Makhluk Sepi dalam Patahan Keheningan

Pada Makhluk sepi Agogwe*

Dengan raga yang tak juga kekar
jangan menjadi kurcaci di tempat paling hening, lebih mendingan menjadi angin dan bergerak  atas nama kebebasan,
seharusnya kita temu paling gesit pada derak patahan dahan-dahan di
dikehening suara itu sangat bising semestinya ..!, tapi kemana sua itu sayang...
       apakah lantaran mereka menembakmu atau membawamu untuk 
       penelitian ?
Daratan gurun gobi afrika seakan adalah  jarak paling ujung di tapal batas  atau.., atau kau satu-satunya kelamin yang berbeda yang termakan semak belukar?, kukira tidak...!!, habitat ini mengenal kita seutuhnya...mengenal sunyi..mengenal rindu kita...mengenal spesies kita yang terakhir.


seperti mereka mengatakan " dalam sepi : saling bakar dan terjerumus sama saja sayang..", aku takut.
(*kita adalah gerak yang melupakan waktu, melupakan bahwa kita pernah ada_
_______________
~kaimuddin mbck, 2009_

Keterangan Gambar :  Agogwe adalah makhluk paling sepi, terisolir...sering dijumpai ketika pelancong atau wisatawan berada di Timur Afrika, ujud dan sifatnya sangat mirip manusia dan berukuran sangat kecil, pernahkah anda menonton film dengan peran terdapat makhluk -makhluk kecil, ya..semacam atau  mirip kurcaci. Agogwe makhluk atau manusia aneh sungguh akrab dengan patahan dahan yang terdengar dikeheningan, makhluk-makhluk aneh dan misterius yang banyak mengundang keingintahuan dari kalangan ilmuwan. Makhluk yang dipercaya masih tetap exist di gua gua. Dan hewan ini biasanya terbang di atas rata-rata kelelawar biasanya. Untuk lebih lanjutnya tentang makhluk dari daratan paling hening ini, bisa anda pelajari di jurusan cryptozoology. Cryptozoology itu ilmu yang mempelajari species makhluk dan hewan-hewan yang masih melegenda atau yang belum diyakini ada.

Apresiasi "derak patahan dahan di keheningan" puisi sepi itu 


makhluk jembatan marusu
Metafora yang digali dari peristiwa keseharian untuk menjadi penanda derap kehidupan begitu dominan dalam baris-baris ini. Jelas sekali tidak mengkritisi atau menyalahkan keadaan "sepi"  yang keberadaannya mengalami degradasi, namun justru semata menggunakan sepi sebagai  metafora, sebagaimana mayoritas penyair. Namun, meski terlihat mendekatkan diri dengan khasanah "sepi  dalam peristiwa mimesis si penulis", yang tampak dalam beberapa puisinya, bukan berarti ia melaju dengan gaya  terlalu mendayu-dayu dan berkaitan semata dengan perasaan dan emosi manusia. 
Beberapa kali  dalam puisi-puisiku menghadirkan "mistik" penuh metafor seperti dalam puisi ‘Bohong" dan "wajah dalam lukisan". Dengan demikian puisi Q lebih sering  tidak hanya menghasilkan efek ‘ke-takjub peristiwa cinta dan mistik’ namun juga ‘mengguncang’ kesadaran, dan puisi : Sepi itu derak patahan dahan di keheningan merupakan sepi yang berucap dengan mulut terjahit jeritan tanpa sempat menghirup udara segar, rembulan malam yang indah dan kita saling mengacak-acak dalam aksara, sebagai tempat saling MENEMU, ini gila yang tak tertahankan....aku adalah makhluk sepi dalam patahan keheningan kembali belajar berdiri, belajar berlari. belajar menapak sepi dalam sajak.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar