budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa"

Budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa", terbetiknya cerita ini menguat /terawali dari seringnya peristiwa tersebut diceritakan dari mulut ke-mulut di Kabupaten. Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.

Pengantar__
Sebuah daerah yang menghibahkan diri pada ilalang yang tegak bagai tombak, dan makassar dengan dayung  yang dihampiri gulungan ombak...., masa lampau yang sakral ketika "Benti Merrung", (sekarang Bantimurung), dan legenda pau-pau rikadong/ cerita rakyat,"Toakala", sang kera putih dari Bantimurung" masih menandai peristiwa soppa hari itu."cinampeppi wenniE...u  pappurakki emmitai mata esso ri eleE", ( tunggulah, kedatangan malam.... dan kau bagai tak melihat matahari di esoknya), sebuah ancaman dan waktu hidup terlalu singkat karenanya.

tombak" passoppa"
Dendam memilih Soppa
Manusia adalah pengada, ungkap Climacus, yang memiliki kesadaran (consciousness). Bukan hanya kesadaran terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, tetapi juga kesadaran terhadap diri sendiri (self-consciousness). Dengan kata lain, kesadaran untuk menentukan hidupnya: ”bagaimana seharusnya hidup” dan ”bagaimana semestinya mati”.tapi mengapa "budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa", adalah sebuah pilihan dari keduanya antara hidup juga kematian ?

Terjemahan aktualisasi Soppa
Jika malam datang dan siang sebelumnya  kau batukan dadaku dengan dendam, aku tak dimana-mana juga tak pada kota yang gelap, aku ruh yang bercerai berai menunggu "soppa" atau melakukan "massoppa" dalam budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa"di bawah kolom rumahmu, apakah kau mengenal ini sebelumnya?, sebab tak ada jejak bahkan sesuatupun yang mampu meraba atau menandai, hanya ususmu saja yang terburai atau lembing tersebut mengena pahamu dan tembus hingga keperut, malam malam gelap.....bayangan kecil dengan pundak memanggul lembing, bayangan yang pergi meninggalkan korbannya usai membalaskan dendam

PERISTIWA MIRIS DI TAHUN-TAHUN AWAL SULAWESI SELATAN  YANG DITANDAI DENGAN ISTILAH  SOPPA', BALAS DENDAM DENGAN MENUSUK POKE/ LEMBING DARI BAWAH KOLOM RUMAH KE ATAS DAN  TERJADI PADA MALAM HARI
Pelaku soppa atau Passoppa berlari meninggalkan korbannya tanpa ada yang mengetahui, sebuah bercak darah memenuhi poke /lembing, yang memantulkan cahaya dari bulan, ah aku tak mengenal ini sebelumnya sebuah badai dalam malam gelap, yang seakan memecah langit, suara derak papan rumah panggung yang bobol tertembus tombak selalu diantarai dengan jerit tertahan setelahnya, "jangan membuat siri", sebab, sangat singkat kematian itu". Dan sebuah mayat di pagi harinya bersimbah darah kering, suara ah...menggema di udara memulaskan tidur passoppa sebagai bahagia usai dendamnya terbalas.

Seolah kesadaran itu tumbuh belakang hari ”Biar mengalir seperti air,” masyarakat lampau sulsel sudah mengenal istilah ini sebelumnya, atau orang sekarang menyebutnya jawaban diplomatis yang sering kita dengar, lebih bermakna sebagai ”kesahajaan” atau ”ketakberdayaan” dengan emulsi marah yang bercampur aduk dan hanya soppa melupakan segalannya?, Hidup tidak sesederhana itu, dan soppa jawaban "nipakasiri" atau di buat malu di era sejarah lampau itu. Budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa", menandai sebuah peristiwa balas dendam pada malam hari..., tapi kemanakah kau pada malam malam sebelumnya ...aku adalah tombak yang berdenyaran di sekitarmu
_________
Oleh : Kaimuddin Mbck.
Dalam budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa"Terima kasih pada ayahanda "Kadir Parewe", yang telah menuliskan kisah ini di benakku. juga kepada Orangtua-orang tua kami yang telah menggenapkan cerita "Passoppa " ini.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar