Berita dan Aksara kemarau : Esai

"Dengan tangan hening itu, ia meminjam degup jantung dan desah napas, merangkai aksara yang berserak di bawah naungan awan berarak, ia meminta tuk segera memasang huruf dan angka-angka itu sebagai simbol kacau miliknya yang terakhir kali, tangkai-tangkai pikiran dan perasaan coba di dendang-kannya  sebagai berita. Ia daun, mungkin bunga atau parasit pohon atau entah apa namanya...musim kemarau menggilasnya,  ia merengek meminta segera dipetik sebelum kering ketimbang  jatuh lalu terlupakan“, < Ah… sajak sajak hitam yang mungkin lama  tenggelam  (yang  kau sebut lirik / pahaman aliran sastra yang tak ditetapi oleh w.s.Rendara, dengan memilih puisi "naratif / Balada) , dan dalam hati yang penuh takut juga benci di sanalah sastra mencintai dirinya sendiri,  sastra tak bergelar pujangga. Baiklah baiklah “ ku beri arti sendiri bahwa :  ia jiwa terkatup diam mencari kata kata terpajang di etalase kamar, mengeja membaca sendiri, mengulang kata sama yang rumit,  namun tetap sama kecuali di "tatapmu tak lain adalah aksara pecah-pecah menunggu setitik air".

Pagi dengan aksara rindu hujan, sebelum akhirnya kisah kita ditulis oleh kemarau dan jemari kita dalam waktu yang sangat panjang, yah..bertaut dalam lengkungan sinar matahari yang masih penyayang, mungkin panasnya dapat membuatku lebih mencintai kemarau. Kemudian belajar bahwa debu kemarau pun bisa menceritakan banyak hal, banyak hal...ya juga tentang dirimu.
.
gadis desa yang memanggul air dikepalanya",
(sesaat meminjam suara merdumu mewakili rintik hujan)


(ketika  jerit pada pekat kemarau; Esai )
     tanah tanah kering.....
     sumur yang landai..... ,
     motor yang terperosok di jalan berlubang,
     kerongkongan memelas pada langit-matahari yang tak reda

: kehidupan dan debu mengalir pelan di sepanjang batang waktu, begitu banyak jejak yang  tersapu kemarau, terdengar jerit mangga yang daunnya tinggal satu, setelah sia-sia  
menyampaikan pesan......

Tentu saja kau tak disini ketika gadis desa memanggul air dikepalanya,
sedang tanah retak dipijak-nya 
: tatapanmu pecah-pecah menunggu setitik air.
_____________________


Berlari ke segala arah untuk sekedar berbisik pada lembaran-lembaran daun tentang hujan yang jatuh hingga ketepian, kau hampir putus asa dan, "persetan dengan derai hujan  dan kemarau yang tak kunjung datang", yang dalam perjalanan kemarahan kaupun tanpa pernah temu oase. buat kita hujan atau kemarau adalah dramatisir segala hal dan derai yang menceritakan juga mencairkan banyak hal. Karena dingin hujan menajamkan indera. kepikirkah bahwa "kemarau membiarkan kita menyelami setiap lekuk kota. dan hujan tetap membiarkan kita saling meremas jemari. Kukira musim mengenalkan kita jalan becek ini  dengan kendaraan beroda dua pesva yang mungkin jauh dari kesan mewah. Sekira kemarau pun, ia tetap mengijinkan kita duduk di tengah taman kota dengan daun kering yang satu persatu menjejak tanah. Selanjutnya mempersilahkan kita mencicipi es krim pinggiran jalan di Wisata Kulinr ini sambil bertukar rasa satu sama lain : Mengeratkan kita.
  
Kemarau kita habis. Musim kita berakhir. Kisah kita bukan lagi tentang menyelami lekuk kota atau duduk di taman. Bukan lagi tentang melihat lembaran daun yang menjejak tanah. Tapi ternyata aku tak lagi peduli lagi tentang musim apa saat ini. Atau musim mana yang lebih aku cintai. Karena kamu adalah musim. Satu musim yang tidak memiliki siklus. Satu musim yang tak berganti. dan baru saja kukatakan, “Sudah kutulis kamu dalam debu kemarau. Sebelum akhirnya hujan menjadi penutup.”
_________
*aksara yang tak kan penah ada sebelumnya, juga termasuk aku dan sang waktu, kecuali hanya ada satu ......"kemarau". Esai > kaimuddin mbck, dalam

esai berita dan aksara kemarau

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar