Suara hantu dari dingin tengkukmu

Suara hantu 1. Menerawang ketika roh malam  menyapamu dari balik bukit, ya...dan keheningan  langit sepenuh gelap, pada alam semesta aku sangat jelas kecuali matamu yang hanya tahu lintasan lintasan cahaya saja, padahal aku cukup paham di sinyal tengkukmu yang menebal juga pada desau angin yang mengantarmu rinding seolah lembab udara dari liang yang sangat dingin, begitu khusyu malam kelam ini ya..., dalam kecupan malam kau di dekatku dan tanganmu tak menggapai apapun seolah tertahan dengan jarijari tangan yang panjang, tapi halus kudengar dengus nafasmu, lalu letih...lelap seperti tenang hitam mataku, nganga mulutku dengan gigi sepenuh runcing, pun tak memberimu hak bersuara kecuali sekali,  ketika : ...cekik

Suara Hantu 2 : Waktu demikian merambah gelap di kebisuan malam
bintang redup di bingkainya yang licin pekat, dan masih terus mencarimu : sekali ini disudut manakah engkau..?, seperti kemarin kau yang selalu tergolek menungguku...temani kesendirianmu, selalu begitu "kita tanpa suara tanpa orang lain dan kau membacaku "ada" disetiap lintasan pikiranmu sendiri, dan di lintasan pandanganmu, aku mengernyit itu kau..., sudut -sudut itu seakan bergerak meremang, kursi seolah membentuk bayangan sendiri tempat aku sering duduk dan kau tak melihatku, ah kau masih selalu begitu tak tau keberadaanku di dekatmu, padahal tanganku dapat saja menjangkau bahkan memegang tengkuk juga lehermu, resapkanlah desau angin di luar jendela aku telah datang sebelum itu, semakin hening ketika lehermu berkilatan sayang...

dilantai dua ini dan terali-terali tempatku bermain juga meluncur, jelas terlihat jika sesekali kau merasa ada yang mengawasi, kau dipelupuk mataku menarik kain dan baru saja mandi,  dan aku mengelus punggungmu tadi dengan tumpuka busa sabun yang kau jatuhkan, aku di belakanmu dengan tangan yang masih basah sayang...: kedapkedip mataku tanpa pernah alpa jika kau mengabadikan sebagai kenangan, menjelang pagi lalu malam dan aku masih disini, seolah kuberkata, lelaplah di ujung rindu....tidurlah aku selalu di dekatmu, bahkan saat  kau terlelap dan sesekali membangunkanmu dari tidur agar kau menafsir cuaca gelap di luar jendela itu tempat ruhku mengawasimu.
Suara Hantu 4
Melayang layang di balik kelambu, sesaat kau tertidur dan tak mencurigai sedikitpun ketutupan matamu bahwa aku dekat, akhirnya  kuhadir pula di foto wajahmu tepak ketika ku di punggungmu, sekali itu kau mengajakku berkisah dalam mimpi dan kita saling melemparkan tulang-tulang yang berserakan yang entah darimana, sesuatu terjadi kau memotret dirimu sendiri dan kau tak meragukan aku ada di belakangmu,  kecupan bunga kamboja untukmu dengan nafasmu nan hangat lepas,  seperti  ketika malam aku tinggalkan batu nisan dan bebas menuju tempatmu ...tempat tatapanmu jatuh dan ku selalu ada disitu. Fajar tak pernah tiba, waktu  bertuah tak pernah selesai mendandanimu ...tentu dengan gaun putih simpananku dan kemenyan  pengharum tubuh, lihatlah ....atau pejamkan matamu dan bulu-bulu disetiap tubuhmu meremang aku hantu di dingin tengkukmu
 Suara Hantu 5 : Jangan pernah menapikan tangga kelantai 2 itu, aku cukup hapal dengan merdu di kakimu ketika menjejak, darahku masih memenuhi lantai tangga itu, seperti kemarin sesuatu terjatuh di tangga itu dan aku hampir memungutnya untukmu, tapi kau bilang "perasaanku tak enak lalu kau pergi begitu saja,  kakimu yang sering kuhela dengan ujung gaunku, bilangmu "begitu dingin dan lembut angin ini", ibu kemana ya...ko sendirian begini", padahal kita-kan sering bermain bersama saat aku sembunyi dalam lemarimu, di balik pintumu dan di kolom tempat tidurmu, bahkan sesekali ku masuk kedalam sepatumu, aku suka sekali tinggal di mata bonekamu juga di rambut patung itu yang sering kau elus, cukup dengan ini aku baru saja menjadi jadi matamu.  lihatlah sesekali daun diluar itu bergerak padahal angin sedang khusyuk, tahulah bahwaa aku melambaimu dari situ, " aku si hantu ..tak jauh darimu".
Suara Hantu 6 : diatas lemari ini tempat ku terjatuh lembut, dimana aku mengangkat ujung rok-ku bila kau membuka lemari, uh aku benci malaikat selalu mengalahkanku, untunglah ada kau yang selalu kupandangi setiap saat,  dan itu tak membuatku pergi jauh, demikianlah kupilih lebih dekat denganmu sebagai tempat perhatianku bermain-main dan tertawa cekikikan, hihihi..., kau sungguh tak melihat gigiku yang penuh bercak darah dan usus yang baru saja kumuntahkan, aku si kostum merah sangat menyukai pula bajumu yang serupa dengan warna ke-sayangku itu, jangan menyimpulkan apapun "aku sangat tahu keadaanmu".
Suara Hantu 7 : Larutlah  dalam kesedihan ...senandungkan duka-laramu padaku, sebab
aku dapat saja jadi kendaraan  hawa nafsumu, kau saja yang terlambat:  dia.... mereka...meniru caraku untuk terburu-buru, aku setan yang pantang menggodamu untuk kau saling bermusuh, haha..ha.., namun tak benar jika aku TAK DILINTAS pikiran dan pandanganmu, aku meremang dan menuai dingin di tengkukmu yang menebal, ya...masih di lingkaran ini saja diatas lemari itu lalu disudut ruangan dan tengkukmu. jangan melupakan tengah malam ketika hendak ke toilet dan kau ragu....dan menyesalkan kesendirianmu pada  malam-malam yang dingin, teruslah ke-toilet dan jangan was-was atas peralihan terang dan gelap yang kau lalui, terlebih jangan mencurigai jika kau dalam toilet lalu mati lampu sebab tanpa itupun aku "... ada".
jangan melihat lebih lagi berfose di luar jendela itu, sesuatu seolah tergantung namun ia berayun-ayun, ia pula yang menarik rantingranting pohon kecil itu lalu ter gerak, juga sesekali menggerus dinding atap rumahmu juga dinding yang kau tempati bersandar, jangan takut...wajahku di mana-mana dari seluruh penjuru mata angin. juga pada setiap lubah bahkan mengendus di celah  lubang pori dimana matamu tertuju. Upss...sekarang waktunya dingin dan ku harus mengerang di urat nadi seirama detak jantung....!.Suara Hantu terdengar...
_________________


Huahaha..ha...ha...aku desah suara hantu dari dingin tengkukmu 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar