Kajian " Pesan & Ramalan Lampau"

Penerapan kearifan tidak berdasar aturan kekinian. Menyelisihi aturan ke-umum-an ketika menandai teks berikut bahwa, "hati nurani-lah aturan hidup itu". Sebuah kata kaidah lampau dari masyarakat suku Bugis, yang merupakan pola dari hasil pemikiran dalam membuat aturan kearifan perbuatan, dan ini bersifat otonom, pun terapan ini ketika ia menjelma sikap atau perbuatan, maka kesalahan terbesar /yang teranggap fatal segalanya dianggap/disebabkan oleh hati, "hingga hati-lah yang mengancam dan menjatuhkan hukuman secara timbangan pribadi tanpa aturan tertulis atau dialami secara pribadi". sebuah kedalaman perasaan malu dan rasa hina yang hanya di deteksi oleh diri sendiri dan ini sudah cukup untuk menjadi timbangan menjauh dari hal yang buruk atau dikenal dengan istilah "masiri".

Demi ketakutan pada kebiasaan buruk yang dapat terjadi secara plural pada masyarakat dan demi ketakutan merubah pola tingkah laku menjadi lebih baik maka terangkumlah istilah berikut,

* Ellele bulu tellele abiasang, abiasange abiasang topa palelei

Artinya: sekiranya gunung mungkin dapat digerakkan tapi kebiasaan tetap tak bergeming, nantilah kebiasaan berubah setelah kebiasaan pula yang merubahnya.

Gunung sebagai sesuatu simbol yang susah digerakkan, bahkan mustahil bergerak, memberi indikasi bahwa kebiasaan negatif atau buruk (misalnya :menyepelekan hukum pangngadakkang dan melupakan pesan leluhur) dan terjadi secara kolektif dalam masyarakat, merupakam tanda terpuruknya suatu kampung atau negeri, sebab menjadi kesepakataan bahwa demikian sulitnya membentuk atau menanam nilai-nilai luhur, setelah generasi tak terkontaminasi lagi dengan hukum adat sebagai resolusi pembentukan masyarakat , penerapan selanjutnya abiasange abiasang topa palelei lebih kepada inovasi ke-penambahan nilai yang baik untuk di indahkan pada sebuah komunitas kerakyatan.

Sebab kebiasaan yang buruk menggantinya tentu dengan sebelumnya mengenal lalu menanam kebiasaan yang baik.sumber "kajian budaya lokal " Pesan & Ramalan masyarakat lampau" dari blog www.sang baco.com.

meramal bagi masyarakat lampau.
oleh Sang Baco pada 24 Juli 2011 jam 14:01

Terdapat kebiasaan bagi masy lampau, terhadap kelahiran (pd bayi) dari (kajian budaya lokal Pesan beserta Ramalan masyarakat lampau", maka mereka (pihak org tua), meramal garis tangan dan kaki bayinya, tuk mengoptimalkan perjalanan/ pengenalan hidup kedepannya bagi bayi tsb, keadaan ini pula di yakini dalam kebiasaan masyarakat, lampau Bugis, sebagai mana tertera dalam kitab,"lagaligo"*, juga kaum Arab dgn kaidah "innal irqa datzas...."bahwa ramalan ini serupa dengan rumput yg telah terinjak pasti membentuk bekas/ pasti kelak terjadi.., anggapan lain yg marak dalam dunia ramal adalah "angka2", malah sebab ini dianggap sebagai salah satujurusan dlm akademik atau bahasa krennya di sebut "astrologi", ini mi kapang yg juga era kekinian melatar belakangi lahirnya film "destination".....dst. wallahua'lam bisshowab.
_________
*tersebutlah ketika 2 to manurung lahir kembar Sawerigading dan we Tenriabeng, hasil lamaran menunjukkan bahwa mereka harus di pisahkan sebab (pihak-karakter sawerigading) terbaca kemauan keras menyukai saudara kembarnya.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar