Kearifan Bugis Makassar

mereka suka bilang "tabe", "pemmali" dan membawa pesan2 leluhurnya (pappaseng/pappasang) kenegeri rantau, di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung"."Kalau orang Bugis sukses di perantauan, mereka akan kaya dan membelanjakan uangnya di perantauan. Mereka membangun rumahnya juga di rantau dan bukan di kampung. Kalaupun mereka menginvestasi di kampung, biasanya hanya sedikit. Itu pun biasanya dalam bentuk membangun masjid, membangun rumah orangtua, atau semacam itu. Orang Bugis biasanya berprinsip di mana mereka merasa tenang dan nyaman hidup sekaligus berusaha, itulah yang dianggap tanah mereka,"_ jika aku ditanya adakah masy bugis makassar masih demikian / arif ?, jawabku "sebagiannya masih".
Kearifan Bugis Makassar ranah Pappaseng/pappasang : Menyelisihi aturan ke-umum-an ketika menandai teks berikut bahwa, "hati nurani-lah aturan hidup itu". Sebuah kata kaidah  lampau dari masyarakat suku Bugis, yang merupakan pola dari hasil pemikiran dalam membuat aturan kearifan perbuatan, dan ini bersifat otonom, pun terapan ini ketika ia menjelma sikap atau perbuatan, maka kesalahan  terbesar /yang teranggap fatal, ke-segalanya dianggap/disebabkan oleh hati, "hingga hati-lah yang mengancam dan menjatuhkan hukuman secara timbangan pribadi tanpa aturan tertulis atau dialami secara pribadi". (news makassar kita..)


Sebuah kedalaman perasaan malu dan rasa hina "siri' na pacce"yang hanya di deteksi oleh diri sendiri dan ini sudah cukup untuk menjadi timbangan menjauh dari hal yang buruk atau dikenal dengan istilah "masiri".
Demi ketakutan pada  kebiasaan buruk yang dapat terjadi secara plural pada masyarakat dan demi  ketakutan merubah pola tingkah laku menjadi lebih baik maka terangkumlah istilah berikut,
 * Ellele bulu tellele abiasang, abiasange abiasang topa palelei
Artinya: sekiranya gunung mungkin dapat digerakkan tapi kebiasaan tetap tak  bergeming, nantilah kebiasaan berubah  setelah  kebiasaan pula yang merubahnya.
Gunung sebagai sesuatu simbol yang susah digerakkan, bahkan mustahil bergerak, memberi indikasi bahwa kebiasaan negatif atau buruk (misalnya :menyepelekan hukum pangngadakkang dan melupakan pesan leluhur) dan  terjadi secara kolektif dalam masyarakat, merupakam tanda terpuruknya  suatu kampung atau negeri, sebab menjadi kesepakataan bahwa demikian sulitnya membentuk atau menanam nilai-nilai luhur, setelah generasi tak terkontaminasi lagi dengan hukum adat sebagai resolusi pembentukan masyarakat , penerapan selanjutnya abiasange abiasang topa palelei lebih kepada inovasi ke-penambahan  nilai yang baik untuk di indahkan pada sebuah komunitas kerakyatan. 
     Sebab kebiasaan yang buruk menggantinya tentu dengan sebelumnya mengenal lalu menanam kebiasaan yang baik dalam kearifan.

Sesi Pappaseng/pappasang Kearifan Bugis Makassar sosiocultural
Oleh masyarakat pendukungnya pappaseng/Pappasang teranggap sebagai patron (pola) dalam melakukan aktivitas keseharian. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam  yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi), nilai normatif pappaseng/pappasang ini, sedemikian sugesti sehingga tidak jarang ia selalu melekat kental pada setiap pendukungnya meski arus modernitas senantiasa menerpa dan menderanya.

Nilai-nilai ideal yang dilontarkan dalam makna Pappaseng/Pappasang  diskursuskan dan terharapkan menjadi keteladan pewarisan dalam  mengimbangi perilaku  kedurjanaan dari sebuah kultur asing yang negatif, sebab keduanya tampil bersamaan terpampang dalam realitas waktu kehidupan, sehingga nilai-nilai ideal lebih dominan mempengaruhi generasi kita, maka perlawanan radikal terhadap perilaku durjana pun bakal terjadi dalam keberadaan individu-individu  yang memperjuangkan nilai-nilai kearifan tersebut.


*Pappaseng/Pappasang dibentuk oleh bahasa bijak masyarakatnya, bukan saja digunakan di wilayah asalnya (Sulawesi Selatan), tetapi masih ditemukan dan dipelihara bagi warganya yang telah menetap
di wilayah pemukiman etnis lain.

*makin sensitive seseorang mengejawantahkan pappaseng/pappasang sebagai pedoman hidup, makin tinggi pula penilaian stratifikasi masyarakat yang melekat kepadanya.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar