Alasan Bunuh diri : Tibet Jepang Indonesia

"di mana mereka membakar buku, ujung-ujungnya mereka akan membakar manusia.” Memang demikian. Memusnahkan teks-teks historikal dan kultural bukanlah sekadar membakar kertas; Sebab catatan tersebut gambaran peradaban, keadaan ini adalah upaya satu pihak untuk menghapus total pihak-pihak yang dibencinya dari muka bumi", teringat sejarah kecut tentang penenggelaman kita-kitab yangdi tulis oleh cendekiawan muslim di Laut Merah atau lebih tepatnya sungai Nil.

Budaya bunuh diri massal di Tibet
Sebuah reaktualisasi diri Pemimpin Spiritual Tibet Dalai Lama, sebuah kondisi putus asa yang dihadapi oleh warga Tibet yang berada di bawah kendali ketat Pemerintahan Beijing memuncak pada suatu "budaya bunuh diri" yang menjadi alasan dibalik serangkaian aksi bakar diri di kawasan Cina bagian barat daya itu. Setidaknya 11 orang warga Tibet telah melakukan aksi bakar diri tahun ini di kawasan Tibet yang menjadi bagian dari Provinsi Sichuan, Cina, yang telah menjadi fokus lokasi aksi pembangkangan terhadap kekuasaan Beijing. "Termasuk juga sejumlah orang Cina

Insiden menyedihkan ini terjadi, sebagai suatu akibat dari situasi yang penuh keputusasaan," katanya. bunuh diri massal "sebuah aliran sesat", perihal ini adalah insiden Budaya mem-bunuh diri terbaru, Seorang biarawati Tibet melakukan bakar diri hingga meninggal pekan lalu, sementara yang lain menderita luka bakar  di kakinya pada Jumat, ketika akan melakukan aksi bakar diri di luar Kedutaan Besar Cina di India. Cina mengatakan, Dalai Lama, yang meninggalkan Tibet pada 1959 menuju India setelah pemberontakan yang gagal terhadap kekuasaan Cina, harus disalahkan atas aksi-aksi bakar diri tersebut dan warga Tibet bebas untuk menerapkan ajaran agama Budha yang dipercayai mereka. Cina telah memerintah Tibet dengan tangan besi sejak tentara komunis memasuki kawasan itu pada 1950. 


Peraih Penghargaan Nobel Perdamaian yang berusia 76 tahun itu bulan lalu memimpin ribuan biarawan, biarawati dan warga Tibet berdoa berkabung di India bagi mereka yang membakar dirinya hingga tewas. Budaya mem-bunuh diri, sesuatu yang lahir sebab kepasrahan juga sebab perlawanan. jangan pernah melirik apalagi singgah pada budaya ini, wassalam

"Bunuh Diri " bebas tafsiran
Tak mengindahkan bunuh diri, jika bukan karena tulisan pada kehidupan yang membuat orang bisa bergerak mungkin, e... karena kematian yang tragis lalu kita cemas dan kemudian menulisnya sebagai nasihat, tapi ya...minimal ketika kau membaca (sastra puisi / hikmah kehidupan) hindarkan-mu dari bunuh diri. Tak meragukan matahari atau trotoar panas ini membakarmu, sungguh...setelah menyimak kau telah bebaskan dirimu dari perasaan sakit sebagai cara saling menemu berulang-ulang, tentu ku tak pernah kehilangan, meskipun peristiwa-peristiwa itu tak pernah terlupa, desing peluru..., luka yang me-nganga.., dan kuburan dangkal, sebab Pengasih Tuhan masih  selalu memanggulmu di pundakNya, berlari dan menafsir kebebasan sebagai hadiah dari Tuhan. Sampai terjerembab dan tak bisa bangkit, tapi tergesa-gesa adalah waktu belum benarbenar penuh menegaskan  harus bunuh diri. Mengenal tafsiran bebas sungguh kehidupan telah terawat dengan baik dan sistim naturalnya memberi imun tuk tetap hidup hingga batas yang namanya "kematian".__Tulis-tulis saja dari kaimuddin mbck

Jepang tak kenal minta maaf : Bunuh diri
Angka bunuh diri di negara ini sangat tinggi, Berdasarkan data dari Kepolisian Jepang, angka bunuh diri di Jepang, terbilang sangat mencengankan, sekitar 32.552 orang untuk tahun 2005 atau 24 kasus per 100.000 penduduk ! Tidak terlalu jauh dengan tahun tahun sebelumnya, masih di kisaran angka 30 ribuan. Angka yang cukup tinggi bukan ? Tentu saja Jepang selain terkenal dengan teknologinya, juga terkenal dengan angka bunuh dirinya. Kebanyakan pelakunya adalah pria Dari sisi gender, sebagian besar dari pelaku sempuku adalah pria, namun tidak jarang umumnya juga akan disusul oleh pihak wanita, kalau mereka sudah berkeluarga. Kemudian dari segi umur, kebanyakan adalah berusia setengah baya atau rata rata berkisar umur 50 tahun ke atas. Pelaku remaja, terlebih lagi anak anak relatif jarang ditemukan. Tindakan ini biasanya dilakukan karena alasan harga diri, tanggung jawab karena gagal dalam tugas, kalah dalam peperangan sehingga sebelum dipermalukan karena akan ditangkap oleh pihak musuh, para pemimpinnya umum melakukan tindakan bunuh diri.


Jepang tak kenal minta maaf kecuali bunuh diri, dan kejadian begini tidak diekspose ke media massa, bunuh diri adalah kasus umum di negara tersebut namun uniknya media masa seperti koran ataupun televisi seakan bersih dari berita tentang topik ini. Tentu saja yang jelas hal ini bukan berarti karena larangan, pembatasan atau pihak pemerintah namun karena berita semacam ini bukanlah topik yang menarik untuk diberitakan. Perkecualian adalah kalau kasusnya dilakukan oleh seorang pejabat, orang terkenal, artis, anak sekolah atau dilakukan secara kelompok. Kemudian liputan tentang kasus bunuh diri ini ataupun kasus musibah dan kecelakaan lain umumnya dipastikan tidak akan pernah menyiarkan wajah korban secara close up dalam kondisi meninggal ataupun sekarat. Hal ini disamping karena alasan privasi juga karena untuk menghormati perasaan keluarga yang ditinggalkan. Ditengah persaingan hidup yang sangat ketat seperti di negara Jepang, seakan hanya memberikan 2 pilihan saja dalam hidup yaitu MENANG atau MATI. Tapi kehidupan terus berjalan maju dan seakan hanya menyisakan yang TERBAIK, sedangkan mereka yang "Lemah" dan menganggap diri tidak berguna terpaksa harus menyisihkan diri atau tahu diri.

Analisis Kasus Bunuh diri di Indonesia
Peran agama solusi mengurangi kasus bunuh diri. Namun disisi lain harus diakui juga bahwa agama juga bisa memicu seseorang melakukan bunuh diri, contoh salah satunya adalah kasus bom bunuh diri seperti yang cukup sering terjadi di sejumlah tempat. Bunuh diri dalam bentuk lain Bunuh diri menurut saya memiliki arti yang cukup luas bahkan secara tidak sadar bisa jadi, kitapun saat ini sedang menuju proses melakukan bunuh diri. Contohnya, setiap tahun puluhan ribu orang tewas di Indonesia karena kecelakaan lalu lintas. Penyebabnya sudah diketahui pasti yaitu rendahnya kesadaran tata tertib berlalu lintas serta buruknya kondisi jalan. Walaupun akar masalah sudah diketahui namun tidak nyaris tidak ada perbaikan sehingga kejadian yang sama terus berulang setiap tahun. Secara tidak langsung hal ini sama saja dengan bunuh diri. Kasus lain adalah demam berdarah. Sisi positif dari budaya bunuh diri Pendapat saya yang terakhir ini rada ngawur, "Gimana sih, bunuh diri koq dianggap positif ?".

Sedikit catatan, positif yang dimaksud tentu saja bagi masyarakat atau budaya Jepang bukan budaya Indonesia. Bagi budaya Indonesia jelas tidak ada untungnya terlebih lagi untuk kalangan pejabat dan koruptor. Lho, apa hubungannya ? Tentu saja ada. Contohnya seperti terbongkarnya kasus korupsi di kalangan pejabat publik, tidak harus ditebus sampai harus bunuh segala diri atau bahkan tidak ada ritual potong jari ala yakuza sekalipun. (Ada ada saja, cuma salah prosedur koq dituntut harus bunuh diri). Semua masalah cukup dihadapi dengan cengar cengir saja, toh nanti seiring dengan waktu, kasusnya akan hilang dengan sendirinya.Ditulis oleh : nyoman ardika Nagoya.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar