Che dan serombongan orang

Che ditembak mati tentara Bolivia. Mungkin kita boleh menyebut hal ini sebagai kegilaan. Kematian dalam gejolak revolusi yang “katanya” indah boleh jadi hanya jargon dan upaya menertawai diri, atau sebaliknya: keniscayaan untuk kematian dalam revolusi.


Ahad dengan siang yang terik. Di pojok warkop Dg. Te’ne, kami berkerumun di bawah pohon mangga dan nangka. Kaimuddin mbck baru saja menulis di blognya tentang Indonesia yang plagiat. Tentu tidak perlu di bantah, Michael Jakson bisa saja mati, tapi replikanya tetap saja mondar mandir di sebuah plaza di Kelapa Gading. Bahkan kami tak perlu ke Inggris menjumpai Mr. Bean. Kami punya replikanya dengan kadar humor yang tak berbeda di jalan Nurdin Sanrima. Ketika perhelatan Piala dunia, sangat enteng kita menjumpai Ronaldinho sedang mengatur kendaraan di terminal Daya.

Andi Tanriajeng juga ada, ia membawa sendiri problemnya. Seorang tokoh Golkar beberapa saat yang lalu menelponya. Menjadi tokoh muda memang menarik. Ada saja pelbagai tawaran. Tentu saja IQ perlu bekerja maksimal untuk mengetuk palu. Bahkan shalat Istiharah harus turut menjadi variabelnya. Tampilan fisik semestinya ke PKS, kolega kepemudaan semestinya ke Demokrat, basis geografis semestinya PKNU dan Golkar punya bacaan sendiri tentangnya. Ia tak menegaskan apa apa, ruwetnya tumpah di bbm.

Juga Reza, tokoh muda Bone yang meminang perempuan Maros. Ia berjanggut dengan tekstur muka Mongolian. Baru pulang dari Milad HMI cabang Maros . acara yang sama sekali tak kuketahui. Ia bersama ketua cabang Sorong, lahir di Garantiga Maros. Dan beberapa tokoh HMI Maros.

Dibawah daunan mangga dan nangka, ternyata tak hanya sekerumunan orang. Ada masa depan yang cemas dan berderap. Sebuah bacaan yang kabur tentang waktu ke depan yang kadang punya cara sendiri menjawabnya.(*Che dan serombongan orang

Saya menonton 3 kali film yang membentangkan perjalanan Che Guevara. Seorang dokter dengan asma yang akut. Ia menyeberangi Argentina melewati dua musim salju untuk sampai ke Kuba. Lelaki yang berdarah Irlandia, Basque dan Spanyol adalah marxis yang utuh. Lengkapnya Ernesto Guevara Lynch de La Serna lahir di Rosario dengan akta kelahiran yang salah.

Semestinya Che tak perlu meninggalkan Argentina, dia semestinya dengan kesadaran sebagai dokter tinggal di Bouneus Aires, di sebuah kamar rumah sakit yang putih. Asma dan salju adalah dua hal yang tak bisa bersatu. Tapi cerita tentang penderitaan Kuba dan Fidel Castro membuatnya harus berkali-kali menstarter motornya. Dan perjalanan itu (Che dan serombongan orang) mengantarnya menjadi bahagian dari Cabinet Castro. Kabinet adalah teks terhadap sebuah kemapanan. Tapi Che adalah pemimpi yang sempurna, Bolivia adalah harapan selanjutnya. Tapi revolusi bukanlah matematika, revolusi adalah logika yang terpisah dan pecah.

Presiden Bolivia, Rene Barrientos menghadiahinya 9 butir peluru lewat tangan dingin Mario Teran, seorang tentara yang berwajah besi. Che tersungkur. Che mati tapi tak mati. Mimpinya tetap hidup dalam bentuk mug, shirt, gantungan kunci dan ikon ideologik pagi para pemimpi.

Ahad yang hangat. Saya dan serombongan orang dan che seperti duduk bersama. Cemas dan bermimpi. Tapi itu bukan sesuatu yang salah kan?

___

Wawan Mattaliu .Warkop dg. Te’ne 2012, dalam kematian Che dan serombongan orang

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar