peSta SetubuhAn tiRam : perLawAnan hedONisme

Anak-anak itu tanpa sendal dan celana, coba ceritakan padamu tentang setubuhan tiram, maaf ini bukan tentang kebaikan dan keburukan, tetapi tiram di benaknya, "mengenalkanmu akan goyangan air dan sebutir mutiara sebagai hadiah".

Kiprah titik kembang dari pedesaan meskipun mengalami degradasi aktivitas yang dilakukan, tapi titik – titik kecerdasan habitat ini berhubungan langsung dengan sensor motorik, sehingga untuk mengetahui potensi anak kita tidak perlu lagi membedah otaknya, cukup memperhatikan aktivitasnya, demikian di sebuah pedesaan. Kisah ini kami mulai  ke jeda waktu sebelum siluet menepi di bantaran sungai

: sebuah gema dalam pesta semesta dari riang anak-anak sepulang mengaji dan qur' an di tangannya di kibas-kibas ke awan , upss...jangan manarik perhatian mereka, dipeluknya warna-warni siluet yang tinggal titik-titik itu, aihh….sosok kaki kecil telanjang berlaril-ari di bantaran sungai, segimbal daun mangga dipanjat-nya sambil berayun,  "hiyyauuu....", teriak salah sorang bocah, nampak giginya yang tanggal, memanggil berloncatan pada pohon yang daunya terjulur menyentuh arus air , (penuh senyum kukira anak-anak itu..., mendung sungguh jauh dari wajahnya ), usai sorak sore, hanya pelepah patah dan biji mangga yang berserakan sebagai akhir pesta mereka
 
"Anak-anak itu" dan sebuah perlawanan hedonisme,

Reaktualisasi dari sebuah teks ketika Hitler mengatakan "Tidak akan kubantai habis seluruh yahudi agar di masa yang akan datang kalian mengerti alasan mengapa aku membantai mereka",[Adolf Hitler dalam Bukunya Mein Kampf], SEBELUM-nya bukan anak2 itu yang disisakan oleh hitler, mereka anak-anak itu berada disini dengan benak mengenal goyangan air dan sebutir mutiara,  Anak-anak mengaji itu memilih untuk menempuh cara beradaptasi  dengan sadar maupun tidak, tapi mereka telah menyerahkan diri dan kemandiriannya pada keadaan yang  sesuai dengan keinginan kemanusiaan-nya.

jika kau disini, di pinggir sungai_kau tak mungkin pulang, sebelum mengenal cerita tentang "air" dari seorang ayah pada anaknya, (celoteh berikut - katanya......Ikan kecil itu tinggal di sebuah sungai yang jernih, tetapi dia tidak tahu apa itu air… Pada suatu siang yang cerah, saat hari libur, seorang ayah mengajak anak laki-lakinya untuk duduk di pinggir sungai yang jernih. Sang ayah mengatakan pada anaknya, “Anakku, kita semua harus selalu menjaga kebersihan dan tidak melakukan pemborosan pada air, karena air adalah sumber kehidupan makhluk hidup, kita tidak akan bisa bertahan hidup tanpa air,”. Sang anak mengangguk dan berjanji tidak akan boros menggunakan air. Di dalam sungai, seekor ikan mas kecil mendengarkan percakapan tersebut. Tiba-tiba ia menjadi cemas karena seumur hidupnya, dia tidak tahu apa itu air dan darimana datangnya.

Di bantaran sungai marusu, mengendap pedalaman yang tumbuh sendiri, aroma pesisir, bunyi ayam dan suara anak-anak mengaji di kolom rumah...sore melekat, melenggang jauh ke lubuk riwayat, kepesan attorioloang ( leluhur Bugis) "padallisuni' na' nakko mangaribini nrara i' setangnge", (pulanglah nak sebab jika maghrib setan sedang berkeliaran) ya...keceriaan anak-anak itu ...mengantar perjalanan mega-mega sepanjang bantaran sungai, hingga akhirnya "sore dan senja" adalah peta tempat rindu duduk istiarah dan beristirahat, TUNGGU DULU...detik detik angin hampir kelelahan ketika kau hendak pulang tergesa-gesa, Psikolog Ratnaningsih mengingatkan potensial alami dini ," anak dari kemampuan verbal atau bahasanya bagus, arahkanlah sejak awal. sebab kemampuan serap bahasa, menstimulasi pengembangan dirinya sebagai kecerdasan alami mereka. Sejak dini adalah penyadaran mengenali potensi mereka juga merupakan perLawAnan terhadap hedONisme

Disini wajah kita mengerang pada senyum anak-anak itu dan rindunya ruang lebur , tempatmu melupakan diri sendiri ? wassalam...catatan~ kaimuddin mbck

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar