Soppa, tombak menancapmu dari kolong rumah

Soppa menandai  peristiwa balas dendam, dan kemanakah kau pada malam itu, ketika esoknya kau tampa matahari.aku soppa adalah tombak yang berdenyaran di sekitarmu

Kabupaten Maros, kota yang menghibahkan diri pada ilalang yang tegak bagai tombak, dan makassar dengan dayung  yang dihampiri gulungan ombak, masa lampau yang sakral ketika "Benti Merrung", (sekarang Bantimurung), dan "Toakala sang " kera putih Bantimurung" masih menandai peristiwa soppa hari itu."cinampeppi wenniE...u pappurakki emmitai mata esso ri eleE", ( malam malam telah datang.... dan kau bagai tak melihat matahari di esoknya)

Manusia adalah pengada, ungkap Climacus, yang memiliki kesadaran (consciousness). Bukan hanya kesadaran terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, tetapi juga kesadaran terhadap diri sendiri (self-consciousness). Dengan kata lain, kesadaran untuk menentukan hidupnya: ”bagaimana seharusnya hidup” dan ”bagaimana semestinya mati”.tapi mengapa "Soppa", adalah sebuah pilihan dari keduanya antara hidup juga kematian ?

Jika malam datang dan siang sebelumnya  kau batukan dadaku dengan dendam, aku tak dimana-mana juga tak pada kota yang gelap, aku ruh yang bercerai berai menunggu "soppa" atau melakukan "massoppa" di bawah kolom rumahmu, apakah kau mengenal ini sebelumnya sebab tak ada jejak bahkan sesuatupun yang mampu meraba atau menandai, hanya ususmu saja yang terburai atau lembing tersebut mengena pahamu dan tembus hingga keperut, malam malam gelap.....bayangan kecil dengan pundak memanggul lembing, bayangan yang pergi meninggalkan korbannya usai membalaskan dendam

PERISTIWA MIRIS DI TAHUN-TAHUN AWAL SULAWESI SELATAN  YANG DITANDAI DENGAN ISTILAH  SOPPA', atau BALAS DENDAM DENGAN MENUSUK POKE/ LEMBING DARI BAWAH KOLOM RUMAH KE ATAS DAN  TERJADI PADA MALAM HARI

Pelaku soppa atau Passoppa berlari meninggalkan korbannya tanpa ada yang mengetahui, sebuah bercak darah memenuhi poke /lembing , yang memantulkan cahaya dari bulan, ah aku tak mengenal ini sebelumnya sebuah badai dalam malam gelap yang seakan memecah langit, suara derak papan rumah panggung yang bobol tertembus tombak selalu diantarai dengan jerit tertahan , sangat singkat kematian itu dan sebuah mayat di pagi harinya bersimbah darah kering, suara ah...menggema di udara memulaskan tidur passoppa sebagai bahagia usai dendamnya terbalas.

Seolah kesadaran itu tumbuh belakang hari ”Biar mengalir seperti air,” masyarakat lampau Kab.Maros.sulsel, sudah mengenal istilah ini sebelumnya, atau orang sekarang menyebutnya dengan jawaban diplomatis yang sering kita dengar, lebih bermakna sebagai ”kesahajaan”. Atau, ”ketakberdayaan”? Hidup tidak sesederhana itu, dan soppa menandai sebuah peristiwa balas dendam, kemanakah kau pada malam malam sebelumnya ...aku adalah tombak yang berdenyaran di sekitarmu
------------------------------------------------------------------
Oleh : Kaimuddin Mbck.
Terima kasih pada ayahanda "Kadir Parewe", yang telah menuliskan kisah ini di benakku. juga kepada Orangtua-orang tua kami yang telah menggenapkan cerita "Passoppa " ini.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar