Kekuatan Pesan Amanah suku Bugis Makassar

Meneropong pengetahuan kearifan lokal bagi suku Bugis Makassar, dengan menguatkan nilai-nilai ideal yang dilontarkan dalam makna Pappaseng/Pappasang diskursuskan dan terharapkan menjadi keteladan pewarisan dalam mengimbangi perilaku kedurjanaan zaman dari sebuah kultur asing yang negatif, sebab keduanya tampil bersamaan terpampang dalam realitas waktu kehidupan. Paseng menjadi nasehat menelusup dalam karakter masyarakat Bugis-Makassar, perihal yang telah jauh terjadi / pra pahaman Islam sebagai etape ke-dua yang bersinergi membentuk pola-laku/ keteladanan dan paham.

"Tradisi adalah rumah kita sesungguhnya, rumah yang tak muncul hanya karena kita menyembunyikannya di balik berbagai rumah kaca, padahal tradisi adalah rumah susun dari kristal kearifan. , menantang kita mengasahnya._

Perlawanan radikal terhadap perilaku durjana pun bakal terjadi,  keberadaan paseng/pasang (amanah sastra lampau masy Sulawesi Selatan) menjadi penetrasi terharapkan berdiri membentuk benteng kokoh, atas ketersambungan kearifan lampau pada masyarakat pendukungnya. berikut kaidah dalam teks paseng berikut ini meng-isaratkan nilai atraktif kecakapan  kepribadian dalam menilik hidup sebagai tujuan kebaikan.

semangat bahari bugis makasar direlief candi borobudur
*Naia riasengage’ to warani maperengnge’ nare’kko moloi roppo-roppo ri laommu, rewe’ko paimeng sappa laleng molai…”. (Artinya : Yang disebut orang berani ialah yang kuat dan unggul bertahan, jikalau engkau menghadapi rintangan berat yang engkau tak dapat lalui atau atasi, kembalilah memikirkan jalan atau cara untuk mengatasinya).

Penguatan teks pappaseng bagi suku Bugis-Makassar, menyibgah salah satu butir menjadi  pangngaderreng/pangngadakkang (hukum adat), maka menurut Saleh Lahade, Pappaseng/Pappasang, sebagai salah satu sila dalam pangngaderreng: lahirlah apa yang disebut kekuatan atau dinamika kebudayaan tradisional orang Sulawesi Selatan.

Pappaseng menyunting kesehatan
Nakko pura manre, aja mu terru' matinro, maloppoi palompong ta' (Selesai makan, jangan langsung tidur akan membesarkan (diafragma) antara dada dan perut)
Makna: Pada dasarnya urutan tata letak organ saluran pencernaan adalah dari atas ke bawah: mulai dari mulut, tenggorokan, lambung, usus kecil, usus besar hingga anus. Jadi, organ pencernaan akan bekerja lebih baik bila tubuh dalam posisi duduk. Posisi tidur akan menghambat proses pencernaan. sebuah kesamaan lahirnya kalimat bijak atau pepatah dalam masyarakat juga terjadi di Negeri Tirai Bambu. 
Uniknya mereka, pepatah China, yang biasa dikenal sebagai Chinese wisdom ini lebih beragam, dan mencakup segala aspek kehidupan. Salah satunya kesehatan. Ingin tahu...?, telusur awal anda pada pappaseng /pappasang saja dulu..... Usap-usaplah perut setelah makan Makna: Banyak sekali titik akupunktur yang berhubungan dengan saluran pencernaan di daerah perut. Mengusap-ngusap perut usai makan, sama halnya dengan merangsang titik-titik akupunktur tersebut sehingga membantu organ pencernaan bekerja lebih baik.

Pappaseng ke perilaku sosial
Kalimat deklaratif dari Pappaseng/Pappasang ini dengan kosa kata de e narapi nawa-nawa adalah sinyalemen untuk mendeskripsikan reso (semangat tinggi), berfungsi sebagai alat pendidikan bagi generasi muda manusia Bugis. yang terjemahannya : berangan-anganlah hingga tak terjangkau angan-angan. (disampaikan oleh panrita/agamawan).

Menurut Abdul Kadir Parewe : “ Para pi’ nawa-nama adalah sebuah keinginan dari penutur agar masyarakat senantiasa menggunakan tenaga pikiran dalam menciptakan atau menemukan hal-hal baru (inovasi), atau sebagai manusia perlu memelihara pikiran-pikiran yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangun salah satu hukum terbesar di Semesta, dan itulah hukum tarik-menarik. Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan demi kemaslahatan orang banyak. Tendensi dalam pappseng ini sebagai bentuk pelahiran tokoh (to macca), pada generasi berikutnya. Keinginan pada kelahiran tokoh ini adalah simpul kuat yang terkait dengan salah satu butir dalam pangngadakkang yaitu rapang (suri teladan).”

Aja muttudang riolona babangE, nalawai timpa'na parekkusemmu ( JANGAN duduk di depan pintu, nanti jauh jodoh!)
Implementasi : Mitos ini mungkin sering dilontarkan ibu agar Anda tidak menghalangi orang melewati pintu. Hal ini bisa bikin bertanya, apa hubungannya antara pintu dengan jodoh? Tapi, dipercaya atau tidak, kalimat bijak semacam ini telah berlangsung turun-temurun, dan dianggap manjur dalam mengajarkan nilai-nilai kebaikan.
tradisi bercerita, sebab kebiasaan ini sudah dikenal sejak manusia ada di muka bumi ini, jauh sebelum mereka mengenal tulisan, ya..sebuah bentuk penanaman nilai terhadap anak didik lewat tradisi tutur / cerita rakyat, diyakini sebab penelitian menunjukkan bahwa nilai -nilai moral yang tertanam lewat cerita pengantar tidur tersebut, akan melekat sampai dewasa, hal ini berkaitan dengan salah satu manfaat pemelajaran sastra dalam membentuk watak peserta didik. Cerita rakyat bagi masyarakat lampau kab Maros, menyebutnya dgn istilah "Paupau Rikadong", sebuah keinginan dari pelaku/penutur cerita untuk mengekpresikan gagasan, ide-ide, juga sebagai sarana penting untuk memahamkan dunia kepada orang lain, menyimpan, mewariskan gagasan dan nilai-nilai tersebut dari generasi ke generasi berikutnya.

dalam Pau-pau rikadong atau cerita rakyat sebagai pengantar tidur tersebut, upaya menyampaikan sikap, pandangan, dan nasihat dari kemampuan penutur dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmani pendengarnya, dapat juga terkatakan sebagai jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal keberkembangan elemen ini penting untuk memperkuat kohesi sosial di antara warga masyarakat

*Parikadong dari kab.Maros, dalam lacak jejak di kelurahan Bontoa, berjudul "si Pue Pue", dipublikasikan pada tahun 2007 dalam acara “Festival Budaya Kelong-Kelong dan Dongeng )”, yang digelar oleh Departemen Pariwisata Propinsi Sulawesi Selatan, dan tahun2 berikutnya menyusul Toakala dan Pangulu lading. pada moment yang sama.*link terkait :

Buku berjudul "Kearifan Budaya Lokal; 
Hasil penelitian budayawan Kab. Maros Kaimuddin Mabbaco, dengan sub tema Membangun Moralitas Bangsa Sekaitan Kebijakan Pendidikan di Sulawesi Selatan. "Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Andadi lima tahun mendatang, kecuali dua hal : orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. – Charles “tremendeous” Jones__buku yang harus dibaca bagi semua pencari serius tentang pemahaman " aksentualisasi kearifan lampau Bugis Makassar, dalam penjabaran maksud paseng/pasang dipertanyakan : dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi – dan kekuatan kita sendiri untuk mempengaruhi budaya bugis makassar terancam hilang
sosialisasi pesan / amanah suku bugis makassar ke sekolah dalam penguatan kurikulum budaya lokal
"pamali/ pemmali", "Pemmali pilai bolae narekko de'pa napura bissai penne angnganrengnge" (dilarang meninggalkan rumah (untuk perjalanan jauh) sebelum piring yang digunakan untuk makan, dicuci terlebih dahulu). kata "bissai penne", dalam ungkapan pemmali ini apakah hanya berarti "cuci piring" , sebab dalam sinyalemen pengunaan kata bissai penne ini dapat juga berarti memperlakukan wanita/istri dengan merawatnya[1], setelah berhubungan badan, menuju sikap verbal pada penggalian nilai-nilai budaya tutur, untuk sebuah kearifan lokal, tentang………………. Mengapa

Pesan : Pamali /Pemmali ? Oleh Kaimuddin Mbck.
Ekspresi budaya "pamali/ pemmali" sebagai salah satu sikap tutur budaya Bugis-Makassar, merupakan ungkapan yang bersifat spontan, sebagai bentuk pelarangan dengan penekanan pada kejiwaan , untuk tidak melanggar yang di pemalikan (diappemmaliang). Pemmali terkait erat dengan pappaseng , oleh pengguna bahasa / penutur, setinggi apapun pappaseng sebab merupakan nasehat hidup atau pelajaran hikmah yanglahir dari penjelajahan hidup yang disampaikan lewat karya sastra , dan merupakan salah satu nilai ekspresi budaya suku Bugis-Makassar [2] tetapi pemmali, juga sebagai sebuah pesan, memberi efek yang berbeda dengan volume pelarangan yang sangat menekan, sebab diikuti dengan sanksi (meskipun bentuknya terkadang gaib) sebagai contoh, kami paparkan seperti dibawah ini: "Pemmali pura manre nappa matinro, menre I' salompongnge". "pemmali mangngesso ase riwettu makkumpe' na ellungnge" "pemmali tawwe matinro moppang, magatti I' diwelai indo' "Enre manekko ana-ana, nasaba Mangngaribini, enrara I' setangnge" "Tempeddingi tewwe tudang riolona tange e', monroko lolo bangko" Pada masyarakat lampau sifat pemmali ini secara umum teraplikasi dengan baik sebab menjadi timbangan yang istimewa dalam mempengaruhi emosional lawan bicara (reseptor /audens) sehingga menjadi kemestian untuk tidak melakukan yang bersifat larangan(harus diindakan) meski dengan tidak rela / terpaksa mengikuti.

ekspresi budaya pemmali 
Apakah pemmali perlu diperhatikan karena erat kaitanya dengan budaya “siri” atau budaya tutur dalam Islam[3], atau terdapat korelasi dengan hukum tertentu secara tekstual (pandangan agama Islam) ? (jika tidak diindahkan maka berdosa (bassung=kualat) atau ia mengalamai premis atas pelemahan /dapat pula terjadi atau terkena kecelakaan- kecelakaan. Kedekatan ekspresi budaya "pamali/ pemmali", bagi masy Maros. Salah seorang tokoh masyarakat di Kab.Maros, SM Alwi Assaggaf, mengaitkanya sebagai salah satu bentuk nahwu (Ilmu Tata Bahasa Arab), sebagaimana dibawah ini. “Pemmali = kata terapan dari bahasa Arab dari kata "Fiil Madi" (kata lampau), sebab dalam perkembangan hubungan sosial dan adab kita, sesuatu yang diappemmaliang jika dilanggar lebih sering terjadi efek buruk. 

Seperti pada kalimat dibawah ini, "Pemmali pura Manre nappa matinro, menre I' salompongnge". (dilarang langsung tidur setelah makan, sebab ulu hatimu dapat membesar) ia lanjut mengatakan bahwa Rasullullah S.A.W mengingatkan kita untuk berjalan 40 langkah minimal setelah makan”, dan sumber lain menyampaikan,“Diappemmaliangngi gattung lipa ri ellongnge’, mate maddarai tewwe (dilarang menggantung sarung pada leher biasanya orang mati berdarah) – memadukan baju dengan sarung sebagai kostum hari-hari bagi lelaki Bugis-Makassar adalah tradisi, yang menjadi pelarangan ketika sarung itu digantung ke leher, sinyalemen keburukan ini di indikasikan oleh Andi Radja Karaen Nai’, sebagai bentuk kelemahan ketika dengan mudah musuh menarik sarung sehingga obyek penderita tersebut terjerat lehernya. 

Meskipun menurut Uzt. Amin, Lc.[4] "sesungguhnya, dalam syariat dan budaya Islam tidak dikenal yang namanya pemmali, dan pelarangan secara tekstual dalam masyarakat Islam hanya mengenal hukum yang terbagi kedalam tiga bagian yaitu : Halal, Samar-samar (subhat) dan Haram ", ia lanjut mengatakan " yang sedikit dekat dengan Pemmali secara substansial dalam budaya tutur kita adalah makruh, sifat hukum " taklifi" berupa pembebanan , dan tentang “ Fiil Madi” sebagai kata kerja berbentuk lampau, berimplikasi sebagai hal-hal yang sudah terjadi (dan jika terjadi hukum kausalitas –sebab pelarangan karena merusak etika kebudayaan dan tidak bertentangan dengan hukum syariat ,teranggap perlu juga diperhatikan sebab sebuah kaidah ushul fikhi “Al ada'tul Muhakkamatu “ terj –adat istiadat itu bisa dijadikan suatu hukum dengan catatan sejalan dengan tujuan syariat, dalam mengurai upaya mendapatkan makna dan apresiasi karya sastra, memang setiap orang diberi kebebasan menafsirkan teks-teks sastra tersebut. Hanya, hasil penafsirannya belum tentu mencercap makna yang diinginkan secara utuh sebuah era zaman, namun inilah revitalisasi sederhana itu, Wallahu a’lam Bhisshawab.
 ___________________
 *Daftar Pustaka Mabbaco, Kaimuddin, 2009, Perilaku Verbal di kab.Maros, Sulawesi Selatan Penelitian yang dibiayai oleh Dinas Pariwisata dan Budaya.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar