pembunuh nomor satu di Indonesia, tapi tersepelekan....

Penyebab utama kematian di dunia, temuan ini juga selaras dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia  menyatakan bahwa penyakit jantung dan stroke 
merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. 
PENYAKIT jantung dan stroke merupakan penyakit menakutkan karena menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia. Jika sebelumnya penyakit ini dianggap monopoli orangtua, namun saat ini diderita pula oleh pasien di bawah usia 40 tahun. Hal ini disebabkan adanya perubahan gaya hidup, terutama pada orang muda perkotaan modern.

Berdasarkan World Health Statistic  yang dilakukan oleh WHO, penyakit jantung dan stroke adalah penyebab utama kematian di dunia. Temuan ini juga selaras dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia  menyatakan bahwa penyakit jantung dan stroke merupakan penyebab utama kematian di Indonesia.

"Gaya hidup tidak sehat seperti merokok, pola makan tidak sehat, tidak aktif bergerak dan mengonsumsi alkohol berlebihan membuat setiap orang memiliki risiko yang sama untuk terserang penyakit jantung dan stroke," kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Prof Dr dr Budhi Setianto SpJP, di kesempatan bincang-bincang saat peluncuran Gerakan Sayangi Jantungmu, Rabu (25/5/2011).

Lebih lanjut Budhi menuturkan, penyakit jantung sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia perlu diperhatikan betul fungsi dan kinerjanya.

"Jantung merupakan organ vital pada tubuh manusia. Agar dapat bekerja dengan baik untuk waktu yang lebih lama, kita harus memastikan agar jantung dapat bekerja optimal. Untuk menghindari jantung koroner, syarat utama adalah memiliki pembuluh darah yang sehat dan tidak terjadi penyempitan. Faktor gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat menjadi penyebab utama ketidakseimbangan kadar kolesterol total yang menyumbat pembuluh darah; kolesterol jahat yang dikenal dengan singkatan LDL (low density lipoprotein), trigliserida atau lemak darah yang diserap usus, serta penurunan kadar kolesterol baik (HDL/high density lipoproterin) dalam darah," papar Prof Budhi.

Sejumlah perilaku seperti mengonsumsi makanan siap saji (fast food) yang mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolahraga, dan stres, telah menjadi gaya hidup manusia terutama di perkotaan.

"Perubahan gaya hidup yang dialami sebagian masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di kota-kota besar, di mana pola makan rendah serat dan tinggi lemak menjadi konsumsi sehari-hari, telah memicu meningkatnya kadar kolesterol jahat," tutur Dr Pauline Endang Praptini, Spesialis Gizi Klinik.

"Dengan memahami kecukupan asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga kadar kolesterol, dibantu dengan gerakan atau olahraga yang sesuai, dapat memperbesar peluang memiliki jantung yang lebih sehat," sambungnya.

Berbagai kajian di bidang kesehatan jantung dan stroke menemukan indikasi bahwa penyakit tersebut berhubungan erat dengan gaya hidup yang tidak sehat. Pola dan gaya hidup yang dimaksud adalah sikap dan perilaku terhadap aktivitas sehari-hari seperti:

• Pola makan dan gizi yang tidak seimbang karena terlalu banyak mengonsumsi makanan cepat saji yang tinggi kadar kolesterol, garam dan gula.

• Kurangnya aktivitas bergerak/olahraga.

• Pola kerja yang tidak seimbang dengan kesempatan beristirahat yang cukup.

• Kebiasaan merokok.

• Tingkat stres yang tinggi.

Menerapkan gaya hidup sehat diharapkan menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia di kemudian hari. Masyarakat yang ingin mengetahui dan ikut berpartisipasi dalam gerakan ini dapat mengunjungi situs www.sayangijantungmu.com. Masyarakat juga dapat mengetahui tingkat kesehatan jantungnya lewat tes kesehatan jantung online gratis yang terdapat pada situs tersebut.(nsa)
 
Baca juga  
 *





{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar