Angngaru / Mangngaru Tradisi Sakral Bugis Makassar (1)


Angngaru merupakan Tradisi yang bersifat sakral bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Sejalan dengan tujuan penelitian, mengungkap "sakral tradisi Bugis Makassar", maka penelitian ini menggunakan metode penelitian etnografi*. Sakral karena ia bagian dari acara adat dan terkait ritual-ritual sebabkan aplikasi/pelaku "pangngaru" imun terhadap benda pusaka berbisa pula angngaru ini bersifat protokoler misalnya pada acara, Temmu Taung, mengangkat janji sumpah setia juga pada penyambutan tamu yang dihormati. Dan mangngaru dapat juga terjadi ketika menyampaikan keinginan/hajat  pada boting langi (mahluk langit) tentu dengan kalimat –kalimat yang terkadang hanya dimengerti oleh strata tertentu misalnya Bissu, juga dalam menyampaikan kebulatan tekad atau sumpah setia, dan angngaru diiringan alat-alat musik tradisi yang terstruktur.

             
Angngaru ini juga salah satu rangkaian dalam acara pa’bunting (pesta pernikahan adat Bugis Makassar) yang dilaksanakan saat acara yang dikenal  dengan istilah mappacci, (membersihkan diri dari dan mendengar nasihat-nasihat yang disampaikan lewat sastra “Ngaru” tersebut yang disertai dengan iringan musik, tapi keadaan ini hanya hanya dilaksanakan oleh masyarakat dengan strata tertentu. (akan kami bahas stratifikasi masyarakat bugis makassar lain waktu)

Juga penyebab dari kesakralan angngaru ini, karena tidak setiap saat bisa  dipertunjukkan, sebab pelaksanaanya terkait dengan prasarana alat-alat musik daerah seperti ganrang, Pui-pui, gong, tinnong-tinnong, disertai pula dengan kostum adat  -passapu (destar), baju kantiu (jas), celana barocci’ (celana sekitar 10 cm, dibawah lutut), dan sarung yang di bida(gulung) hingga panjangnya hanya sampai lutut, si pelaku "appangaru ", pada prosesi tertentu menampilkan / berapresiasi diri secara heroik mengikut ketepatan ketukan gendang sambil badik (senjata pusaka ) di tusuk-tusukkan ke badan, tetapi si pelaku ternyata imun atau kebal sebab... , .....dst di cat ..

Sakral memiliki simbol bahwa segala sesuatu yang menyangkut dengan Tuhan harus dalam kadaan yang suci serta segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak Tuhan Yang Maha Esa

pergeseran makna kebesaran, pergeseran makna kekhusukan dan pergeseran makna ritual.
__________
catatan : manakala seseorang ingin mengusung sebuah kesenian sakral di
luar konteksnya tanpa memperhitungkan kesakralannya dan perasaan pendukungnya, maka sukma ini kehilangan auranya, dan yang tertinggal adalah sebuah onggokan kreativitas yang tak berjiwa. __kaimuddin mbck "petik dari buku kearifan budaya lokal"

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Latar Belakang ke-sakral-an tradisi angngaru (2) Nilai - nilai yang Terkandung dalam Pappaseng/ pesan-pesan amanah angngaru(3) Pergeseran sikap sakral angngaru dimasa sekarang. 

Catatan Kaki
*Metode penelitian etnografi adalah usaha untuk mencari data dengan wawancara berkali-kali dengan beberapa informasi kunci. Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah interaktive model of analysis yang terdiri dari tiga komponen terlibat dalam proses dan saling berinteraksi antara komponen dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus. Tiga komponen yang saling berhubungan tetsebut adalah reduksi data, sajian data (data display) dan kesimpulan (conclusion drawing). 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar