Saling tikam dalam satu sarung : Tradisi

Menegakkan nilai kemanusiaan dengan duel saling tikam dalam satu sarung atau istilah lebih populisnya sitobo lalang lipa', Mengapa ? walaupun kita dalam keadaan mencabut badik dalam menegakkan harga diri, maka pada saat yang sama, dimensi kemanusiaan juga harus ditegakkan.

Beradu tikam dalam satu sarung bukan diartikan sebagai ruang sempit untuk bunuh diri, lebih-lebih bukan untuk belenggu diri. Di antara orang berduel ini di dalam kebencian itulah yang biasa disalahpahami oleh kita semua ini. Bagaimana menegakkan siri dan pacce dengan simbolik bertarung dalam satu sarung, dalam arti kata "Penunjukan kesejatian nilai harga diri, yang diikat oleh simpulan kebersamaan,  sebagai sesama manusia". maka setelah peristiwa tersebut salah seorang yang mati dalam pertarungan tidak meninggalkan dendam bagi keluarganya. simak kejelasan berikut ini....


Mengenal peristiwa ini maka kita kembali ke-kearifan lampau Bugis Makassar menyimpulkan bahwa “duel dalam satu sarungmerupakan simbolik dari akar budaya yang berkaitan dengan substansi yang bernama siri dan pacce itu. Siri berkaitan dengan dimensi dignity (kehormatan martabat) untuk ditegakkan terus, kemudian pacce itu merupakan dimensi kemanusiaan. Keberadaan ini bagi suku Bugis Makassar bukan di terima sebagai bagian dari sifat kejam atau saling menganiaya, sebab nilai sebuah harga diri yang dijunjung tinggi, lantaran malu/ siri' menegakkannya dengan cara seperti ini, kejelasan berikut ini....
 

Karena itu dalam duel dalam satu sarung, terdapat semacam nilai empati, nilai penghargaan kita kepada eksistensi orang lain.Tetapi, di tengah tarik menarik antara penegakan harga diri (dignity) berhadapan dengan penegakan dimensi kemanusiaan, keharuan terhadap orang lain pun muncul. Di sinilah bagaimana manusia Sulawesi Selatan, khususnya Bugis-Makassar, mengalah dan mengelola eksistensinya (keberadaannya) untuk bisa mengambil jalan kearifan untuk dapat mengambil suatu langkah.


Ini spesifik budaya Bugis-Makassar, ketika konflik tidak bisa lagi dihindari, maka harga diri harus ditegakkan dengan cara saling meniadakan nyawa, yaitu dengan duel dalam satu sarung Di saat seperti itu konflik berdarah mengacu kepada orientasi sebuah ujian kemuliaan manusia.

Dari sinilah bertolak duel satu sarung itu. Sebenarnya, berlatar siri dan pacce ini banyak disalahpahami, disalahtafsirkan oleh banyak generasi baru kita. Kearifan-kearifan diletakkan oleh orang-orang tua kita, leluhur-leluhur kita dalam duel maut tersebut. Banyak ditafsirkan salah, siri dan pacce bahkan diidentikkan sebagai hasrat untuk membunuh. Menganggap menegakkan siri tidak lain harus diselesaikan di ujung badik.


Padahal duel dalam satu sarung di sini bisa dimaknai lebih luas dan dalam: duel spiritual, duel kultural, duel kemanusiaan untuk menegakkan harga diri dan martabat sebagai hamba Allah. Jadi implementasinya dari kearifan itu tadi, kita membela diri atau menegakkan kehormatan sebagai eksistensi hamba yang mulia. Jadi, kemuliaan manusia itu yang harus dibela jadi jangan sampai ada yang saling menzalimi antar sesama manusia.


Kalau tak ada realitas, di masa-masa lalu, duel satu sarung hubungannya dengan penyelesaian sebuah konflik yang tidak bisa lain kecuali harus mencabut badik dengan masuk dalam sarung untuk berduel adalah suatu simbolik, pengukuh atas kemuliaan seseorang sebagai manusia. Nah, hubungannya dengan itu, lalu apa yang disebut duel dalam satu sarung atau duel? Duel sering diasosiasikan sebagai pertarungan fisik. Duel identik dengan pertempuran fisik. Padahal di sini, yang lebih subtansial, adalah spirit dari duel itu sendiri, bahwa di balik itu ada kemuliaan yang ditegakkan. Proses penegakan kemuliaan itu juga harus mulia dalam prosesnya bukan hanya target yang mulia tetapi juga proses ke arah itu.

Simpulan itu mengatakan "sarung harus diartikan sebagai simbol persatuan dan kebersamaan. Berada dalam satu sarung berarti kita dalam satu habitat bersama. Jadi sarung yang mengikat kita bukanlah ikatan serupa rantai yang sifatnya menjerat, tetapi suatu ikatan kebersamaan di antara manusia". 

Ini spesifik budaya Bugis-Makassar, ketika konflik tidak bisa lagi dihindari, maka harga diri harus ditegakkan dengan cara saling meniadakan nyawa. Di saat seperti itu konflik berdarah mengacu kepada orientasi sebuah ujian kemuliaan manusia.


Jadi duel dalam satu sarung bukan diartikan sebagai ruang sempit untuk bunuh diri, lebih-lebih bukan untuk belenggu diri. Di antara orang berduel ini di dalam kebencian itulah yang biasa disalahpahami oleh kita semua ini. Bagaimana menegakkan siri dan pacce dengan simbolik bertarung dalam satu sarung, dalam arti kata kita diikat oleh kebersamaan sebagai sesama manusia, mengapa mesti ada konflik yang harus berdarah-darah?

di sinilah subtansi kebudayaan orang Sulawesi Selatan di dalam menegakkan siri, dan pacce itu, nah di dalam ikatan dengan orientasi kekinian dalam menghadapi dunia modern, kebanyakan pragmatis, berorientasi pada kebendaan, konsumerisme begitupun dalam hal berpolitik, selalu memakai ‘main kayu’, serelefansi dengan duel dalam satu sarung


Jadi penegakan siri dan pacce melalui peragaan simbolik bertarung dalam duel satu sarung harus kita artikan satu ikatan antar sesama manusia. Di dalam berkonflikpun kita tidak bisa menampikkan atau membenci musuh kita. Kita tidak bisa mengeksploitasi lawan itu secara binatang, secara kebencian, itulah eksistensi dari kearifan budaya Bugis- Makassar. Bagaimana rupa istilah Sipakatau itu dijabarkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam perilaku budaya pada saat gawat yang bernama konflik. Di dalam konflikpun kita harus memanusiakan manusia. 


Kalau kita bawa hal itu ke dalam dunia moderen seperti saat ini bagaimana kita mengulangi apa yang dikatakan oleh pakar-pakar budaya dunia seperti “Kita tidak bisa menciptakan masa kini atau masa depan tanpa adanya sejarah atau masa lalu”. Jadi sejarah merupakan guru atau vitae magestra yang memberikan kita kearifan-kearifan, sebuah perspektif : kukira

Jadi untuk membuat keberadaban baru, perlu ada sikap kultural untuk “Discover The New In The Old”. Menemukan sesuatu yang baru, melalui proses masuk ke dalam budaya-budaya tua. sebab perubahan budaya duel dalam satu sarung, kini tergantikan dengan terlanjutkan dengan tradisi main kayu, mesin-mesin pembunuh yang dilatari dengan nafsu meniadakan nyawa.
___________________________ 
 -Rahman Arge,
- pendidikan launching buku kearifan 
Saling tikam dalam satu sarung : Tradisi

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar