Seniman Biola di Kabupaten Maros

Tutur *Uak Daming terhadap bermain biola
Hal yang sulit dan canggung dalam bermain biola sebab 2 aktualisasi harus 
terjadi yaitu menggosok senar dengan menggunakan busur dan menekan atau menindis senar biola mengikuti nada struktural, dan perlu diingat bahwa biola tidak mempunyai grip sebagaimana alat petik lainya misalnya gitar, okulele, mandolin dll. irama biola mendekatkan pelakunya dengan aspek "peka/rasa yang dalam"



Pada muridnya* ia memberi semangat," hal menarik untuk menengok kembali apa yang disebut sebagai seni permainan biola. Belajar bermain biola merupakan sebuah jalan yang panjang, dan Anda harus yakin bahwa Anda siap untuk disiplin, teknik yang sulit, dan siap untuk melakukan praktek  setiap hari. pada , tapi setelah berlatih beberapa Anda harus dapat belajar dan membuat musik dengan biola dan busur.ia dikenang bukan hanya sebagai mekanis yang dahsyat, dan orang-orang yang sezaman dengannya di kab.Maros terutama penggiat seni tahun 60 an, terkesan dengan kecemerlangan interpretasi, keluaran nada bernyanyi yang indah, dan teknik menawan. tetapi juga seniman besar ini tahu bagaimana membius dan menyentuh pendengarnya.

Dalam proses menengok kembali ini pula orang akan bertemu dengan nama Uak Daming yang dikenang dengan rasa hormat karena pengabdian dan pengaruhnya pada permainan biola yang menurut Dg.Subhu Desang dg.Ngerang  telah mencapai karakter tertinggi. . Konon, mendengar permainannya orang akan selalu terpesona karena ia membangkitkan antusiasme, dan orang selalu diyakinkan pada penguasaan luar biasa.
Seniman Biola di Kabupaten Maros tahun 60 an

Pada masa hidupnya, sebagai empu biola periode awal di kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan. dalam penelusuran jejak ini ia tidak banyak menghasilkan karya. Meskipun demikian, melalui karyanya ia meletakkan dasar sebagai pemusik Biola di kabupaten ini. hal yang sebabkan tak banyak karya karena ia merupakan pengkritik keras terhadap skill /iramanya sendiri yg setiap saat selalu diasahnya hingga akhir hayatnya. Tapi sesuatu menguat sebagai pappaseng buat pengetahuan kearifan lokal ini sebab  Uak Daming menitipkan terjememahan dalam salah satu syair pada iringan biolanya 

~Duppa mata ninitokko; ennau mata-tokko; ajak murikapang. (bahasa Bugis )
dengan maksud terjemahan: Jika kita bertemu pandang, berusahalah menghilangkan kesan yang dapat mencurigakan.

Teks sastra ini diterangkan oleh sumber Uak Daming[*,“ sebuah keadaan saat seseorang harus merahasiakan suasana hatinya atau terdapatnya keinginan untuk saling menyukai sebagai pasangan muda-muda tetapi karena aturan adat, dan kosmologi era itu menyebabkan, suasana hati belum layak atau sesuatu yang menakutkan jika diketahui oleh khalayak, keadaan ini juga merupakan sinyalemen masa lalu bahwa betapa salin-menyukai (ri sipakuru sumangekeng) tak bisa terjadi sebelum hubungan itu telah disahkan oleh aturan adat dalam bab passaleng mappannessa apporio rennu, sebelum segalanya mari ..saling mencuri pandang nasaba uddani ri cappa duppa matae, (hanya pandangan mata yang dapat mengantarai rindu) kesan ini tidak sederhana sebab timbangan etika atau moral yang melatar belakangi situasi lampau ini.

*Pemusik Biola dari daerah Panjallangingang kab.Maros.
*Dg. Umang dan Hattabo

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar