Kumpulan Puisi (9_: PalinG Rindu

setahun setelah memoar itu, sesuatu berubah menjadi lukisan penuh jejak yang menyulam waktu dan rindu di ketinggian langit biru, betapa jauh menerjemahkan ...betapa mengeras nyaringnya...aku tak berpaling, rindu itu perselisihan antara aku yang menunggumu atau kau yang mendekat, haha..nikmatkanlah rindu...rindu ruang yang lengang, sebelum....

puisi yang terasa sepi, sendiri hingga ke menjelma bisikan yang sangat halus saat ia menyelami dirinya sendiri. Maka mulailah meihat ke dalam, ke kedalaman memoar yang mengekal, kukira itulah keluasan yang tidak terbatas, lebih luas dari dunia luar kita. Dunia dalam diri kita yang penuh kesunyian, sepi..lengan...

Puisi  Rindu 1
 Isarat yang terbaca setiap hari, yang 
mengajakmu pulang ke segala samudera atau 
pulang kekursi-kursi taman yang  meratapi kesendiriannya
disini, ada yang menunggu hidup dan mati, hanya 
untuk menulis atau mengukir senyum yang 
hendak dilihatnya ke dua kali itu ?

subuh benar ia menunggumu, dan
 embun yang membekukannya tak di hirau, 
ia...disini 
: bersimpuh pada 
"senyum yang pernah dilihatnya".
.--------
  kaimuddin mbck "rindu"19-       
______
 Puisi  Rindu 2
 "senja (matamu yang kukira senja)"

Duh matamu say..
kukira bola salju yang menggelinding, ah...

tapi, sudahlah... 
:Aku terlindas sajalah atau  tercebur di beningnya, 
di matamu: ku menyempit dan purba 
di-tatapmu aku  tinggal diam, dan tawar,
berhentilah....ditatapmu ku tergantung tinggi meng-awan
________________________
kaimuddin mbck, maros

Puisi  Rindu 3
 kita-abadi-sayang

Kita sama pelupa-nya,
tak ngerti ini gelap atau terang ,
tak membedakan antara kau, aku atau kita ?,
juga tak ada catatan suka atau duka,
mungkin sesuatu telah mengeram

sebab kita hanya mengenal mimpi akan kebebasan,
ya... sebuah temu di kelupaan alam realitas,
seperti sore yang ku-berusaha lupa, lalu " kita terjerembab ke
dasar bumi sebagai belukar", kita lupa mengenang
 temu itu sayang...sebab "kita" sendiri adalah
"kait juga jerat".
------------------
kaimuddin mbck: di Maros Rumah Tedde
kita "abadi ", sayang...kita "abadi ", sayang...
________
Puisi  Rindu 4 
"memoar bulu mata-mu"

Aku ingat kembali
bulu matamu yang lentik dan
kembali ingin sekali meniupnya, ahh......
aku bayangkan saja telah menemuimu dan........
melakukannya ...
lagi.......
__________

Kumpulan Puisi  Rindu5
"......ter-infeksi (x)"

*menekur pada indah matamu dalam teks  puisiku*

Menjadi salah dengan menyimpanmu-pun tak mengapa,  sebab dengan begitu aku telah menciptakan surgaku sendiri. Oh...TIDAK.......!!*,
      aku harus berhasil merebutmu dari diriku sendiri dan tak bisa kubiarkan menjadi lebih keparat dengan memilikimu, sebab matamu adalah jarak yang membuat sorga dan neraka begitu tipis
YA.....pantang melihatmu kedua kali, "aku mudah terinfeksi....
_______________
kaimuddin mbck, Maros dalam ".ter-infeksi (x)",
*aku bajingan yang coba sadar....
kau saja yang ......ter-infeksi (x)
gambar "kupu-kupu rindu" dari wisata Alam Bantimurung
.
Kumpulan Puisi  Rindu 6  
~Sepi~

Sepi adalah lidah api yang menjilat-jilat
Terdesak pada sudut-sudut gelap tempat segala perih
di tenggelamkan
Wajah wajah bersetubuh, bugil, dingin, penuh ilusi ..imajinasi
Disini terkubur lalu terlahir kembali, sebagai kata dalam “sepi..”
____________
kaimuddin mbck dalam sepi
_________
 Puisi  Rindu7  
*lupa yang menggilakan 

Setelah "tatap kita saling sugesti"  kita meraba-raba dan asing,

ini gila ya...kita sama pelupa sayang, tak mengenal musim juga tak mengerti  gelap atau terang, kita menjadi kertas yang menuliskan suka atau duka secara liar.

oh....adakah sesuatu yang telah ditarik dari jantung kita 
sehingga setiap saat kita bermimpi akan kebebasan....,
lihatlah, kita meresap kedasar bumi dan tumbuh sebagai belukar,
kaki serta tangan-tangan kita seolah saling kait juga saling jerat, uh..
(ini begitu gila ya...?)
…dan kita berangkulan penuh jerembab
pe-lupa
_______________
kaimuddin mbck:  maros pagi "di pinggir sungai"
Kumpulan Puisi  Rindu 8
Rindu-Nya

ia, merindukanmu
silet bermata lebar, menatap paha, leher, matamu…..
tapi..kemana pergimu ketika sesosok tubuh,
pucat meregang tanpa nyawa,
ia silet menembus jeruji besi, mencarimu……
__________________________________
kumpulan puisi cinta , memoar, "tulis tulis saja
Kumpulan Puisi : Paling Rindu 9
"rindu ..." gumam pelan-pelan

Hari-hari terbuang dan
melelah tak
terjemahkan apapun.

Sekali lagi kuingin kau
mengendap dalam bulir harapan
dimana aku segera menemukan pintu atau
berlari ke puncak sajak,
disini ada yang mengecil dalam
benakku terus-terusan , dan
memoriku terus menjala kenangan
: tak sanggup hanya mengenang hujan sepanjang
siang ini,
“rindu….”, bergumam pelan-pelan


________
kaimuddin mbck dalam Kumpulan Puisi  Rindu

 (9_Kumpulan Puisi  Rindu




{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar