Kiamat : Malam Versus Siang

Kiamat malam mengantarmu pada segala pandang kau menangis di suatu sudut,  tanpa salam dan waktu seolah statis pada kemarau oktober membatu ketelan, pun November  bergegas pada kerontong entah disudut mana nisan kutancap, tapi seorang yang lain kulihat di sudut matanya berkaca-kaca setiap terucap  kata-kata itu, helanya menenangkan diri, "aku perempuan sedang me-lembutkan hati pada musim yang terus merebus dirinya sendiri hingga masak meski menyalakan perih, sebegitu ngerii...sebegitu surga di kepit". (wanita yang ditinggal mati oleh suami pelaku bom sahid, adapula yang menyebutnya pelaku bom bunuh diri)__pada sebuah dialog

Dialog Malam Khusyu Versus siang Laknat
1. Malam Khusyu
Dia khusyu' dan jauhkan bermegah megah, mengapa dinanti nanti oleh jannah ?. Rupanya malam tidak sepenuhnya kesunyian, meskipun pohon-pohon berbagi dingin di luar jendela, malam begini adalah hal yang membuat kita lebih peka meski tanpa kata, tapi tak setiap orang, mampu.. memahami detak jantung malam yang memperdengarkan hidup sebagai bentuk panghambaan pada diri masing-masing.., tak siapapun mengenal malam tidak juga aku.

Malam kilauan penuh warna juga penuh ke-khawatiran
dan remang malam menghapusnya dari cakrawala, pada semua yang menyertaimu :
             aku gores yang menghitung hari, yang
                 menarik ulur kembalimu
                            dan mengapit lenganmu, sekali itulah kugoyahkan lidahmu
: tanpa pernah kau berkata apa-apa lagi.....bisu, dalam ledak

Bicara tentang pemaknaan hayati maka malam adalah kelanjutan proses penyebab atau proses kehidupan subyek. Sebab ketika berada di titik koordinat, kita jelas mendapati karakter diri sebenarnya atau dengan titik seimbang, cermin diri sanggup merasakan getaran kesungguhan dari sang maha Penyebab Cahaya Ilahi: Apakah kita gemetar atau semakin asyik oleh kesejukan Cahaya. Sebelum sampai ke suatu akhir bernama akibat (mati, timbangan pahala)*

Malam ini bulan masih berenang dalam ruang semesta, tampak bintang-gemintang masih setia bergelantungan sangat hening, dari arah desir angin terdengar suara berbisik.

"Malam adalah makhluk Allah yang sangat spesial. Malam bukan sebatas kumpulan waktu atau bergulirnya gerak alam. Tapi, dengan bergeraknya malam diciptakannya waktu senyap menjadi hidup. Dan alam turut berotasi dalam gerak zikir membesarkan asma-Nya"

Malam.... dan Rintik Hujan Jatuh Bagai Bola Salju

pada pohon ramadhan dengan daun rimbun khusyu,
ada yang selalu ingin kupandang atau kukecap sebelum lebaran ini,
saat sebuah cahaya tegak bagai menara, dan orang orang mendaki diketinggian,
malam ramadhan ketika rintik hujan jatuh bagai bola salju, aku detak jam yang merenung, tentang mengapa bergerak dan mengapa kini diam

secepat gemerisik angin pada doa dan senyum yang melambung ke angkasa, aku tak sempat berkata apapun, ketika malam gelap mencipta sendiri bulan dangkal di atas savanna dan bumi tiba-tiba berkabut dan beku,
entah tubuhku disudut mana, tapi…. rahasia sungguh jauh dari terjemahan
__________
kaimuddin mbck
Maros,ramadhan: 27,11.

Seperti bentuk dalam sebuah cermin, kuikuti suara itu, pahamlah bahwa Tuhan menampakkan dan menyembunyikan sifat-sifat-Nya, agar segala makna terpahami, bahwa segala malam adalah khusyu yang berasal dari Lautan-Nya, kau merasakan hal ini ketika merendahkan dirimu padanya.

Malam Laknat
Dalam alam imajinasi bumi ini terdiri dari berbagai larutan yang ditemukan oleh sekelompok penemu di langit sana. Salah seorang penemu menciptakan larutan gerak agar manusia bisa bergerak, angin bertiup dan laut bergelombang. Penemu ini juga menemukan larutan yang rasanya tidak manis seperti siang, tidak pahit seperti malam, memiliki warna elegan. Larutan ini ia beri nama Larutan Senja. Tuhan yang mengetahui penemuan ini ingin mengambil larutan itu dan meneteskannya ke bumi agar semakin indah. Si Penemu tidak mau memberikannya karena menganggap Tuhan tidak adil. Selama ini Tuhan selalu menerima pujian atas penemuan-penemuannya. Tuhan bahkan tidak menyebut bahwa penemuan itu adalah hasil kerja kerasnya. Maka Tuhan pun mencuri larutan senja dan meneteskan ke bumi. Si penemu merasa kecolongan dan membuat sebuah larutan untuk membalas kecurangan Tuhan; larutan yang menakutkan bagi umat manusia*.
pada sela malam-malam tumbang, dan pekan-pekan waktu khusyu ini, 
berkeras kita nikahi: aku belajar duduk, mencerna juga bersila. 
masih....perih doadoa kurapal,  sayang…

Dan malammalam melingkar, boleh jadi aku masih meraba luka ini, dan
seperti melipat parasut tempat tanah rata menempa kaki, slalu saja begini : kita terus di bumi dengan selokan bau juga dengan katakata maaf tiada henti.
ya Allah...dipintumu kuberdiri malu
-----------------------------------------------------
kaimuddin mbck, maros ramadhan 2011
~Perih doadoa_

Kiamat Siang Ledak Bom : MULYANA (38), koordinator keamanan Komunitas Utan Kayu atau Radio KBR 68 H, salah satu korban ledakan paket bom buku di tempatnya bekerja, Selasa (15/3) lalu mengaku tak bisa melupakan kejadian yang dialaminya itu. Menurut Mulyana, saat bom buku meledak, ia hanya berada satu meter tepat di depan bom buku atau pusat ledakan itu.  pandangan di depannya hanyalah gumpalan putih pekat. Mulyana juga mengaku dirinya terhempas sekitar dua meter ke belakang.Mungkin itu serbuk pecahan buku atau apa saya gak ngerti,". Bom siang itu "saya juga berada di samping Ipda Bara (polisi korban lainnnya).

Menurut Mulyana yang dirasakannya saat itu, dadanya terasa sesak seperti habis dihantam benda tumpul serta yang paling membuatnya khawatir adalah tenggorokannya seketika kering kerontang
Seperti diketahui bom buku itu mengakibatkan pergelangan tangan Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan putus. "Trauma sih sudah enggak. Tapi saya masih teringat kejadian itu," kata Mulyana kepada Warta Kota, di Komunitas Utan Kayu, Rabu (23/03)
__________
*dikutip dari buku Kajian Budaya Semi (buku pertama Trilogi Kesadaran, *sekata "jalaluddin Rumi", * Matraman, Warta Kota, *cerpen Larutan Senja

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar