Pesan leluhur tanggapi perubahan zaman : kekuatan Bugis Makassar (2) .

Kaidah : kebertahanan hidup masyarakat lampau Bugis-Makassar, tidak ditentukan oleh ruang tertentu, tetapi sebab pemertahanan nilai-nilai kearifan budaya yang ada dalam Pappaseng/Pappasang,  itulah yang selalu dipedomani agar tetap hidup di dalam ruang itu. kaimuddin mbck

Gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam menanggapi perkembangan zaman,  merupakan konsekuensi sepanjang hidup bagi kemanusiaan.(penyebab perubahan telah terbahas sebelumnya), dan dapat di tegaskan bahwa dasar fitrah tiap orang pada hakikatnya selalu ingin mengadakan perubahan, termasuk karena rasa bosan sebagaimana dikatakan Hirscman " bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan".

Pesan leluhur : kekuatan Bugis Makassar (2)
Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; juga faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, juga karena sebuah peperangan. 

Tetapi menanggapi gejolak perubahan sekaitan dengan Pengetahuan kearifan lokal maka Pappaseng/Pappasang diskursuskan dan terharapkan menjadi keteladan pewarisan bahkan terharapkan mengimbangi perilaku kedurjanaan dari sebuah kultur asing yang negatif, sebab keduanya tampil bersamaan terpampang dalam realitas waktu kehidupan, sehingga nilai-nilai ideal lebih dominan mempengaruhi generasi kita, maka perlawanan radikal terhadap perilaku durjana pun bakal terjadi dalam keberadaan individu-individu yang memperjuangkan nilai-nilai kearifan tersebut. Ketika pesan leluhur Bugis makassar mengeras dan mengkristal di hati masyarakat pendukungnya, maka tanggapan atas perubahan pun tak terelakkan, "....alebbiranenna rupa tauE rekko makkulumpulu'I tenri paunai" (Bahasa Bugis, terjemahan apapun keadaan jika kita tetap bersatu (maka kita saling memperlihatkan contoh yang baik sebab fitrah) hal yang tak terkatakan dari keluarbiasaan itu. Atau sikap lain seperti pesan  berikut ini :

*naia riasengge’ to warani maperengnge’, nare’kko moloi roppo-roppo ri laommu, 
rewe’ko paimeng sappa laleng molai…”.

Artinya :
Yang disebut orang berani ialah yang kuat dan unggul bertahan, jikalau engkau menghadapi rintangan berat yang engkau tak dapat lalui atau atasi, kembalilah memikirkan jalan atau cara untuk mengatasinya.

Penguatan teks pappaseng bagi suku Bugis-Makassar, mesibgah salah satu butir dalam pangngaderreng / pangngadakkang (hukum adat), maka menurut Saleh Lahade, Pappaseng / Pappasang, sebagai salah satu sila dalam pangngaderreng: lahirlah apa yang disebut kekuatan atau dinamika kebudayaan tradisional masyarakat adat Sulawesi Selatan.

Ketika Pesan leluhur tanggapi perubahan zaman.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir mendapat perhatian baik oleh pengambil kebijakan maupun para literasi cendekia. Kesadaran ini muncul terutama karena semakin disadari keterdesakann eksistensi sistem kelembagaan masyarakat lokal, yang merupakan konsekuensi logis dari laju kemajuan masyarakat industri.- (dalam pantauan perk. budaya Maros) kamipun menegaskan ... pentingnya pemeliharaan budaya dalam aspek materi dan non materi sebagai aset daerah....dst. post--kaimuddin.mbck.

Menanggapi perubahan maka nenek moyang Bugis Makassar mem-filter-isasinya dengan memasukkan teks berikut sebagai timbagan penguatan motivasi kearifan

Parapi i nawa-nawa, de e narapi i’ nawa-nawa
Artinya : Ber angan-anganlah hingga tak terjangkau angan-angan. (disampaikan oleh panrita/agamawan).

Menurut Abdul Kadir Parewe : “ Para pi’ nawa-nama adalah sebuah keinginan dari penutur agar masyarakat senantiasa menggunakan tenaga pikiran dalam menciptakan atau menemukan hal-hal baru (inovasi), atau sebagai manusia perlu memelihara pikiran-pikiran yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangun salah satu hukum terbesar di Semesta, dan itulah hukum tarik-menarik. Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan demi kemaslahatan orang banyak. Tendensi dalam pappseng ini sebagai bentuk pelahiran tokoh (to macca), pada generasi berikutnya. Keinginan pada kelahiran tokoh ini adalah simpul kuat yang terkait dengan salah satu butir dalam pangngadakkang yaitu rapang (suri teladan).”

Kalimat deklaratif dari Pappaseng/Pappasang ini dengan kosa kata de e narapi nawa-nawa adalah sinyalemen untuk mendeskripsikan reso (semangat tinggi), berfungsi sebagai alat pendidikan bagi generasi muda manusia Bugis....lanjut ke cat 2
____________
Refrensi : Mabbaco Kaimuddin, 2012, Kearifan Budaya Lokal. ,  PT. Pustaka Indonesia Press Jakarta, Jakarta.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar