Indonesia Terburuk : pelajaran 3

KONSEPSI keteladanan melahirkan tokoh, sebuah antara dan kemestian hari ini bagi Anak-anak kita dalam  belajar banyak hal dan melakukan proses peniruan, jadi apa yang mereka lakukan ketika melihat Indonesia hari ini..?, melihat perilaku kita?, ("kita" Colek: pencuri, rampok menjadi : koruptor, juga rekayasa sosial yang begitu rumit ?, dan apa konsekuensi hukum kita hari ini ?). MENARIk menyandingkan keadaan Indonesia ini dengan segala implikasi dasar sandingan hidup bagi indonesia yang dominan muslim, semisal menyangkut tauhid / tawhid, untuk membincangkan pesan dasar yang merupakan perjanjian primordial atas tawaran perbuatan buruk secara plural tadi, ke-mengakui hanya ada “Satu Tuhan” (tawhid). Sedang tawhid berkaitan dengan sikap percaya atau beriman kepada Allah termasuk pengawasanNya, kehendakNya, dan keinginan Allah lah yang mengantarai segalannya sebagai dogma, juga ancaman, dan penderitaan atas segala pelanggaran hidup. Namun nilai tawhid sebagai ekspresi keteladanan sungguh jauh dari resolusi atas prediksi Indonesia terburuk. [1]Keyakinan Mengalahkan Apapun "

Pelajaran Konseptual tadi yang membenci kemungkaran, kezaliman, ketidakadilan, dsb. pun tak menghilangkan sistem-sistem “kemungkaran” itu. Atau merujuk ke sebuah sistim yang diyakini oleh pemikir Islam dengan konsepsi "Islam Aktual", Pandangan itu berbunyi bahwa " pelajaran untuk Indonesia hari ini yaitu kekuatan yang terletak dalam tindakan, bukan pada teks-teks suci yang mereka yakini, konsepsi demikian telah terbukti mengubah kehidupan secara plural bahkan telah terbukti dalam sejarah dunia[2] . Tak setuju silahkan interupsi ...!!

Indonesia Terburuk : pelajaran 3

Pelajaran (1)*Indonesia tanpa masa depan

Citra buruk kita, sebab budaya kita yang terus-menerus korupsi. Awalnya korupsi waktu, lama-lama money laundering. Indonesia merupakan salah satu Negara yang melakukan pelanggaran tindak pidana korupsi terbesar di dunia. Salah siapa? Salah mayarakat kecil? Mungkin segelintir orang menganggap bahwa orang yang dalam taraf kemiskinan lah, yang menjadi momok untuk Negara ini. Namun kenyataan adanya perselingkuhan hukum yang ternyata jauh di luar dugaan, adanya praktek-praktek korupsi yang dilakukan oleh para penguasa di Negara ini.misalnya saja Memberi pengakuan modus operandi secara umum, modus operandi dalam pemalsuan pajak, modus operandi dalam pengadaan barang dan jasa, modus operandi dalam pencucian uang, modus operandi dalam pengelolaan hutan,dan bagaimana sebenarnya modus operandi tersebut dapat terjadi dan berperan dalam persidangan dan pelelangan semu tersebut telah menjadi rahasia umum tentang keadaan yang terjadi di Indonesia. Kalau pemimpinnya seperti ini, gimana anak buahnya? Inilah yang menyebabkan para koruptor merasa wajar akan korupsi yang dilakukan, dan sudah menjadi idenditas dan citra tersebut sulit untuk diubah. Menurut Kennedy, Perubahan adalah hukum kehidupan. Orang-orang yang hanya memandang masa lalu atau saat ini, maka mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki masa depan.

Tokoh lintas agama dan para pemimpin dalam "refleksi akhir tahun" menanggapi perihal bangsa kita, bahwa "Penegakan hukum belum adil, masih tebang-pilih juga kasus korupsi yang lemah apresiasi, Pemerintah dan pihak penguasa saat ini lebih mengedepankan kepentingan kekuatan besar , terabaikan-nya sikap musyawarah yang akhirnya adalah sejumlah kasus...yang kita sedihkan bersama". Pada akhirnya jangan harap apa-apa dari kekuatan generasi ini..

Pelajaran (2)*Jika Perubahan Indonesia?

Jordan Bayern pun memiliki anggapan yang sama, termasuk kesalahan besar jika anda meyakini bahwa anda dilahirkan dari orang tertentu yang tidak mendukung untuk menjalani perubahan. Sungguh anda selalu dalam perubahan setiap waktu . pendapat ini lebih mengacu kepada keengganan kita untuk melakukan perubahan terhadap budaya kita yang salah. Bukan karena tidak mungkin bisa ada perubahan di Indonesia, seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami, tapi kita belum pernah mencobanya, mencoba untuk berubah. Dimulai dari diri sendiri, mengubah sesuatu yang besar di dalam kehidupan kita, juga dimulai dari perubahan pola pikir kita yang sempit. Apabila kita diberikan suatu perkara, bagaimana kita dapat bertanggung jawab atas perkara besar, kalau kita belum bertanggung jawab atas perkara kecil.

Pelajaran (3) *Tawaran sederhana U Indonesia


Seseorang dengan keyakinan sama dengan kekuasaan sembilan puluh sembilan orang yang hanya memiliki minat dan motivasi” John Stuart Mill. Catatan dan perjalanan hidup seorang tokoh, kemungkinan ada yang paling memengaruh dalam hidup Anda. ya sebuah nama yang mengukir sejarah hidup Anda sendiri. Tahukan Anda nama milik siapakah itu? Yah itu Nama Anda sendiri.dan....Pelajaran 2 : " Keyakinan Mengalahkan Apapun "
____________
Catatan kaki

(1). Dalam konteks peng-Esa-an Tuhan ini sekalian untuk dibincangkan lebih jauh bagaimana Cak Nur mengelaborasi dalam ranah social-politik. Tahun 70an umat Islam Indonesia disuguhi debat menarik dan “menggairahkan” dunia intelektual akademis keislaman. Pemicunya adalah kontroversi semantik yang digunakan Nurcholish Madjid sekitar rasionalisasi, sekularisasi dan deskralisasi. Tesis Cak Nur adalah bahwa umat Islam perlu dibebaskan dari sakralitas semu dan ideologi keagamaan yang membelenggu pontensi inteleknya dan menjadi “tembok-tembok tebal dan tinggi” penahan laju dan penghambat kemajuan peradabannya. Maka, kira-kira, dalam pikiran Cak Nur sebagai berikut: umat ini tidak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar disebut agama dan mana yang hanya sekadar pemahaman dan pendapat seorang ulama. Untuk itu, umat perlu melakukan profansisasi masalah-masalah duniawi yang pendekatannya membutuhkan sikap obyektif-rasional dari masalah-masalah iman, akidah dan ibadah yang bersifat spiritual-ruhaniah. Cak Nur mengharapkan umat liberal dari absolutisme dan otoritas keagamaan. Cak Nur mengimpikan umat dapat dimerdekakan dari sikap-sikap kurang dewasa dalam beragama, keberagamaan yang penuh kuah claim of truth, kavling-kavling kebenaran hanya bagi diri dan kelompoknya, kesombongan intelektual, otoritas dan institusi keagamaan bak penjaga iman dan akidah, beragama yang serba formalistik-normatif. Berangkat dari itu Cak Nur menyodorkan keislaman yang inklusif, semangat al-hanafiyah al-samhah, egaliter, pluralistik dan demokratis.

(2). Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual, Mizan, 1991, hal 1

Indonesia Terburuk : pelajaran

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar