Kehilangan Subuh dan Mukenah

subuh dan setiap udara yang tersentuh adalah dingin, gigil...jika ada kau maka tidak demikian, subuh yang tidak menjanjikan apapun se-pesan  bilang "jika pergi jangan lupa bawa bayanganmu". dengan sepi aku meraba-raba dan kata harus lahir. 

Mengiring sejuk subuh seperjalanan denganmu, adalah memoar dengan subuh kau tampak lebih segar juga dengan setutup mukenah, dan kau tahu bahwa aku sebelumnya hawa  asing yang bertahan dengan rindu  mengelus lentik bulu matamu",  (pulang sholat begini, jangan lagi bertemu aku, sebab tangan imajinasiku sering mengelus tanpa sengaja 

episode lain dari subuh..........
seberapa pekan kemudian, sebuah senja mengantarkan pesanmu 
maka,“jalan sepi dengan daundaun gugur memenuhi jalan setapak” ,
            : ku-bertemu sunyi dalam barisan pertama dalam sajakmu, 
              setelahnya pun, ku-tenggelaman dintara tumpukan 
              daundaun kering 

Satu-satu kueja peristiwa, dan hanya serangkaian nama-nama dengan semerbak yang dingin…, semerbak yang tenggelam pada bulan sabit yang kehilangan rona shubuh, subuh itu tak pernah kembali dan kehilangan pagi dengan setutup mukenah : uh...jiwaku tergenggam
      

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar