Pelacur : prostitutes interview (2)

*Additional notes " in the social construction of a whore " an interview 
PSK di kolong jembatan, pada tanggul, di semak-semak bahkan di pasar swalayan atau dikuburan Cina seperti halnya di Surabaya. atau di negara maju seperti Italy : hal ini mirip –mirip saja …..malam remang dan perempuan cantik itu seperti kemarin menjajahkan tubuhnya kepada banyak lelaki, sesi "ketidak acuhan emosional atau untuk sebuah pembayaran", Jelas bahwa dalam hal ini kriteria ekonomi semata juga memang tidaklah memadai. 

Pelacur adalah konstruksi sosial
Kita juga tidak bisa mengatakan bila hubungan intim dalam sebuah ikatan resmi sama sekali bebas dari tindakan pembayaran. Banyaknya tarik menarik mengenai konsepsi pelacuran, maka oleh banyak pembuat definisi > setiap konsep tidak selalu bisa diterapkan pada semua kebudayaan masyarakat. Semua bergantung dari etos budaya yang terdapat di pusat konstruksi sosial norma-norma seksual . 

Pelacur adalah konstruksi sosial

Tapi, bagaimana dengan kasus ketika seorang perempuan melakukan hubungan intim dengan banyak lelaki (tanpa ikatan resmi), namun ia sendiri melibatkan unsur emosional dan menerima bayaran?. Pikiran merdeka saya mengatakan . Toh, berdagang pun saya tidak sembarang...

 jiwa ini menyimpan sunyi yang 
terlupakan jiwa-jiwa yang mencari diluar pahaman di-
balikkotak-kotaK malam yang kaku

Pelacur sebab jenis kelamin
Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang sudah terjadi sejak zaman primitif, menyebabkan pelacuran menjadi realitas yang tak mungkin terelakkan. Tugas perempuan diarahkan untuk melayani kebutuhan seks lelaki. Sedangkan kaum feminis menjelaskan bahwa penyebab terjadinya pelacuran karena kuatnya sistem dan budaya patriarkhi. Sementara kaum marxis menganggap pelacuran merupakan resiko dari sistem kapitalisme.

Aku bukan pelacur : aku hanyalah menjual keahlian untuk sesuatu yang tak berharga. Aku hampir serupa dengan seniman yang mempunyai potensi besar di bidangnya, namun lebih condong membuat karya-karya yang sifatnya komersil. Ini kan persoalan “aku mengorbankan idealisme ?. Di dalam etika kristen juga terdapat makna pelacuran yang lebih luas, yakni tindakan penyembahan terhadap dewa-dewa lain selain Allah. Hal ini dijelaskan dalam kitabYehezkiel pasal 23 dan kitab Hosea (1:2-11). 

Pelacuran : 
Menggemeskan juga memburukkan
aku haram, hina, juga sampah masyarakat, 
aku perusak moral, penyebar berbagai macam penyakit , 
juga bajingan, (dll) dan lupa lagi.

Pelacur solusi problema sosial
Sesuatu yang ironi memang, ternyata di tengah stigma yang disandangnya, pelacur juga dibutuhkan, dan sebagai solusi dari sebuah problem sosial untuk mengurangi kasus-kasus pemerkosaan di tengah masyarakat  (whaatt....?). Anggota masyarakat yang menggunakan jasa pekerja seks sama sekali tak menanggung stigma seperti yang dikenakan pada pelacur. Ditengah kebisingan dunia akan perihal dirinya, pelacur itu menarik napas sangat dan dengan suara lirih maka 

pada malam-malam tertentu aku
 tak ingin ada suara kecuali 
detak jantungku untuk 
mengukur kesunyian

Pelacur solusi problema sosial

Pelacur kadang ditempelkan sebagai sejarah... tua... ditemukan di negara-negara kuno seperti India dan Babilonia Kuno (Dam truong, 1992:20). Waktu itu tindakan pelacuran identik dengan berbagai ritus keagamaan. Sebagai contoh di Babilonia Kuno, perempuan-perempuan yang berafiliasi dengan monumen yang dianggap keramat, seperti candi, melakukan hubungan seks (melacurkan diri) dengan para pengunjung tempat tersebut. Hal ini sebagai wujud pemujaan atas kesuburan dan kekuasaan seksual para dewi. Untuk hal tersebut diberikan sumbangan untuk candi. perempuan-perempuan yang menjajahkan dirinya diberbagai tempat, dan penghasilannya diberikan kepada pendeta untuk kepentingan kuil. Mereka dikenal dengan istilah “pelacur kuil” (temple prostitutes). 

tapi tak seperti biasa, yang
 kau lihat itu bukan air mata
 tapi .......darah
yang hendak........
muncrat

aku bunga kering di pinggir jalan, dan 
jika malam-malam datang wangiku mengundang kuntilanak serta tuyul 
kelopak-ku “meneteskan air kehidupan” 
muntahilah aku… . 
Pelacur Berkelas
Di Jepang terkenal dengan Geisha, perempuan penjajah seks yang dibekali dengan berbagai kemampuan seni, seperti memainkan bermacam alat musik, menari, berpuisi, dan lain-lain. Geisha berasal dari kata Gei yang artinya seni, dan Sha yang berarti pribadi. Budaya Jepang menganggap Geisha adalah artis. Perempuan-perempuan yang menjadi Geisha memiliki latarbelakang kelas yang beragam. Namun, pengaruh sosial dan hak istimewa yang mereka dapatkan tergantung juga dengan pria siapa mereka melakukan hubungan. Dari contoh tadi kita bisa melihat, demi kepentingan-kepentingan tertentu, seperti kepentingan keagamaan dan penguasa, pelacuran tidak dicerca melainkan menjadi sesuatu yang dihargai. 

Rowbothan “pelacur hegemoni kultural “
Berpendapat bahwa istilah pelacuran merupakan perwujudan dari hegemoni kultural. Pemisahan antara istri (perempuan terhormat, gundik (perempuan piaraan), pelacur (perempuan sundal) tak lain demi kepentingan dominasi pria. Karakter Diva, berkaitan dengan pendapat tadi bisa dikatakan sebagai media pengarang untuk melawan hegemoni kultural tersebut. Diva berprofesi sebagai peragawati kelas atas. Imbalan yang dimintanya setiap kali naik panggung jumlahnya tidak sembarangan. Di samping itu, ia juga selektif dalam memilih acara. Bahkan, hanya majalah-majalah bona fide saja yang bisa memamerkan foto-fotonya. Standar tinggi tersebut sepadan dengan profesionalitas dan disiplin yang dijalankannya. (dalam Dam Truong, 1992:17) perempuan malam pekerja keras dan konsisten dengan pekerjaannya. kenyataan yang sudah menjadi rahasia umum dalam kehidupan kota metropolitan, banyaknya model yang juga berprofesi sebagai wanita penghibur. Pelacuran terselubung kelas tinggi yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu, yaitu mereka yang memiliki kemampuan ekonomi mapan. Satu hal yang menarik, sebagian dari para pelacur ini memiliki kemampuan ekonomi yang mencukupi. Jadi, menganggap masalah ekonomi sebagai satu-satunya faktor yang melatarbelakangi tindakan pelacuran adalah keliru. Banyak faktor lain yang bisa dkatakan menjadi penyebab, seperti lingkungan pergaulan, gaya hidup yang konsumtif (membuat setiap orang ingin memperoleh uang dengan cepat dan mudah), lingkungan keluarga, dan lain-lain. . Tindakan “menjual diri” tidak dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak terhormat. Ia mempunyai sebuah pembenaran yang ia yakini sebagai dasar pemikiran atas tindakannya itu. Kemampuan berpikir dan luasnya wawasan yang dimiliki .ke anggapan profesi pelacur ini sampingan yang dijalankannya. Bagaimana mungkin perempuan cerdas dan berkepribadian kuat seperti dirinya rela menjual tubuhnya untuk dinikmati banyak lelaki?. Tapi ia pun memiliki pembenaran atas semua itu. Gambaran ideologi yang mendasari pilihan hidupnya terdapat dalam kutipan berikut ini: 

“pelacur hegemoni kultural “

Pelacur "Jazad hanya perangkat"
 “Wanita itu tersenyum mencemooh“. Justru karena saya lebih pintar dari kamu, makanya saya tidak mau bekerja seperti kalian. Apa bedanya profesi kita? Sudah saya bilang, kita sama-sama berdagang. Komoditasnya saja beda. Apa yang kamu perdagangkan buat saya tidak seharusnya dijual. “jazad ini hanya perangkat biasa (bukan hati), pekerjaan membutuhkan fisik yang selalu fit, penampilan yang prima. semua itu demi kewajiban mengurus jasad – kendaraan untuk menghadapi hidup. Dan ini kendaraan unik juga antik bukan kendaraan rombeng. 

Aku … tubuhku adalah perangkat yang luar biasa menakjubkan.” Jazad itu sama saja adalah kepemilikan bersama, wajar-wajar sajalah keindahan tubuh dan kecantikanku ini bukan milikku, milik apresiasi mereka. Ini peranan utamaku ….. mempertahankan diri. …. resiko hidup di zaman kapitalis.  Jika kau tanyanya tentang cinta, bagikupun tak akan bisa diperjualbelikan. 
Sekali lagi jazadku memilih uang dibayar untuk merasakan kasih sayang : kasih sayang ganda…?, MAAFKAN...____

Pelacur : prostitutes interview

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar