Pelajaran Unik Transenden Spiritual

Minggu, April 29, 2012

Transenden spiritual tak hanya aspek pemikiran dan batin tapi pula musik termasuk bagian dari suplemen pelengkap, berikut ulasan musik unik Spiritual lokal, yang digunakan sebagai latar musik yang mengiringi lirik lagu dengan pesan -pesan ber-nuansa religi, semisal dengan pesan-pesan keteladanan dan kebajikan. 


Obyek termaktub yaitu "Suling lontara" dari tradisi ", masyarakat To Balo Sul-sel, sebuah irama yang terasa sakral spiritual lewat irama instrumen dari suling lontara, di gunakan sebagai iringan saat lontara (sastra tua)  di bacakan, kegiatan ini termasuk ritual dan berniali pendidikan yang di resapkan dari pesan teks lontara tsb. Atraktif mengenalkan nilai lama  kearifan lampau  dalam menunjukkan kecakapan (gengang-gendong) dan peran pembinaan akhlak pra Islam di Sul-sel menguatkan pappaseng atau pesan-pesan amanah.

pelajaran alam transenden spiritual

Pelajaran Unik Transenden Spiritual
Pesan Kesadaran Moral : Spiritualitas  dari masa lalu, itu artinya kita juga bicara sebuah Psikologi Simbol dan Psikologi Kisah. Bagaimana pun, semua yang kembali dari masa lalu ini merupa dalam simbol dan kisah yang di dalamnya mengandung pesan atau nilai. Inilah sudut pandang penting yang perlu disadari. Hingga "Ri aherak sallang taua aklipak gauk ngasengi

Terjemahan: Di akherat nanti semua manusia memakai sarung perbuatan / Semua manusia bangkit dari kuburnya sesuai dengan perbuatannya di dunia.

Lantas, apa pentingnya kita membicarakan Simbol dan Kisah? Ada dua hal penting di sini: Pertama, manusia adalah mahluk yang hidup dan dihidupi oleh simbol,Kedua, manusia adalah mahluk yang menarasi. Masing-masing dari kita adalah sebuah narasi.

"Jarummako naikambe bannang panjaik"
Terjemahan: Jarumlah engkau dan kami adalah benang penjahit / sebuah kepercayaan penuh yang diberikan oleh masyarakat kepada kesadaran psikis/moral. juga harapan pada kepada  seorang pemimpin arif yang dicintainya. (dialog usai workshop "pengembangan musik  dan tari tradisi di kab. Pangkep)

Keberagaman siklus peristiwa yang terjadi di muka bumi, antara harapan dan kenyataan. sedih dan suka cita biasanya menjadi respon yang merefleksikan sikap kita terhadap peristiwa hampir setiap waktu, kita dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang mempertontonkan pertempuran dalam urutan statistik, karenanya dalam kilas balik kehidupan ini menggerus perlahan-lahan kelembutan hati kita. Sebagaimana di kuatkan oleh psikologi bahwa kelembutan sungguh lebih keras dari batu batu dan perkataan yang kasar atau perkataan yang akan mengasarkan hati, sebab kelembutan itu lebih halus dari sutera juga lebih tajam dari pedang.

Sufi dalam Transenden Spiritual (Penemuan Diri)
Agar suatu makna sampai pada tujuannya, dibutuhkan penuntun. Nah, penuntun inilah yang akan kita temukan dalam pembahasan temuan-temuan purbakala dan kaitannya dengan kebangsaan atau Indonesia. Barangkali di sini lantas muncul pertanyaan, penuntun menuju ke mana? Untuk siapa? Dari siapa?.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ijinkan saya mengutip kisah Syech Siti Jenar. Dalam Literasi Kurang lebih begini:

Seseorang bertamu ke rumah Syech Siti Jenar dan terjadilah dialog berikut :
Tanya: Saya mencari Syech Siti Jenar?
Jawab: Syech Siti Jenar tidak ada yang ada Allah

Tanya: Kalau begitu saya mau mencari Allah
Jawab: Allah tidak ada, yang ada Syech Siti Jenar.

Kutipan kisah itu sebenarnya kental salah satu prinsip sufisme: Aku mencari diriku dan hanya menemukan Allah, Aku mencari Allah dan hanya menemukan diriku.

Michael W. Fox, dalam buku Meditation with Animals, mengatakan bahwa saat ini kita nyaris kehilangan kontak dengan bagian dari diri kita sendiri, yaitu bagian yang resonansinya menghubungkan kita dengan mahluk hidup lain dan juga dengan alam semesta. Bagian dari diri kita ini sebenarnya memiliki kekuatan yang memampukan kita mengalami kesatuan spiritual antara keberadaan diri kita dan keberadaan segala hal lain di semesta. Kesatuan yang membuat kita mampu memahami bahwa di satu titik kita dan semua bentuk kehidupan berada dalam satu asal dan penciptaan.

Pencarian semacam inilah yang membutuhkan penuntun. Dan penuntun itu ada di sekeliling kita dalam bentuk simbol dan kisah. Artinya, untuk sampai pada makna, dibutuhkan pembacaan. Bacalah!, maka kau akan sampai pada kedalaman di mana makna ditemukan. 

Menakar Makna Spriritual
Lantas, sampai seberapa dalam suatu pembacaan bisa sampai pada makna? Kedalaman sebuah pembacaan, sebenarnya tak lepas dari seberapa dalam seseorang mampu mengakses dirinya sendiri. Ada sesuatu di kedalaman diri tiap orang, yang ketika banyak orang mampu menemukannya, maka akan membawa pada masyarakat yang lebih baik. Mengutip Lao Tzu, di situ dia mengatakan 

”Memahami orang lain adalah kearifan, memahami diri sendiri adalah pencerahan”. Di sinilah saya akan masuk pada topik utama saya yaitu bagaimana menemukan apa yang terdalam dari diri, atau di sini saya istilahkan sebagai citra Ilahi.

Reaktualisasi dari mengikuti kefitraha-an hati dalam kelembutan (terutama)/ ke-reaktualisasi) kasih sayang Tuhan, "seolah kau merasakan rahasia dunia-haqi, yang penuh dengan teka-teki. tapi a kau  berhasil memecahkan satu teka-teki-Tuhan, bahwa dunia ini ada dalam mainan jari-jemari-Nya, bahwa tugasnya melakukan apa yang kamu mampu, bahwa semua peristiwa itu hanyalah mengikuti kehendak-Nya (amanah > ketika kamu merasa pendapatmu tak didengar, ketahuilah bahwa kamu tengah belajar tentang cara menghargai_dan Allah adalah Basirah...yang memprioritaskan pada  kepentingan kebajikan dan maslahat-nya untuk orang banyak. "lettu ri parapiI nawa-nawa deE narapiI nawa-nawa".

Esensi dari simbol dan kisah selalu hadir sebagai pengganti dari sesuatu yang tak dapat hadir. Apa yang tak dapat hadir sehingga mewakilkan dirinya lewat simbol atau kisah? Jawabnya: Makna!. Ketika membahas makna, kita perlu waspada. Sudah terlalu sering orang menyampur-adukkan antara makna dan kebenaran. Makna sama sekali berbeda dengan kebenaran. Makna adalah sebuah kebernilaian yang membuat sesuatu, apapun itu, tak menjadi kosong belaka. Tapi, tak pernah ada sebuah kebenaran tunggal untuk makna, setiap makna meski datang dari sebuah simbol yang sama, ibarat surat, memiliki tujuannya sendiri-sendiri, Pakmaik bajik nibalasak santang, Terjemahan: Budi baik balasannya adalah nikmat

Obsevasi dan Revitalisasi Nilai Spiritual Lokal
Telusur nilai dalam segmen-segmen pentasilabik serta unsur-unsur lain yang terkandung berupa simbolik didalamnya tersusun dengan kecerdasan linguistik sangat khas sekaligus pariatif. Paling tidak, untuk mengerti bagaimana naskah lokal ini disusun dan ditransmisikan kepada generasi ke generasi, tentu dengan paparan wilayah linguistik yang mudah dipahami atau dengan istilah Bugis “Malomoi/masitta i’ risseng pakkielo’ na pasengnge namancaji akkatenningeng”.

Nilai spiritual lokal merupakan Jendra/ kefitrahan merupakan hal mudah  dipahami bagi masyarakat budaya lokal itu sendiri, sebagai kemuliaan atau sesuatu yang bernilai namun sifatnya imaterial, sesuatu yang samar. Bisa pula dipahami sebagai rongga dada, yang kerap dipahami sebagai gerbang menuju ‘rasa sejati’. Tampak bahwa pesan (pappaseng transmisi lokal) masih menjadi impuls kebaikan di tengah masyarakat.


Pendekatan dan Komunikasi Nilai Spiritual Terhadap Pembelajar
Demi kebersamaan melahirkan kembali kosmos kearifan budaya lokal ini, mari membawa diri kita sendiri ketempat berpijak, sejajar, sederajat pada keluhuran cita-cita, masyarakat lampau kita. 
Kebanyakan pelajar yang bermasalah menceritakan kesemua masalah UTAMA mereka kepada saya...,..tetapi mereka tidak pernah atau sangat sedikit, menceritakan masalah tersebut kepada ibu bapa mereka sendiri.

" bapak kami kemana ya sedang kami berminat dan apresiasi terhadap seni budaya,  tapi kami sama saja dgn di kerangkeng pak..jika tak ada prasarana tuk pemgembagan .... ttak ada gedung kesenian itu biasa pak.., tapi keringanan pajak untuk pertunjukan seni ?, haha..ha...(catatat saja bahwa  banyak sekolah tak mampu mengapresiasi pemblajara budaya lokal musik dan tari sebab,....."

Mendengar perkara-perkara tersebut di katakan oleh guru-guru pend,seni budaya,, tidak mngasyikkan, atau dilakukan oleh golongan dewasa sahaja, tetapi perbuatan tersebut bukan lagi perkara yang mustahil untuk dilakukan oleh pelajar sekolah pada zaman ini. cerita serba-sedikit mengenai pengalaman saya mengendali pelajar yang bermasalah, sebab mereka suka dan hidup dengan musik industri ala...*profil band korea_

Kesimpulan Pelajaran Unik Transenden Spiritual
Rekaman kehidupan masa lalu di sebagian negara  justru mulai menjadi tren atas kehidupan manusia masa kini, dan bagi negara semisal Japan maka pengejawantahan kearifan lokal sebagai ruang yang mesti menguat, kerja-kerja revitalisasi bagi telaah mereka dalam kaidah jepang mengatakan "ilmu lokalitas nenek moyang di anggapnya  sebagai kerja cinta yang jika kamu mencarinya, dia akan menghindarimu, tapi jika kamu jadi orang yang pantas dicinta, dia akan mengelilingimu" __ Penulis Kaimuddin mbck (item : Esai Dunia pendidikan ke Pelajaran Temuan situs-situs Spiritualitas)

~~~~~
Sangbaco.web.id_April|29|2012
Pelajaran Unik Transenden Spiritual_Judul Esai

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images