Pendidikan Karakter Bangsa Resolusi Nilai Ketimuran

Sebuah kebudayaan dengan rumah tunggal(1), budaya yang sebelumnya mengenalkan kearifan sifat  dan integritas, tapi hari ini sungguh kita meninggalkan rumah rumah kearifan lokalitas bangsa kita, yang meneladani sifat santun, semangat juang dan moral, sebuah kristalisasi masyarakat Indonesia dalam aspek budaya, sistem, dan ke-teladan. Kukira inilah "ketimuran itu" atau oase yang membedakan kita dengaan bangsa lain, berikut ini sebuah tanggapan atas pola interaksi sosial dari hasil hubungan yang berkesinambungan dalam keberkembangan patron  masyarakat  kontemporer Indonesia.
Karakter nilai ketimuran dari relaksasi warkop

Dalam bahasa Inggris character diberi arti a distinctive differentiating mark, tanda yang membedakan secara tersendiri. Karakter adalah keakuan rohaniah, het geestelijk ik, yang nampak dalam keseluruhan sikap dan perilaku, yang dipengaruhi oleh bakat, atau potensi dalam diri dan lingkungan. Karakter juga diberi makna the stable and distinctive qualities built into an individual’s life which determine his response regardless of circumstances. Dengan demikian pengertian karakter adalah suatu kualitas yang mantap dan khusus (pembeda) yang terbentuk dalam kehidupan individu yang menentukan sikap dalam mengadakan reaksi terhadap rangsangan dengan tanpa mempedulikan situasi dan kondisi. Karakter secara harfiah adalah stempel, atau yang tercetak, yang terbentuk dipengaruhi oleh faktor endogeen/dalam diri dan faktor exogeen/luar diri. Sebagai contoh rakyat Indonesia semula dikenal bersikap ramah, memiliki hospitalitas yang tinggi, suka membantu dan peduli terhadap lingkungan, dan sikap baik yang lain; dewasa ini telah luntur tergerus arus global, berubah menjadi sikap yang kurang terpuji, seperti mementingkan diri sendiri, mencaci maki pihak lain, mencari kesalahan pihak lain, tidak bersahabat dan sebagainya.


Hal ini mungkin saja didorong oleh keinginan untuk bersaing sebagai salah satu kompetensi yang harus dikembangkan dalam era globalisasi. Karakter dapat berubah akibat pengaruh lingkungan, oleh karena itu perlu usaha membangun karakter dan menjaganya agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan dan menjerumuskan. Ada ahli yang berpendapat bahwa manusia tercipta dalam perbedaan secara individual, hal ini nampak dalam tingkat kecerdasan, dalam kemampuan ungkapan emosional dan manifestasi kemauan. Manusia juga dibekali oleh Tuhan dengan kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, meski ukuran benar-salah dan baik-buruk mengalami perkembangan sesuai dengan pertumbuhan yang dialami oleh manusia dan tantangan zamannya. Dengan demikian moral dan karakter pada manusia melekat secara kodrati, namun selalu mengalami perkembangan sesuai dengan pertumbuhan dan tantangan yang dihadapi. Karakter membentuk ciri khas individu atau suatu entitas suatu kualitas yang menentukan suatu individu atau entitas, sedemikian rupa sehingga diakui sebagai suatu pribadi yang membedakan dengan individu atau entitas lain.

Pengantar Karakter bangsa
Dewasa ini timbul kerisauan di sebagian kalangan masyarakat terhadap perilaku manusia Indonesia yang dinilai menyimpang dari akhlak atau karakter mulia. Mereka telah tidak mampu lagi membedakan antara peri laku yang terhormat dan terpuji dengan perbuatan yang hina dan tidak bermartabat.dalam bahasa sastra sering item-kan dengan "morat-marit".

Apabila hal ini berlanjut bukan mustahil akan berkembang menjadi masyarakat anarkis atau anomi, suatu mayarakat tanpa paugeran, yang menghalalkan segala cara, sehingga akan berkembang suatu masyarakat yang digambarkan oleh Thomas Hobbes dengan istilah homo homini lupus. Mencermati kondisi yang memprihatinkan tersebut, tergerak hati dalam masyarakat luas untuk membangun kembali karakter bangsa. Tiada kurang Bapak Presiden Yudhoyono dalam berbagai kesempatan menyatakan perlunya character and nation building, dan agar kondisi masyarakat tidak meluncur lebih buruk, maka harus segera diupayakan pembangunan kembali karakter bangsa, rebuilding the nation Merujuk pada gagasan dan kerisauan yang timbul dalam masyarakat tersebut, dipandang perlu segera diselenggarakan “Restorasi Karakter Bangsa.” Namun sebelum kita kupas bagaimana restorasi karakter bangsa diselenggarakan, perlu difahami lebih dahulu beberapa pengertian yang terkait dengan karakter, yakni jatidiri, nilai dan norma kehidupan. Beberapa Pengertian Karakter sering diberi padanan kata watak, tabiat, perangai atau akhlak

Arti kemerdekaan Untuk Rakyat
Mungkin sudah terlalu banyak orang menulis & berdiskusi di segala forum tentang arti kemerdekaan bagi Republik ini,mulai forum “kelas teri” sampai “kelas terhormat”…..Namun sedikit orang mengerti arti sesungguhnya kemerdekaan itu. Ada 3 arti kemerdekaan bagi rakyat Indonesia :
1. Merdeka artinya rakyat harus terbebas dari belenggu kelaliman
2. Rakyat harus dilepaskan dari beban berat dan diberikan keringanan untuk hidup di alam merdeka.
3. Memberi makan kepada rakyat yang kelaparan,miskin & membawa mereka kedalam kesejahteraan. Ketiganya belum mendapatkan tempat & dijalankan secara penuh oleh Pemerintah & Penguasa Negeri serta “orang kaya” negeri ini,walaupun semuanya sudah tertulis baik di kitab Undang-Undang Dasar 1945,Undang-Undang,Peraturan Menteri bahkan sampai Visi & Misi Perusahaan-2 para konglomerat negeri ini. Kenapa? Sebelum menjawab kenapa,mari kita lihat terlebih dahulu masing-masing 3 arti kemerdekaan tersebut.

Ke-Teladan Untuk Rakyat 
Di China (Hu Jintao) dan Singapura (Lee Kuan Yew) telah terbukti, bahwa satu orang dapat mengubah semuanya. Hu dapat merombak sistem yang pada saat itu rusak sedangkan Lee dapat membangun sistem yang baru dari nol. Menanggapi perombakan kabinet barusan /sebut saja " guncangan budaya" ni zaman kegelapan ya...?, pemerintah kita tdk berpihak pada rakyat hanya berpihak pada koalisi partainya. demi kelanggengan kekuasaan menjadi rakyat ya...kau hanya bisa nonton saja melihat kabinet baru kita (ada menterinya juga ada wakilnya, aiih...), ya lebih buncit dan pasti lebih lamban dan boros, (tambah biaya lagiiii....haha..ha..maafkan ini pandangan masy awam.. Pengertian Masyarakat & rakyat dalam kehidupan sosial Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dsb manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang berkesinambungan dalam suatu masyarakat. A. Arti Definisi / Pengertian Masyarakat 

Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia. 1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. 2. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi. 3. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya. 4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut. 


Tanggapan Atas Nilai Kemasyarakatan
Orang selalu membedakan antara perbuatan yang baik dan buruk, yang benar dan salah, yang adil dan yang dzalim Mereka sangat peduli dengan nilai kehidupan. Mereka mendambakan agar anggota masyarakat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai yang dipilihnya. Nilai adalah kualitas yang melekat pada suatu hal ihwal, perkara atau subyek tertentu yang berakibat dipilih atau tidaknya hal ihwal, perkara atau subyek tersebut dalam kehidupan masyarakat. Suatu pemerintahan yang adil selalu menjadi dambaan rakyat. Lukisan yang indah selalu diburu oleh para kolektor lukisan. Orang yang jujur selalu dihargai oleh masyarakatnya, dan sebagainya. Apabila nilai dapat terwujud, maka akan menimbulkan rasa puas diri pada masyarakat, yang bemuara pada rasa tenteram, nyaman, sejahtera dan bahagia. Sayangnya pengertian terhadap suatu nilai sering, atau bahkan pada umumnya, belum satu faham. Suatu contoh bahwa ada yang berpendapat bahwa nilai itu bersifat subyektif, sangat tergantung siapa yang menyampaikannya; ada pula yang mengatakan nilai bersifat obyektif tidak tergantung pada subyek yang mengungkapkannya. Nilai melekat secara intrinsik tidak tergantung dari yang menggunakannya. Di samping itu masih terdapat perbedaan pengertian terhadap suatu nilai. Nilai adil, misalnya, memiliki pengertian yang sangat beraneka, sehingga sering terjadi perbedaan pendapat mengenai keadilan terhadap suatu hal ihwal atau perkara yang satu. Suatu perkara atau hal ihwal dapat dikatakan adil oleh pihak tertentu, secara bersamaan dikatakan tidak adil oleh pihak lain. Bagaimanapun, masyarakat sangat mendambakan nilai-nilai tertentu dan selalu berusaha untuk mewujudkannya. Nilai yang dipergunakan sebagai ukuran untuk menentukan atau menilai suatu tingkah laku manusia disebut norma. Norma adalah berasal dari bahasa Latin yang artinya siku-siku, suatu alat untuk mengukur apakah suatu obyek tegak lurus atau miring. Demikian pula halnya dengan norma kehidupan, dipergunakan manusia sebagai pegangan atau ukuran dalam bersikap dan bertindak; apakah sikap dan tingkah lakunya tidak menyimpang dari nilai yang telah ditetapkan.

Dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dikenal berbagai norma, seperti norma agama, norma adat, norma moral, norma hukum dan sebagainya. Masing-masing mendukung nilai sesuai dengan bidangnya. Kaitan Karakter, Jatidiri, Nilai dan Norma Karakter, jatidiri, nilai dan norma perlu didudukkan secara tepat dan proporsional agar tidak terjadi kerancuan dan kakacauan dalam memanfaatkan dan menerapkannya baik dalam wacana maupun dalam praktek kehidupan. Setiap subyek, individu, atau entitas agar dapat diakui eksistensinya perlu memiliki identitas atau ciri khusus yang membedakan dengan subyek, individu atau entitas lain. Identitas atau ciri khusus yang telah mempribadi, menyatu dengan subyek, individu atau entitas tersebut disebut jatidiri Jatidiri ini akan menampakkan wajahnya dalam bentuk sikap dan perilaku subyek, individu atau entitas terhadap tantangan yang terkena pada dirinya. Apabila perilaku ini telah membaku sehingga tidak peduli pada situasi dan kondisi yang meliputinya, maka sikap dan perilaku tersebut berkembang menjadi karakter. Dengan demikian jatidiri suatu subyek, individu atau suatu entitas akan menampakkan dalam karakter, yang akan termanifestasi dalam sikap dan perilaku dalam menyikapi permasalahan dan tantangan yang dihadapi.

Kita kenal individu yang berkarakter teguh dan konsisten, ada yang memiliki karakter selalu berubah setiap saat, sehingga sukar sekali ditebak dan diperhitungkan. Yang pertama sering disebut berkarakter baja, sedang yang kedua berkarakter bunglon, atau tidak memiliki pendirian. Karakter merupakan perpaduan antara factor intern yang terdapat dalan diri individu dan faktor ekstern yakni lingkungan tempat individu berhubungan. Sebagai konsekuensinya, karakter mengandung nilai-nilai tertentu, yang biasanya bersumber dari nilai yang berkembang dalam masyarakat tempat individu hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai akibat karakter akan mengalami perubahan, sedang jatidiri pada hakikatnya bersifat tetap. Meskipun perkembangan karakter tidak dibenarkan menyimpang dari nilai dasar yang menjadi ciri khas jatidiri. Dari uraian tersebut nampak jelas bahwa setiap individu atau entitas perlu memiliki jatidiri yang merupakan ciri khas yang membedakan dengan individu atau entitas yang lain. Jatidiri individu atau suatu entitas akan nampak dalam karakter individu atau entitas dimaksud. Karakter berisi nilai-nilai terpilih yang dipegang oleh individu atau entitas dalam menghadapi segala permasalahan. Nilai-nilai terpilih tersebut kemudian dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku sehingga menjadi faktor pengukur sikap dan perilaku individu atau entitas.

Demikian gambaran secara singkat kaitan antara jatidiri, karakter, nilai dan norma kehidupan. Restorasi Karakter Bangsa Setelah kita membahas beberapa pengertian berkaitan dengan karakter, marilah kita memasuki pokok permasalahan. Pertanyaan yang pantas diajukan dalam pembahasan di antaranya adalah (a) apa yang dimaksud restorasi, (b) mengapa karakter bangsa perlu direstorasi, (c) bagaimana cara mengadakan reformasi karakter bangsa, a. Restorasi Restorasi berasal dari kata to restore, menurut Webster’s Third New International Dictionary to restore diberi arti to bring back or to put back into the former or original state, atau to bring back from a state of changed condition. Jadi menurut Webster restorasi bermakna mengembalikan pada keadaan aslinya, atau mengembalikan dari perubahan yang terjadi. Sangat terkenal restorasi Meiji, yakni restorasi yang dilakukan oleh pemerintah Jepang pada akhir abad ke XIX dalam menghadapi tantangan modernisasi yang melanda Jepang. Jepang berusaha untuk mengadopsi modernisasi Barat, tetapi harus tetap berdasar pada budaya asli Jepang. Terjadilah penterjemahan buku secara besar-besaran, sehingga buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat diterjemahkan dalam bahasa Jepang.

Sistem nilai yang terbawa oleh ilmu pengetahuan dan teknologi disaring dengan ketat, harus sesuai dengan adat budaya Jepang. Sementara itu pemuda-pemuda Jepang dikirim ke luar negeri untuk mempelajari alih teknologi iptek. Sangat terkenal ungkapan restorasi Meiji, “makanlah makanan barat, tetapi tetap dengan cara Jepang.” b. Restorasi Karakter Bangsa Sebelum kita membahas restorasi karakter bangsa, perlu dipertanyakan lebih dahulu, apakah suatu bangsa memiliki karakter. Kita telah memahami bahwa bangsa adalah sekelompok manusia yang karena memiliki sejarah hidup bersama, terbentuk adat budaya yang sama, kemudian mengkristal menjadi karakter bangsa. Otto Bauer seorang legislator dan seorang teoretikus yang hidup pada permulaan abad 20 (1881-1934), dalam bukunya yang berjudul Die Nationalitatenfrage und die Sozialdemokratie (1907) menyebutkan bahwa bangsa adalah: “Eine Nation ist eine aus Schikalgemeinschaft erwachsene Charactergemeinschaft.” Otto Bauer lebih menitik beratkan pengertian bangsa dari sudut karakter atau perangai yang dimiliki sekelompok manusia yang dijadikan jatidiri suatu bangsa. Karakter ini akan tercermin pada sikap dan perilaku warga-bangsa. Karakter ini menjadi ciri khas suatu bangsa yang membedakan dengan bangsa yang lain, yang terbentuk berdasar pengalaman sejarah budaya bangsa yang tumbuh dan berkembang bersama dengan tumbuh kembangnya bangsa. Karakter bangsa berisi nilai-ilai yang menyebabkan utuh dan bersatunya bangsa. Nilai tersebut berkembang dari rasa peduli terhadap bangsanya, merasa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangsanya, bangga terhadap bangsanya, setia dan cinta terhadap bangsanya, yang bermuara pada siap berkorban demi bangsanya.

Pendidikan Pembangunan karakter bangsa ?
Tidak mungkin diselenggarakan secara sektoral, tetapi harus secara terpadu. c. Pendekatan Restorasi Karakter Bangsa Dalam menyelenggarakan Restorasi Karakter Bangsa perlu ditempuh tiga pendekatan sekaligus, yakni: 1) Pendekatan kondisional Yang dimaksud dengan pendekatan kondisional adalah menciptakan kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga mau tidak mau orang akan berbuat atau bertingkah laku seperti yang diharapkan. Suatu contoh yang nyata. agar manusia masuk dalam ruangan dengan satu persatu, dibuat pintu berputar sedemikian rupa sehingga dengan setiap putaran yang dapat masuk hanya satu orang. Atau misalnya agar orang mau antri dalam pembelian karcis, disiapkan jalur yang hanya cukup untuk berdiri satu orang menuju loket pembelian karcis. Tidak perlu dipergunakan pengeras suara dan dengan suara yang lantang meminta agar mereka harus masuk satu persatu atau harus antri, tetapi akan berlangsung dengan sendirinya. Sebab apabila tidak melakukannya mereka akan menghadapi kemacetan dan akan merugikan diri sendiri. Apabila hal yang diharapkan telah membudaya dan telah menjadi bagian dari hidupnya, kondisi tersebut dapat dihilangi secara bertahap. Demikian pula halnya apabila kita mengharapkan agar rakyat memiliki kesadaran yang tinggi terhadap wawasan kebangsaan.

Hal-hal yang perlu diusahakan misalnya: a) Menciptakan suasana tertib dan disiplin di semua lembaga dan instansi negara dan pemerintahan, misal dengan membentuk Dewan/Unit Kehormatan Aparat, yang diberi wewenang untuk menilai kinerja aparat, memberikan peringatan kepada aparat, sampai pemecatan pegawai atau anggota. Setiap pejabat dan pegawai sebelum diangkat selalu mengangkat sumpah, perlu dinilai konsistensi pejabat dan pegawai dari sumpah yang diucapkannya. Peraturan perundang-undangan telah disiapkan, tinggal bagaimana penerapannya secara konsisten. Dewan/Unit Kehormatan Aparat harus bertindak tegas tanpa pandang bulu. b) Menyusun peraturan perundang-undangan yang sederhana dan diselenggarakan secara konsisten. Pelanggar peraturan ditindak tegas, dan tidak boleh panas-panas tahi ayam. Para penegak hukum harus berani melakukannya tanpa pandang bulu. Peraturan yang sederhan ini di antaranya, tertib lalu linbtas, menyeberang di tempat yang telah ditentukan, kendaraan umum berhenti ditempat yang telah ditentukan, kebersihan lingkungan dan sebagainya. Aparat penegak peraturan perundang-undangan yang tidak mau dan tidak dapat melakukan tugasnya, lebih baik mengundurkan diri atau dipecat.

Kembali masalah Dewan/Unit Penegak Kehormatan Aparat sangat diperlukan di sini, utamanya pada instansi yang menyangkut penegak hukum dan peraturan itu sendiri. Bila perlu aparat penegak hukum dan peraturan yang melanggar, hukumannya harus berlipat ganda. c) Melibatkan masyarakat langsung dalam mengadakan kontrol terhadap kinerja aparat, dengan mengaktifkan peran serta masyarakat dalam good governance. Kontrol masyarakat disalurkan lewat cara yang terhormat dan etis, tidak dengan cara demonstrasi tanpa kendali yang disertai merusak fasilitas umum dan sebagainya. d) Memberikan penghargaan pada aparat dan warga masyarakat yang menunjukkan ketertiban dan disiplin, misal bagi pengemudi kendaraan yang tidak pernah melanggar peraturan lalu lintas diberi bonus, misal diundang oleh Gubernur untuk santap malam bersama, atau apapun yang memberikan rasa kebanggaan. 2) Pendekatan kultural Menyusun peraturan-peraturan dengan sosialisasi secara ketat, dengan memberikan gambaran secara jelas penghargaan dan hukuman bagi yang mematuhi dan yang melanggarnya. Penghargaan dan hukuman ini harus dilaksanakan secara konsisten. Pendekatan ini akan berhasil apabila peraturan-peraturan tersebut masuk nalar, dan mungkin untuk dilaksanakan, serta diselenggarakan tanpa pandang bulu.

Pengertian Kemerosotan Bangsa dan Nilai Ketimuran
Nilai Abu-abu Ketimuran Indonesia
Dewasa ini timbul kerisauan di sebagian kalangan masyarakat terhadap perilaku manusia Indonesia yang dinilai menyimpang dari akhlak atau karakter mulia. Mereka telah tidak mampu lagi membedakan antara peri laku yang terhormat dan terpuji dengan perbuatan yang hina dan tidak bermartabat. Mereka tidak memahami atau tidak peduli terhadap perbuatan yang dinilai memalukan dan hina. Mereka juga tidak peduli atau tidak mampu membedakan antara perbuatan yang mulia dan nista. Sebagai akibat lebih lanjut tata hubungan masyarakat menjadi sangat rancu. Seorang pakar menggambarkannya sebagai masyarakat yang bermoral morat-marit. Apabila hal ini berlanjut bukan mustahil akan berkembang menjadi masyarakat anarkis atau anomi, suatu mayarakat tanpa pangeran, yang menghalalkan segala cara, sehingga akan berkembang suatu masyarakat yang digambarkan oleh Thomas Hobbes dengan istilah homo homini lupus.

demi koalisi partai atau demi kelanggengan kekuasaan, atau demi kebaikan buat rakyat ?, entahlah.... yang jelas bahwa menjadi rakyat ya...kau hanya bisa nonton saja,  terlalu ringkas sebagai penguatan-sementara) Dalam budaya tumbuh bersama : dalam arti pola pikir masyarakat kita pada akhir-akhir ini. lebih cenderung pada jangka pendek dan akumulasi shor-term minded ini menyuburkan kebodohan. Sistem. Birokrasi busuk bukanlah rahasia lagi. Korupsi sudah terjadi di depan mata semua pihak. Bahkan manusia yang rasional pun sudah terlibat dalam sistem yang korup ini. Siapakah yang tidak memberikan dua puluh ribu kepada polisi bila melanggar rambu? Ketegasan kesimpulan, bahwa " sisitim hukum adalah raksasa yang dapat merubah total, sebab bersamanya sebuah kekuatan, seolah berkata "kun faya kun" jadilah maka jadilah (ku punya kekuatan borokrasi, punya militer, pengadilan dll, kesemuanya untuk "semua mesti dengar dan patuh,

Keterpurukan Nilai  Kebangsaan dan Keamanan
Dengan bersendi pada nilai-nilai tersebut warga bangsa tidak rela bila bangsanya dicela dan dihujat apalagi dipermalukan. Pertanyaan berikut adalah mengapa karakter bangsa Indonesia perlu direstorasi? Di depan telah dikemukakan bahwa karakter bangsa sedang mengalami kemerosotan yang akut. Hal ini dapat dilihat pada segala lapisan dan lini kahidupan bermasyarakat, bebangsa dan bernegara. Sebagai contoh dapat diberikan ilustrasi berikut:
•Para anggota DPR RI tidak merasa malu untuk melakukan rekayasa kegiatan yang bernuansa untuk memperkaya diri, tanpa peduli terhadap kepentingan rakyat dan negara-bangsa. Produk UU yang dihasilkan bukan memihak pada rakyat, tetapi memihak pada pemesan yang memerlukan UU tersebut sebagai dasar untuk melakukan kegiatan yang dapat memberikan keuntungan.

•Pilkada hampir selalu diwarnai dengan kerusuhan yang akar masalahnya kekecewaan pribadi sebagai calon yang tidak terpilih; dengan mempergunkan segala cara berusaha untuk membatalkan hasil Pilkada. Kepentingan negara-bangsa dipinggirkan demi kepentingan pribadi.
•Korupsi masih merebak di mana-mana. Dengan berlangsungnya otonomi daerah, korupsi muncul laksana cendawan di musin hujan. Kepentingan diri lebih menonjol dari pada keselamatan negara-bangsa.

•Mahasiswa kurang mampu mengendalikan diri, sehingga terjadi demonstrasi di mana-mana disertai dengan perusakan fasilitas umum. Hal ini menurunkan martabat mahasiswa, karena peran dan fungsi mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sesungguhnya adalah untuk memberikan anutan bagi masyarakat luas bagaimana bersikap dan bertingkah laku yang terpuji dalam hidup menegara.
•Masyarakat tidak merasa tersinggung apabila negara bangsanya dihujat, dilecehkan dan didiskreditkan. Bahkan rakyat ikut beramai-ramai untuk bertepuk tangan, seakan-akan membenarkan hal tersebut dengan beramai-ramai mencari kambing hitam dan minta untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Suatu contoh Indonesia dinilai sebagai negara yang miskin, negara yang memiliki pengangguran yang besar, kualitas sumber daya manusia rendah, negara paling korup, negara babu dan sebagainya. Tidak ada suatu dorongan untuk mencari solusi untuk mengatasi issue tersebut.

Hal ini menggambarkan melemahnya rasa dan wawasan kebangsaan. Rasa tersinggung terhadap negara-bangsanya yang dihujat dan dilecehkan oleh pihak lain sudah tidak tersisa lagi. Paparan di atas menggambarkan sebagian kecil dari keadaan dan kondisi kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara yang menunjukkan lunturnya wawasan kebangsaan pada rakyat. Apabila kita ingin menjadi negara-bangsa yang terhormat, berdaulat dan berwibawa, maka senang maupun tidak senang karakter bangsa harus dibangun kembali. Perlu segera diselenggarakan restorasi karakter bangsa dengan menyusun program-program yang nyata dan operasional, dengan melibatkan seluruh komponen bangsa.

Cacat Penegakan Hukum
Benarkah rakyat belum terbebas dari belenggu kelaliman? Ya,beberapa fakta membuktikan hal tersebut : a. Masih dijumpainya penyerobotan tanah,penggusuran,perampasan hak atas harta benda & penghilangan nyawa di berbagai daerah di Indonesia. b. Perlakuan hukum yang timpang antara satu Warga Negara Indonesia yang satu dengan yang lainnya. Kelaliman para penegak hukum yang menindas & diskriminatif terhadap rakyat kecil sungguh masih dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. c. Keinginan berkuasa para “Pembesar” negeri ini yang tujuannya bukan untuk mensejahterakan rakyat- nya akan tetapi untuk “mengangkangi” proyek-2 besar & mengeruk kekayaan di daerahnya. Semuanya tidak perlu diberikan contoh kongkrit,lihat saja kasus-2 di Papua yang terus bergolak & bisa dibaca di media online & media cetak yang ada di negeri ini. Bila memang rakyat merdeka,maka hal-hal diatas sulit terjadi atau sangat kecil sekali terjadi,namun apa yang terjadi?

Pendidikan Mahal di Indonesia
Rakyat Indonesia sebagian besar masih dalam keadaan hidup sulit,sangat sederhana ; Beban hidup yang menghimpit yang harus ditanggungnya ; Pelayanan Kesehatan yang sangat minim & mahal,surat keterangan miskin pun tidak mudah didapat walau betul-2 sudah miskin. Pengangguran yang semakin besar,kesulitan mencari pekerjaan,dan menanggung biaya pendidikan yang sangat mahal bagi anak-anaknya bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak ; Sekolah gratis yang dijanjikan dari TK-SD-SMP tidak semua sekolah negeri & daerah mampu menyelenggarakan ; Wajib belajar 9 tahun yang membodohi rakyat,karena lulus SMU & Universitas pun juga belum tentu mampu bersaing di dunia kerja apalagi hanya lulus SMP? Rakyat akan merasakan kemerdekaan bilamana beban hidup mereka terasa ringan,himpitan kesulitan hidup teratasi dengan mudah serta adanya harapan untuk diringankan penderitaan hidupnya melalui perbaikan-2 nyata yang memang diperlukan untuk kebutuhan jangka panjang,bukan sekedar bantuan uang tunai Rp.300.000 yang hanya untuk bertahan hidup sekian minggu dan selebihnya harus “puasa” .

 Pengemis dan Tuna isma terbanyak di Indonesia
 Jika para pemimpin negeri ini melihat pengemis di pinggir jalan apakah mereka menganggap hal itu sebagai pemandangan “biasa” saja atau sesuatu yang membuat mereka “trenyuh” dan “luar biasa” ? Karena gambaran banyaknya kemiskinan,kelaparan,tuna wisma sebenarnya bisa dijadikan satu barometer apakah negeri ini benar-benar merdeka atau belum. Di negara-negara maju memang dijumpai pengemis, tuna wisma dll,namun Indonesia sebagai negara yang merdeka & kaya raya dengan pengguna “Blackberry” nomor 2 di dunia setelah Amerika Serikat (bahkan mungkin sekarang sudah nomor 1 di dunia setelah orang Amerika Serikat lebih cinta iPhone atau Android) anehnya mempunyai jumlah pengemis & tuna wisma terbanyak ; Padahal rakyat Indonesia bukan bangsa nomaden,tetapi banyak rakyat Indonesia yang terpaksa berpindah-pindah tempat tinggal karena memang tidak mempunyai tempat tinggal alias tuna wisma.

Kemiskinan Rakyat dan koruptor Negara
Pengemis di kota-kota besar di Indonesia sepertinya ada yang mengorganisir & Pemda tidak mampu untuk menertibkan karena sebagian besar pejabatnya juga menerima “upeti” dari “event organizer” para pengemis ; Akhirnya pengemis yang benar-benar “mengemis” karena memang sudah tidak mampu lagi bekerja & berkarya kalah dengan “pengemis profesional”…? Rakyat yang merdeka seharusnya menikmati kehidupan yang baik,cukup sandang & pangan serta papan. kalaupun ada pengemis seharusnya memang hal itu karena “kesalahan” pada dirinya sendiri,bukan karena kesalahan negara yang memang tidak mampu memerdekakan mereka. Negara yang merdeka dan memperhatikan rakyat (padahal negara itu ada karena adanya rakyat di suatu bangsa) akan dimuliakan dihadapan semua suku bangsa,hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Indonesia kita di lecehkan Negara Lain
Namun yang terjadi di dunia Internasional adalah Indonesia sebagai negara berdaulat adalah “YA” akan tetapi sebagai negara yang dimuliakan diantara bangsa-bangsa? nanti dulu…! Lihat saja,bagaimana kita dilecehkan oleh negara Malaysia yang meng-akuisisi pulau-pulau Nusantara,oleh negara Singapura yang tidak hormat & tidak mau menanda-tangani perjanjian ekstradisi koruptor karena duit para koruptor disimpan disana,oleh negara Australia yang salah satu koran lokalnya memberitahukan kebobrokan pemerintahan Indonesia serta presiden & keluarganya yang korup & menyalah-gunakan kekuasaan,oleh negara Arab Saudi yang memancung seenaknya WNI disana. Apalagi yang dimuliakan? Negara yang memperhatikan rakyatnya di alam kemerdekaan dengan menjunjung tinggi arti kemerdekaan seperti diuraikan diatas akan mendapatkan kemuliaan diantara semua bangsa. Menjawab pertanyaan kenapa diatas,maka tidak ada kata lain adalah para pemimpin negeri ini memang belum mempunyai mata hati untuk memperhatikan rakyatnya. Mereka baru pintar menulis Undang-Undang & Peraturan,tetapi belum pintar melaksanakan,karena mereka tidak mempunyai hati untuk rakyatnya,tidak ada perasaan “membuka diri” melihat kemiskinan,orang-2 yang “telanjang & kelaparan” ,mereka hanya punya hati untuk dirinya sendiri & golongannya saja. Bagamana pendapat anda?

 Solusi Pendidikan Bangsa Dengan Nilai Ketimuran

Solusi Revitalisasi Jati diri 
Kualitas yang menggambarkan suatu karakter bersifat unik, khas, yang mencerminkan pribadi individu atau entitas dimaksud, yang akan selalu nampak secara konsisten dalam sikap dan perilaku individu atau entitas dalam menghadapi setiap permasalahan. b. Jatidiri Jatidiri yang dalam bahasa Inggris disebut identity adalah suatu kualitas yang menentukan suatu individu atau entitas sedemikian rupa sehingga diakui sebagai suatu pribadi yang membedakan dengan individu atau entitas yang lain. Kualitas yang menggambarkan suatu jatidiri bersifat unik, khas, yang mencerminkan pribadi individu atau entitas dimaksud. Jatidiri merupakan pencerminan individu atau suatu entitas yang mempribadi dalam diri individu atau entitas yang selalu nampak dengan konsisten dalam sikap dan perilaku individu atau entitas dalam menghadapi setiap permasalahan. Dalam mengadakan reaksi terhadap suatu stimulus, individu tidak secara otomatis mengadakan respons terhadap stimulus tersebut, tetapi organisme atau individu yang bersangkutan memberikan warna bagaimana respons yang akan diambilnya.

Setiap organisme memiliki corak yang berbeda dalam mengadakan respons terhadap stimulus yang sama. Hal ini disebabkan oleh jatidiri yang dimiliki setiap organisme, individu atau entitas yang bersangkutan. Sebagai akibat suatu rangsangan yang sama dapat saja diterima oleh suatu individu, dapat ditolak oleh individu yang lain. Meskipun diakui bahwa perjalanan hidup suatu individu dalam menghadapi permasalahan mengalami perkembangan dan perubahan dalam mengadakan reaksi terhadap suatu permasalahan yang berulang, namun pada hakikatnya selalu bersendi pada kualitas dasar yang telah mempribadi, yang menjadi jatidiri individu dimaksud. Adanya jatidiri pada suatu individu, khususnya manusia, memang merupakan karunia Tuhan. Suatu bukti menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki ciri khusus secara fisik dalam bentuk sidik jari, dan DNA . Sehingga dianggap wajar dalam segi mental, manusia juga memiliki ciri khusus yang membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lain. Dengan demikian mendudukkan manusia sesuai dengan harkat dan martabat dengan setara, dan menghormati jatidiri manusia merupakan suatu tindakan moral terpuji. Dengan memiliki jatidiri dan menerapkannya secara konsisten, seseorang tidak akan mudah terombang-ambing oleh gejolak yang menerpanya. Ia memiliki harga diri, dan kepercayaan diri, sehingga tidak mudah tergiur oleh rayuan yang menyesatkan. Dari uraian tersebut jelas bahwa jatidiri sangat diperlukan bagi seseorang untuk mencapai sukses dalam membawa dirinya. c. Nilai dan Norma Kehidupan Dalam menjalankan hidupnya manusia tidak terlepas dari nilai dan norma yang mewarnai kehidupannya. Sejak zaman purba manusia selalu mendambakan keadilan, kejujuran, kesejahteraan, keberadaban dan sebagainya.

Solusi Restorasi Hukum ke Implementasi Terukur
Memberikan gambaran-gambaran yang menjanjikan; apabila wawasan kebangsaan dcngan nilai-nilainya itu dapat terlaksana dengan baik akan mengangkat harkat dan martabat bangsa, yang bermakna juga mengangkat harkat dan martabat dirinya. Memberikan ancaman-ancaman yang keras bagi para pelanggarnya. 3) Pendekatan pembiasaan diri Pendekatan ketiga adalah dengan cara membiasakan diri. Terkenal ungkapan yang mengatakan bahwa “kebiasaan adalah alam kedua,” yang dalam bahasa Belanda disebut “gewoonte is de tweede natuur.” Dengan melalui pendidikan ditanamkan kebiasaan untuk bersikap dan bertingkah laku tertib, disiplin, cinta pada alam semesta dan negara-bangsa dan sebagainya. Kalau nilai-nilai ini telah tertanam dengan mantap dalam diri, maka akan menjadi karakter diri dan akan selalu mewarnai segala tingkah lakunya. Cara ini merupakan pendekatan yang cukup efektif, meskipun ada pihak yang mengatakan, bahwa dengan cara pembiasaan dinilai kurang menghargai harkat dan martabat peserta didik. Disarankan agar penanaman nilai hendaknya dilaksanakan dengan kesadaran, sehingga nilai yang tertanam dalam diri seseorang akan tidak mudah digoyahkan karena didasarkan pemahaman yang mengarah pada keyakinan. Demikianlah gambaran secara singkat pendekatan yang dapat ditempuh dalam mengadakan restorasi karakter bangsa, yang memerlukan langkah secara konkrit lebih lanjut. Hal ini memerlukan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat kalau memang kita semua memandang bahwa karakter bangsa perlu direstorasi. Sedang yang lebih utama adalah political will dari pemerintah; tanpa political will pemerintah maka akan menghadapi hambatan dalam merestorasi karakter bangsa.
_______________________
catatan kaki   
kebudayaan dengan rumah tunggal(1) :Menurut Soerjono Soekanto alam masyarakat setidaknya memuat unsur sebagai berikut ini : 1. Berangotakan minimal dua orang. 2. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan. 3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat. 4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat. C. Ciri / Kriteria Masyarakat Yang Baik Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpolan manusia bisa dikatakan / disebut sebagai masyarakat. 1. Ada sistem tindakan utama. 2. Saling setia pada sistem tindakan utama. 3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota. 4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.

Referensi : Akhmad Muhaimin Azzet, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia : Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, ISBN: 978-979-25-4866-2

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar