buku kuning di sanggar turi

*membaca baris-baris kasih dalam diary tua itu, mengenalkan marusu tempat asalku menempa, dan tumbuh penuh akar, sebegini aku terbang ke puncak sayang...., ke lintang langit kerembulan yang selalu purnama,dan kita terlanjur tak bisa mengingat,kecuali menyibak RERUMPUTAN pagi : yang semalam tadi, bulan sembunyi di rimbun-nya_(dan catatan lain.....adalah mengubur segenap ingatan di hamparan tanah, aku telah menghapal seluruh lekuk tanpa bicara,tanpa memberitahumu bahwa di tempat itu aku, "mengabadikanmu" (di sanggar turi ada pak tunggal, tedja, wawan mattaliu, lori hendrajya, ada kukkulu, sambar, imbung multazim, rudi tulen dll)
Siapa yang ingat waktu zaman Smp dulu saling bertukar buku diary?
Sebutan diare sebenarnya tidak pas karena yang dimaksud bukan diary sebagai catatan harian, tapi sebagai biodata. Yah, namanya juga anak SD. Hanya karena buku itu di sampulnya ada tulisan “Diary” jadi dibilang, “Eh, isi diare-ku dong.”( ya....bingung saja waktu salah satu temanku bilang begitu )

Membuka-buka buku biodata itu lagi, aku jadi teringat beberapa teman yang hampir terlupa, dan bertanya bagaimana kabar mereka sekarang, ya ?. Coretan-coretan penuh warna, tempelan-tempelan lucu, dan goresan-goresan unik membuatku tersenyum ketika membuka setiap halamannya.
Terima kasih atas kenangan yang telah kalian berikan. Hmm… zaman sekarang masih ada nak sekolah ya punya buku diare? maksudku diary, membuka diary tua  banyak  inspirasi dari anak-anak muda polos bangsa yang kreatif menulis ketika itu sebutlah : wawan mattaliu, lori Hendra jaya juga beberapa lukisan (lebih mirip coretan kredo) karya Muh Rian Rusli,

Kegembiraan dalam lintas kenang ini ku masukin saja ke-blog , buat mereka "aku bangga diberi kesempatan mengenal dan membaca gurat tulisan dan lukisan mereka di era kontemporer ini, dulu itu mereka begitu poloss..., skarang ? wassalam.

Buku Diary  Biru 1995

Januari awal tahun  2012, mengantarai  cerita.. "apa pun semua yang baik, maka semua boleh di jadikan pedoman", kataku. yang buruk itu jadikan saja iktibar untuk hari-hari yang mendatang.. semua orang pasti mengharapkan apa yang terbaik untuk hari seterusnya..kenangan itu adakalanya kita boleh simpan selamanya, adakalanya ia cuma sementara dan kita akan me-lupakannya...
bisa mengembalikan kita pada titik nol atas kejenuhan-kejenuhan ataupun stres dalam menghadapi persoalan hidup. Karena didalam pertemuan itu akan menggalang rasa persaudaraan dan juga menjalin persahabatan yang telah lama putus. Pertemuan ini bisa berlanjut dengan obrolan-obrolan positif seperti dunia bisnis hingga mebentuk kumunitas.

 Saat  tepat menjalin kembali kenangan lama itu, membuka dan membaca kembali diary biru itu  bikin hidup trasa lebih bervariasi sebab penuh kemalu-maluan tapi tidak monoton, sebab mereka-mereka itu ya..lucu-lucu...mengenangnya  seolah mengendarai pesva tua taon 61 (sedang mogok di bagasi)  teras enjoy dan seperti bujangan lagi,  tiba-tiba ingat waktu gonrong dulu dengan kayu mati di tangan maksudku gitar dan menyanyikan lagu-lagu kenangan hello..., nothing gona change my lofe for you, atau easy, punya leonal richie aihhh....ya sambil genjrang-genjreng diteras rumah, wah…sekedar bernostalgia sambil menikmati kopi hangat suasana terasa lebih hidup…sambil menunggu tamu tengah malamku *wawan mattaliu yang sering nyiapin (kalo dah kehabisan) nyimpan rokoknya di dompet hingga rokok tersebut tipis sangat tipis sebab di duduki, atau melihat lori hendrajaya dengan celana puntungnya yang kumal setelah ia lukis sendiri dengan gambar LA tepat di saku celana belakangnya. kedua teman tadi ...kini telah bapak ?.

mengenang malam-malam keramat di sanggar turi
Menjadi anggota sanggar (ketika itu aku bergabung di "sanggar turi", sekretariat rumah kediaman Tunggal hayaskoro), pada malam-malam tertentu terjadi pergiliran seorang anggota yang harus di dudukkan "di kursi panas ", atau "di adali dalam setiap malam selasa. Malam selasa selalu lebih ramai  dan inilah penanda judul postingan ini dengan "sejarah Buku Kuning", dengan seabrek kesalahan yang di perbuat si terdakwa dalam tempo sebulannya, dan malam itu "Tedja Yusri " pada kursi terpidana itu, kursi yang menegaskan pencabutan nilai kemanusiaan (sementara) dengan "tanpa hak bicara", ketika semua peserta menegaskan semua kesalahan perbuatannya, ya..malam yang penuh cemas dan mencekam. Sebuah malam yang kukira bagian dari yang membentuk kami semua dan teman2 untuk lebih meniti hidup, dan nilai kritis yang di bangun sejak awal sebagai anggota Sanggar,......bersambung_ (lanjut bikin kolamka dulu nah....

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar