gelisah dalam puisi

Pedataran rumah yang hening dan angin mati, sebegini batu dan sepenggalan matahari yang hampir benam dengan separuh ketakutan, pada remang bayang-bayang silam (pergi) yang ditangkupnya sebagai gelisah dan kau meninggalkan alamat yang tertulis pada pasir. Representasi catatan dari peristiwa sore itu, tentang mati rasa...ya tak jua pada senja, pun pada  rasa yang kutangkup kemarin sore saat terakhir kali melihatmu, tak menandai gelisah apapun kecuali esok harinya : Ketika bayanganmu adalah memorial yang masih mengijinkan kita duduk di tengah taman kota dengan daun kering yang satu persatu menjejak tanah lalu duduk bertukar rasa satu sama lain. Maka waktu mengenalkan catatan-catatan yang mesti kau baca, sebab dirimu sendiri yang menyimpan setangkup puisi gelisah itu, lalu lenyap tanpa isarat, ah..kau...(serupa senja  yang meninggalkan bintik-bintik rindu, se-begini remang ..?, jika pergi tolong bawa serta bayanganmu", ungkap imajinasiku (ketika itu tahun 2007).




Catatan puisi : "Menangkap Gelisah" : sore di pelabuhan dan rambut yang tergerai adalah tarian yang menarik ke-segala indah,  sebuah jenjang di lehermu sangat jelas dan warna warni pita rambutmu yang tertangkap dengan sudut mata, tanpa kata bahkan huruf yang tepat mewakilinya sebagai gejolak, demi Tuhan …ini bukan gugup. sebuah gelisah yang kuingin hanya aku yang tahu sebab pertemuan mesti merajut 19 ribu alasan ?.

Ketika sore tak tertahan, malam menggurat segala peristiwa, pekat rindu yang menjelma gelisah adalah genangan tinta yang terbentuk seperti teluk melayarkan kata bahkan ke samudera peluk yang dingin, memang…kau, dan dengan gemeretak pena ini menuliskan gelisah,  uh teramat dalam  menyimpanmu dan kau hantu meruang, pergilah....tapi bawa serta bayanganmu....
_Kaimuddin. Mbck.---Maros 25 Feb2011, (gairahku sedang jatuh ke teks puisi dan aku dengan terpaksa ikut-ikutan menjauh ?, o',Oww...

CatatanApresiasi Puisi :
cermin gelisah
Sesuatu yang tertangkap itu tidaklah lumrah menjadi huruf..kata ….atau apapun yang mesti harus tertulis, mungkin juga kata “tertangkap” itu sudah mewakili/tidak perlu dinyatakan dalam kata yang berbunga-bunga, atau disertai janji-janji muluk.
“demi Tuhan …ini bukan gugup”, disinilah letak problematikannya karena yang melihat dan dilihat keduannya telah sama-sama milik orang lain (mungkin..?) tapi ia juga sadar bahwa suka yang melahirkan cinta hingga Ke-sejati-an kadang bersifat misterius dan saling menarik, esensial peristiwa menjadi kental dan terwakili oleh teks,” terbentuk seperti teluk melayarkan katakata ke samudera peluk”,(link terkait ..

Apresiasi CaTataN gelisah_
> tapi..sebuah “kesan”, yang sesungguhnya hidup …, tetaplah peristiwa yang  tertulis, entah dengan apa menulisnya.... meskipun dengan waktu yang gemetar pada badai  yang gemetar atau untuk diri sendiri, sebagai bagian dari kegelisahan jika menyukai, maka ia hanya mampu menelaah seperti apa keberpihakan cinta itu atas taqdir, sungguh kata kata maaf tak pantas mewakili gelisah, ruang rindu selalu bulan tempat bertemu pandang.begitu sederhana gelisah itu rupanya.....

kali itukah senyum yang kau jadikan  tanya, atau sekedar jerat agar ku menangkap gelisahmu, dalam banyak apresiasi kegelisahan ini hanya bisa dihanyutkan dalam suasana temaram bulan dan sepi pada waktu, kaukah yang membiarkan ruh ini bepergian sejenak…atas kenyataan bahwa " hidup terjemahkan  segala peristiwa dan rindu juga adalah pertanda "hidup"?
gelisah menunggu sang pujaan   
Obyek yang tertangkap dari sudut mata …apakah ia menyukai pula atau tidak… segalannya adalah gelisah yang harus tertinggal…juga harus tersimpan…dengan baik_

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar