Di pinggir sungai tanpa kolonialisme jasa

Di pinggir sungai dengan perasaan yang hanyut kemuara, jika tak di sini maka gejolak hidup amat cerdas menyeretku keruang-ruang; gengsi, hiburan, kendaraan serta hirukpikuk, mungkin juga tentang pakaian necis, wajah fresh, seakan siap korelasi, bahkan siap beri pelayann jasa. Dunia di luar sana sedang merias dunia dengan pengembangan teknologi tanpa perhitungan, dan pikiran dunia sedang diterjemahkan, ya hampir lekat pada dinamika hidup meng-global, kisruh yang membuka rahasia tentang medan pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah, dan manusia di luar batas negaranya penuh haru-biru, tanpa di pinggir sungai maka : di luar sana mengarung sebait era yang terlindas oleh symponi ambisi diri sedang wajah kekasihmu tak tampak jelas seolah meriak muka dalam air kolam.

Tapi dipinggir sungai, masih kusedot kopi hitam dengan harga yang lumayan minim jika di banding ngopi di cafĂ©, mal, plasa , (segelas 2 rb di banding 7 rb bahkan 70 rb semisal di...blackcanyon ?), masih di pinggir sungai terlupa dari mengikuti issu-issu panas pradaban, juga ….saat sebagian elit Indonesia mengalami disorientasi, tentang lantang mereka pada koar “apa yang terbaik bisa kulakukan untuk negeri ini?”, sementara sebagian lainnya sibuk menjadi drakula ekonomi bangsanya sendiri?.

demikian halus kukira "era yg melindasku ke symponi ambisi diri ini", atau kutelah terjajah dengan seserpih nikmat mesin gigantik akan perubahan dekade-dekade  ini. hidup serba tak terkira lalu terjelas dengan korban dari sebuah gejala (hipotetis) baru, bernama: kolonialisme jasa. Tak dimanapun karena kota tujuan telah meneggelam dengan bau anyir, kadang menyeruak dari resleting celana, dan rok mini yang tampak kedodoran, sebab di kota ini segalanya menjadi halal”, jika bukan terjajah, mungkin ini magma cinta yg kita telan atau lahar yg kita muntahkan, begitu rekayasa....dan kita mengasihi dengan jalan pura2 seperti ini. "aku menyayangmu..", katanya dengan malumalu.

kolonialisme jasa dan melupakan arus sungai yang tenang hingga kemuara, kolonialisme jasa dan bau pesing yang memekak, anak2 kita sedang ngompol di celana, < semua orang bisa melihatnya, tapi hanya kita yang merasakan kehangatan sebenarnya ?. Trim s'__kaimuddin mbck "di pinggir sungai saja, ku se-enaknya" tanpa kolonialisme jasa

{ 2 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Anonim mengatakan...

diksi : drakula ekonomi, kolonialisme jasa sebuah pemahaman yang dalam pada masalah sosial budaya negeri ini! Trima kasih Baco!

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

penyakit yg di sangka bukan "penyakit", haha..ha...makasih bang JBS

Posting Komentar