Bahasa Nasional Kita Miskin Idiom

Pengantar : bahasa struktur gaib_Sastra dalam bahasa misalnya...dapat menjadi “kebenaran“, melalui “pembenaran pembenaran“ yang terjadi secara individual, tak   memungkinkannya menjadi kebenarana massal atau kolektif, juga karena jumlah entri dalam idiom kata kita sangat sedikit sehingga terus menerus menyerap kata dasar demi pengembanganya. Tapi........Chomsky atau Thomas Bever, “percaya bahwa terdapat semacam struktur tatabahasa di otak kanan manusia yang turut menentukan cara seseorang berbahasa”, ia masih belum bisa menjelaskan bagaimana seorang kreatif mampu menciptakan “kombinasi novel”, yang dapat melahirkan sebuah karya besar (master piece), kaidah tentang bahasa tadi, cepat sekali kita menerimanya (ini sih baik) tapi kuanggap bahwa ke-kreatifan kita (para pelaku bahasa) semestinya me-prioritaskan lebih cepat tentang pemenuhan segala hal penamaan agar terwakili di dalam idiom bahasa kita, sebab perubahan kedepan tentang sesuatu yang telah tertulis dan tidak tepat bahkan penamaan keadaan >tidak terwakili oleh idiom (semisal sejarah).

Menjadi dilematis jika kita ingin merubah yang sudah ada dan menambahkannya kemudian. (meneropong penggalian tafsiran Bahasa Bugis sekaitan dengan banyaknya idiom dalam mewakili peristiwa / termasuk terjemahan bahasa bugis dari sumber kitab-kitab induk Islam yang pas transletnya, di banding bahasa nasional kita).

"perihal dengan tidak bermaksud mengusik nasionalisme, bahwa ternyata bahasa nasional indonesia kita tidak lengkap, alias banyak kurangnya. Tidak percaya, ini buktinya : Maju padanannya ke depan. Mundur padanannya ke belakang. Naik padanannya ke atas. Turun padanannya ke bawah. Masuk padanannya ke dalam. Keluar padanannya.... ?
Apa coba?, Tuh kan nggak lengkap.
Bertanyakan pada ahli bahasa kita JS Badudu, perihal ini beliau hanya tersenyum.."(*)

katanya, "bahasa ibu tidak mamadai lagi untuk mengakomodasi simbol-simbol mutakhir yang sifatnya kekinian, untuk melakukan persenyawaan dengan bahasa-bahasa visual. 
tapi magi pale (mengapa) : appala, curu', kadera, tipi, petepete, talekkeng > telekan dll( dan lupa lagi), dan istilah tambahan yang bahasa nasional kita pantas meliriknya adalah kata "kampidokang" (pria dengan kebiasaan mencampuri pekerjaan wanita, ilustrasi:pria tersebut (berada di tempat perempuan sedang membuat/meramu kue saat sebelum pesta), suka cicip-cicipi dan mengomentari rasa kue tersebut. Translet manengki/ semua ke-dalam  kata serapan basa Indonesata...?artis pujangga atau publik figur ini


fenomena penggunaan bahasa di daerah jawa misalnya  kata "nggak, banget, atau dek-dekan". hampir menjadi bahasa baku, rujuk sajalah.., juga pada keperluan dan pemahaman mengenai kapan saat yang tepat untuk menggunakan bahasa pasar atau bahasa baku.
Tapi ini hal berbeda dengan aliansi berikut > ke-teks sastra, kenyataan sebagai kenyataan , bagi pelaku sastra (terlebih puisi) kadang memberi makna terhadap peristiwa tidak sebagai mana umumnya orang memberi makna, sebab ada sudut pandang yang berbeda....hal yang juga unik.


Help...sebagai peristiwa yang belum terwakili dalam idiom bahasa indonesia kita termasuk istilah "sumaddang", bahasa Makassar yang berarti :merasakan sakit yang tertahan dalam dada, dapat terjadi secara tiba-tiba (misalnya terkena bola sangat keras bagian dada, jatuh kemudian merasan dada sakit, atau dapat juga terkena pukulan bagian dada sehingga terasa sesak bernapas), Rekan pengamus juga kans disiplin ilmunya kesono/kesitu liriklah kasus ini sebagai benahan dan bukan tantangan sebab kemestian.
-------------------------
"kaimuddin,mbck "ke-prihatinan kurangnya idiom atas Bahasa Nasional kita",*http://www.forumbebas.com/thread-9993.html


{ 2 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

duniafiksi mengatakan...

pernah saya membaca sebuah buku yang kupinjam dari pustaka Kakanda... saya lupa penulisnya tapi di situ dia bilang.... sastra adalah sebuah karya yang menyampaikan kebenaran melalui kebohongan... mantapnya tauwwaaaaa..... salutka dengan bloggta kanda... sukses.... minta dulu artikel assikala bineng.. ;-)

Sang Baco mengatakan...

menungguka di balikin itu buku , kalo pulangmi/adami peminjam no 3 ki itu, hehe..he..gimana coco' ji.., wassalam

Posting Komentar