendrajaya, Alimin Ass, Penda, Ilham Halimsyah, Nyong, Acis djunaid, Maradja Temmadaeng, A. Hidayat, lembaga lontaraakustik KBM, Indra anwar, Mardianto,   dll (dan lupa lagi i...) (masih menunggu... wawan mattaliu.

kalo aku : nih apresiasi paling assik dan sangat bajingan
Petang dan pihak panitia ( Bechek dan Hajar Aswad, opiq pembangkang juga Pejuangkegelapan Sangserigalatua, Syamsul Bakhtiar Assagaf) ditemani penjaga kantin tersenyum : ketika " sarabba (bajigur) dan pisang goreng juga ubi goreng yang sangat banyak jumlah ". BUATLAH prediksi-prediksi yang lebih baik, bahwa esok kita rindu pertemuan seperti sebentar, haha..ha..sebab hujan lokasi acara di geser ke Aula kampus Yapim dengan dekorasi improvisasi yg dilakukan oleh anak seni rupa tersebut.

Bajingan kampus itu ber-apresiasi :
penafsiran terjadi dilakukan oleh audiens(pembaca) ber-kesesuai -an kemampuan dirinya atau gampangnya ia menelan bulat teks dan pandangan dari apresiasi malam tadi tersebut sesuka hatinya. semau-maunya, yang di pandu oleh Bechek dan Hajar Aswad*, dominan baca puisi malam itu menganulirkan sentuhan "ranah rasa", dan aspek ini  adalah  wilayah irrasional yang jauh dari logika dan rasa yang hanya dapat dideskripsikan (diinterpretasi) secara verbal-kualitatif, tapi mesti rumit gitu, itupun tidak selamanya kekal, karena suatu hari nanti akan ada tafsiran (resepsi) berbeda, and a acara selanjutnya....haha..ha..assik skali malam tadi (aku bisa gila-gilaan sejak 5 taon lalu dak pernah gitu)

Temu ini berakhir dengan  pesan "sipakainga dan siptokkong", apresiasi  (implementasinya ..
.... *indahmu sangat rasional ketika : aku yang membayar 2 kopi sedang kau membelikanku 2 bungkus rokok, dari sini  tampak angin mengusik diluar aula, di goyang-goyangkan seluruh pintu, juga panggung , kata panggung  "kau menggoyangku begitu keras, aku ini salah apa ? hah..!!". hentilah mengusap kepedihan, henti pula bertanya. sederhananya kita perlu temu ulang di kantin kampus ini....wassalam 
___
by kaimuddin mbck.

Apresiasi seni Kampus Paling Bajingan

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar