Apresiasi Gila atas fiksi : dialog sastra

Sebab sastra membedah dengan dengan cermat, dan ia tak hanya teks, aspek kelisananpun merupakan hal yang menting untuk dimunculkan ke permukaan sebagai sebuah karya sastra, dan memiliki kedudukan yang layak untuk sebuah pengertian tentang kesusastraan.

Ingat, Soekarno, presiden pertama RI, selalu menggunakan tutur bahasa yang indah, menggoda dan berapi-api. Sehingga mampu mengalihkan semua pendengaran para audiensnya.

fiksi, sejarah,  fakta juga masalalu tetap diperlukan untuk memahami masa kini, hal ini pernah di sandingkan dengan prinsif Abraham Lincoln tang mengaggap bahwa tak sepenuhnya harus kapak dalam menebang pohon, tapi kapak itu syaratnya harus tajam. katanya ,"Seandainya saya mempunyai waktu sepuluh jam untuk menebang pohon, saya akan melewatkan delapan jam pertama untuk mengasah kapak saya.

kata seorang sastrawan segala memang mesti di tulis, tapi proses mengendapkan peristiwa, bagi penulis itulah "kita", kali lain ia mengatakan "kita  hanya punya ini...mengendapkan peristiwa" 


Metafora "Lampu Jalan" Obyek sederhana
Ketika rindu tersurat dan hanya lampu jalan menemani larut,
akhirnyapun lampu jalan itu lelah, seperti
anak- suatu bangsa yang sedang terpuruk,
ia menuggu pergantian waktu. tapi kebebasan tak pernah sampai padanya,
lampu jalan itu suaranya sayup sebab tenggorokannya kering
Tapi ada yang coba yg memberinya air, meskipun si pemberi
  tak tahu,  jika ia telah kehilangan segala-gala termasuk rasa sakit.

______________

Dan di antara kepengecutan ia tetap menggandeng kekasihnya,
bukan bodoh atau nekad, ia tak tahu di dunia mana ia kini, ia tersihir, mungkin... ini yang tak kau tahu, 

Apresiasi Gila atas fiksi : dialog sastra

Setelah bahan diendapkan berikutnya adalah mengentalkan

" ya tidak seperti kemarin, ketika suara-suara denyut nadi melemah, dan ta se-tekspun kutemukan
karenannya  "aku memasukkan diriku kedalam pohon, atau menjelma tanah pada kemarau, ini gila...,  diriku sendiri membenam otakku juga memakannya sedikit-demi sedikit tanpa tatakrama,
Uh... aku takkan berhenti hingga sebuah judul kutemukan. Atau tatapanmu itu tak sekedar sinar tapi juga  bius.

________
Setelah proses mengentalkan peristiwa,  aku menolak pernyataan berikut tentang kita bisa meniru tingkah laku seseorang, namun tidak mungkin bisa meniru keberuntungan.


Hasan Aspahani bernah bilang “Puisi adalah serangkaian pertanyaan yang tidak berhasrat memburu jawaban.”, 

atau bagaimana dengan ini 
"fiksi.... telah memilihku menjadi celah sunyi di antara baris-barisnya yang terang. Dimintanya aku tetap redup dan remang.”. 

peng-apresiasi itu pembeli
Catatan ini hanya tulis-tulis saja, layak juga di simpan pada tumpukan sampah. tapi bagaimana jika anda mengemasnya dan mungkin memberinya bingkai biar menarik, tentu akan sangat mengasyikkan untuk dibaca. Pertanyaannya adalah, siapa yang mengetahui kemasan itu menarik atau tidaknya?, Tentu saja jawabannya adalah pembaca. 

Bagaimanapun, pembaca adalah ‘pembeli’ yang akan menilai layak tidaknya suatu produk karya sastra ‘dibeli’ atau tidak. Mereka mungkin akan mencoba membaca satu-dua paragraf awal, sebelum memutuskan untuk meneruskan membaca paragraf selanjutnya atau tidak.tapi percayalah pada kriteria kekutan teks berikut ini, yang mengharuskan adanya Inovasi (pembaruan ide, gaya bercerita), Koherensi (Keterpaduan) Kompleksitas (kerumitan alur/cerita) Orisinalitas (keaslian) Kematangan (wawasan/intelektualitas penulis)dan Eksplorasi.

catatan yang mengakhiri dialog dengan teman-teman kampus di HIMABAS STKIP Maros.  Memuat kaidah bahwa pujilah sebuah karya, dalam batas-batas yang wajar ketika mampu meningkatkan motivasi menulis si penulis. Tetapi, jangan membunuh kreativitasnya dengan selalu mengatakan bahwa karya tersebut bagus, indah, menarik..dan sebagainya tanpa balans /imbangan  kritik yang membangun.

Ke-unikan Peran Sastra adalah mata jiwa yang bisa dijadikan referensi oleh penikmatnya dalam merespons konflik dan tingkah kehidupan di dunia nyata. Di tengah arus global, zaman industri terdorong melesat memasuki era informasi. Peristiwa dan tren di satu belahan dunia, nyaris tanpa jarak waktu menginspirasi belahan dunia lain. Arus informasi begitu deras membobol batas kearifan lokalitas budaya dan rambu moral di sebuah wilayah. Begitu bebas, begitu liar.

Di tengah carut marut itu, sastra menyempurnakan (keliaran) gaya hidup era informasi dengan mendorong zaman memasuki peradaban lebih maju dari yang sebelumnya berada di era informasi global ke era konseptual. Pengalaman merasakan dampak global era informasi dengan segenap keresahannya telah mendewasakan penghuni bumi menemukan konsep nilai-nilai kehidupan. Globalitas yang galau tidak lagi dipuja. Mereka justru merindukan nilai-nilai kearifan pada lokalitas. Dalam konteks tersebut, sastra menjadi referensi cerdas yang mengantar umat manusia menemukan kedamaian nilai etik dan estetik dalam kehidupan yang lelah menghadapi kegalauan.

Kecerdasan sastra adalah kecerdasan mendalam. Sastra tidak hanya menawarkan kecerdasan intelektual namun juga kecerdasan emosional. Sastra selain memungkinkan sebagai media menimba pengetahuan, juga menjadi referensi dalam melatih kearifan merespons persoalan.
Sastra mendidik karakter dengan cara tidak biasa. Dengan bahasa yang indah sastra mengajarkan nilai-nilai kebaikan tanpa menggurui tapi memaparkan dan mengungkapkan fakta, tak hanya fakta fisik tapi juga fakta non fisik: hati, pikiran dan perasaan. Sastra mengajarkan bagaimana kita harusnya merespons konflik lewat perbedaan dan perbandingan karakter tokoh-tokohnya. Sastra menggugah kesadaran untuk mengajak perubahan yang lebih baik lewat tema yang disodorkan.

Lebih dari sekadar ekspresi seni, sastra adalah referensi berharga untuk melatih kearifan merespons keadaan. Sastra ’mengajarkan’ bagaimana kita mengelola konflik dengan bijaksana, menganalisa keadaan dengan kecerdasan emosi dan intelektual. Tidak terbantah, sastra adalah jendela kearifan jiwa, jalan kedamaian rohani dan alat melembutkan perilaku. Ini karena sastra memang menghargai nilai positif kehidupan dan pemuja kelembutan hati dan kedamaian rohani.

Hampir dapat dipastikan, penikmat sastra menolak kekerasan dan lebih cerdas secara emosi dalam merespons irama kehidupan. Sebaliknya, para pemuja kekerasan di jalan, koruptor negeri dan pemuja kejahatan lainnya, dapat dipastikan bukan penikmat sastra yang baik___(tulisan dari berbagai sumber).
________________
kaimuddin mbck  > suka dengan teks 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar