Ritual dalam Tari Paraga Sulawesi Selatan

Paraga atau memainkan bola raga dengan konstruksi bola berpindah-pindah dari kaki-kekaki adalah aktualisasi gerak bermain atau keadaan senang atau dalam bahasa Makassar dikenal dengan istilah a’rannu-rannu dengan bermain bola raga. Perihal ini merupakan kegiatan yang   dilakukan ketika waktu senggang usai pulang berburu, berladang, juga mencari ikan dan lain-lain. Pengejawantahan dari waktu senggang ini sekelompok anak mudapun mulai memainkan bola dari bahan rotan tersebut. Aktualisasi ini pun pada ruang waktu kemudian menjadi tarian hiburan persembahan, awalnya demikian. Seiring perkembangan estetika gerak dan keperluan dalam aspek hiburan maka kebiasaan ini meruang menjadi "Tari Ma’raga", lalu kemudian sempurna menjadi, tradisi ritual dengan emulsi mistik doa-doa dalam melengkapi prosesin tradisi ritual maraga ini sebagai nama tradisi yang turun-temurung. Pada masyarakat budaya lampau Bugis Makassar  tradisi Ma’raga  ini dengan atraksi  estetika dan penguatan ritual menyebabkan kegiatan ini menjadi tradisi yang tercampuri dengan ritual (pada prosesi awal). Kemudian atraksi ini berkembang dengan  digelar untuk menyambut tamu-tamu dari kerajaan lain sebagai ekspresi.

Tarian ini dimainkan oleh 6 orang laki-laki dengan pakaian adat passapu`, dipadu dengan baju kantiu dengan celana barocci, yang diiringi dengan musik tradisional ber irama manca (semacam ketukan cepat yang mengiringi acara pencak silat), segalanya untuk memperlihatkan estetika hiburan keterampilan/atraksi dalam memainkan bola raga (bola takraw).

Tari Paraga Sulawesi Selatan

Atraksi ini menarik perhatian penonton. Pemain dengan lincah memainkan bola raga sambil berdiri di atas pundak 2 orang rekannya. Ia mampu menjaga keseimbangan sambil menendang bola raga tanpa menyentuh tanah. Peralihan gerakan bola takraw secara bergantian semua mendapat giliran kendatipun penari sedang memanggul temanya, dan gerakan lain diluar perkiraan, ketika ia  memasukkan bola raga ke dalam sarungnya melalui tendangan.

bola bayangan : ritual
Prosi ritual dibalik Ma’ raga, menurut H. Sese  Sangalinna, Pembina tari Ma’ raga, “bola takraw tersebut dianyaman dengan bahan rotan hingga menjadi tiga lapis, adapun iktikadnya, “ampedecengngi makkatenning ri lempu’e, nasaba puangge passabakeng” (bahasa Bugis, terj; berilah persangkaan baik dan keberpegangan pada kelurusan, karena Tuhan adalah segala sebab), setelah selingan, lanjut ia mengatakan “ bahwa bola yang kami pakai bukan lah sesungguhnya bola, tapi ia adalah sebuah bayangan dari bola yang sesungguhnya”. Ungkapan selanjutnya ia sampaikan berkelakar “pandangan penonton disaat kami pentas/atraksi,  personil tari hanya 6 orang tapi sesugguhnya kami bermain dengan 7 orang, yang menyebabkan bola tak bisa jatuh dengan trik apapun memainkanya”.

Sumber lain mengatakan -Andi Fachri Makkasau (Sejarawan Lokal Kab. Maros), mengungkapkan “ sebelum aksi Ma’ raga, bola takraw tersebut diangkat keatas gentong yang penuh dengan air, kemudian bola asli di dekatkan dengan air sehingga bayangan bola kelihatan diatas permukaan air, dan bayangan bola tersebutlah yang digunakan untuk atraksi”, lanjut ia mengatakan “bahwa pementasan Pa’raga ini pernah dipentaskan pada acara apresiasi Budaya Sulawesi Selatan 1995, proses itu dimulai dari Lapangan Karebosi kemudian mengelilingi Makassar hingga tiba kembali ke Lapangan Karebosi tanpa bola takraw tersebut pernah jatuh, meskipun atraksi ini  diselingi dengan assisoppo-soppo (salin bersusun dan menaiki bahu dengan peralihan bola yang  atraktif)_ referensi >*Kaimuddin Mabbaco, "Kearifan Budaya Lokal", PT. Pustaka Indonesia Press Jakarta
_____________
Sumber dari :http://www.sangbaco.com/.  
*buat teman & sahabat Blogger yang beretika tampilkanlah sumbernya ya... 

Incoming Search 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar