nilai pendidikan dalam cerita rakyat

Menanam nilai pendidikan dalam cerita rakyat sebagai pengantar tidur

Tegaskanlah dengan tradisi bercerita sebab kebiasaan ini sudah dikenal sejak manusia ada di muka bumi ini, jauh sebelum mereka mengenal tulisan, ya..sebuah bentuk penanaman nilai terhadap anak didik lewat tradisi tutur / cerita rakyat, diyakini sebab penelitian menunjukkan bahwa nilai -nilai moral yang tertanam lewat cerita pengantar tidur akan melekat sampai dewasa, hal ini berkaitan dengan salah satu manfaat pemelajaran sastra bercerita rakyat dalam membentuk watak peserta didik. Cerita rakyat bagi masyarakat lampau kab Maros, menyebutnya dgn istilah "Paupau Rikadong", sebuah keinginan dari pelaku/penutur cerita untuk mengekpresikan gagasan atau ide-ide, juga sebagai sarana penting untuk memahamkan dunia kepada orang lain, menyimpan, mewariskan gagasan dan nilai-nilai tersebut dari dan kegenerasi berikutnya.

Cerita rakyat sebagai pengantar tidur adalah upaya menyampaikan sikap, pandangan, dan nasihat dari kemampuan penutur dalam mengelolah lingkungan rohani dan jasmani pendengarnya, dapat juga terkatakan sebagai jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal keberkembangan elemen ini penting untuk memperkuat kohesi sosial di antara warga masyarakat

*Parikadong dari kab.Maros, dalam lacak jejak di kelurahan Bontoa, berjudul "si Pue Pue", telah naskah drama dipublikasikan pada tahun 2007 dalam acara “Festival Budaya Kelong-Kelong dan Dongeng )”, yang digelar oleh Departemen Pariwisata Propinsi Sulawesi Selatan, dan tahun2 berikutnya menyusul Toakala dan Pangulu lading. pada moment yang sama.

nilai pendidikan dalam cerita rakyat  lewat paupau rikadong, serpihan dialog toakala

diyakini akan melekat sampai dewasa, hal ini berkaitan dengan salah satu nilai luhur yang membentuk watak peserta didik.
cerita rakyat kepeserta seminar
  
Perasaan gembira pun meliputi bala tentara Toakala dengan tak sadar berteriak memanggil rajanya,  “Toa…. Bissudaeng, Toa…., Toa….Bissudaeng Toa….”, sambil menggiring Bissudaeng mendekat kearah Toakala yang sedang terkesima, Perasaan Toakala menjadi tak menentu, sambil menatap dalam pada Bissudaeng.
Berkatalah ia dengan suara dingin dan getar, “ Semua ini  terpaksa aku lakukan  Bissudaeng, aku tak pernah gentar menghadapi kerajaan Marusu dan kerajaan Cendrana dan aku sudah siap perang, tak ada yang bisa menghalangiku. Tidak ada yg bisa menghalangiku…!”. suara Toakala seakan  gelegar yang memenuhi langit, pekikan kerapun terdengar nyaring nampaknya ketegasan Toakala membuat Bissudaeng dan para tentaranya menjadi takut.
Suasana sakralpun memenuhi ruang semesta, hening sejenak ketika lamat-lamat prajurit dan kelompok kera tersebut meninggalkan mereka berdua.

Dengan perasaan sedih, Bissudaeng berkata, “ Sejak pertemuan kita diarena permainan raga di Balla Lompoa, banyak putra-putra kerajaan yang hadir. Aku tak pernah lupa ketika daeng menjatuhkan bola raga di pangkuanku dalam acara marraga itu, peristiwa itu membuat semua orang menatapku tak terkecuali  ayahandaku…, aku berusaha menyakinkan semua orang kalau aku mencintaimu, tapi…. ayahku tetap ayahku,  jadi aku harus patuh kepadanya”.....dstdihttp://www.sangbaco.com/2012/01/toakala-dan-bissudaeng-cerita-rakyat.html

Nilai pendidikan dalam cerita rakyat versus peradaban global 

Ke-akraban anak-anak Indonesia dengan tokoh-tokoh kartun yang kami contohkan seperti sebelumnya dalam pengantar tema ini mencederai tumbuh kembangnya pengetahuan keragaman budaya nasional kita, termasuk keberadaan bahasa daerah kita di nusantara jarang sekali terdengar karenanya. Kemanakah cerita anak yang berlatar belakang budaya daerah yang ada di Indonesia? Mana produk bangsa ini yang bisa memperkaya generasi muda dan meluaskan wawasan mereka terhadap multikultur dan kemajemukan budaya bangsa? Tanpa sadar, kita telah dimiskinkan oleh aneka tontonan dan tayangan yang mencerminkan budaya –budaya luar.

(pendidikan dalam cerita rakyat tradisi awal Muharram dalam Mappeca Sura' di Kab.Maros,SulSel_Pappaseng deceng / amanah kebaikan dalam menghargai bulan Muharram iniyang secara kolektif berlaku bagi yang merayakan, teranggap merupakan waktu-waktu yang sakral : sebagai langkah awal dibulan pertama dengan memohon doa untuk keberlangsungan
segala kebaikan selama 1(satu) tahun.

nilai pendidikan dalam cerita rakyat aspek religi 

Sejarah Peringatan Muharram, adalah nama bulan yang telah ditetapkan di Arab sejak pra kenabian, kemudian oleh Rasulullah saw, perhitungan tahun ini diadopsi dan dilanjutkan, meskipun demikian, saat itu belum dimulai akan perhitungan tersebut, sehingga tahun-tahun biasanya dinamai dengan peristiwa terpenting yang terjadi pada tahun itu, seperti tahun gajah, tahun kesedihan, dan lain-lain.

Tertanggapi perayaan Muharram ini ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, perhitungan tahun itu dimulai dengan mendasarkan pada hijrahnya nabi saw dari Makkah ke Madinah.Indikasi peristiwa bulan muharram ini dari sebuah sumber mengatakan" bulan Muharram ini dinisbahkan sebagai peristiwa mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid.sebuah tradisi Mappeca Sura' di Kab.Maros,SulSel

Tetapi sumber lain mengungkapkan tentang tradisi Mappeca Sura' pada bulan Muharram oleh masyarakat Kab.Maros, dilansir merupakan makna simbolis dari sebuah kehidupan baru, "merasa hidup baru", keadaan ini mengantarai banyaknya pendudukhttp://www.sangbaco.com/2011/12/demi-cukup-makanan-di-perahu-nabi-nuh.html

Substansi kearifan nilai pendidikan dalam cerita rakyat

Seharusnya tontonan keragaman budaya nusantara disajikan sesering mungkin pada anak-anak generasi penerus bangsa Indonesia, agar mereka tahu produk kearifan budayanya. Media televisi, semestinya memberi lebih banyak ruang tentang cerita daerah di tanah air sendiri. Wassalam 

A. Mengenal suku Bugis makassar sebagai pelaut
Suku Bugis-Makassar adalah salah satu suku di antara sekian banyak suku di Indonesia, mereka bermukim di Pulau Sulawesi Selatan, namun dalam perkembangannya, komunitas ini telah menyebar luas ke seluruh nusantara, sebab sebagian dari mereka lebih suka merantau[1] dengan bermata pencaharian sebagai pedagang, passompe (perantau) dan nelayan, keadaan ini pula menjadi ciri bagi suku Bugis-Makassar yang oleh dunia dikenal sebagai pelaut ulung. Mengenai keberadaan prajurit Bugis-Makassar dalam hubungan mereka dengan orang portugis, buku “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004” menguraikan sebagai berikut ;

“….kedua suku bangsa ini sangat terkenal karena reputasi mereka sebagai prajurit-prajurit yang paling ditakuti di Nusantara. Mereka juga prajurit-prajurit yang paling profesional. Terdapat naskah-naskah yang memuat terjemahan karangan-karangan berbahasa Spanyol dan Portugis mengenai pembuatan meriam kedalam bahasa Bugis-Makassar dan tidak ada satupun terjemahan semacam itu dalam bahasa Indonesia lainya…”(M.C.Ricklefs,2001).

Silang pendapat tentang asal muasal nama Bugis dan Makassar terdapat rujukan yang berbeda-beda, ada yang melansir asal orang Bugis-Makassar itu dari satu orang tua, yang menurungkan dua anak. Satunya berperangai agak kasar maka disebutlah makasara. sedangkan satunya lagi lembut atau maugi kemudian menjadi Ugi dan berkembang menjadi Bugis, berikut bahasan suku Bugis dan Makassar dalam paparan yang terpisah.http://www.sangbaco.com/2011/07/suku-bugis-dan-makassar-sebuah-nama.html

Berhitung Kearifan Lokal ke Pembelajaran nilai pendidikan dalam cerita rakyat 
 "Tradisi adalah rumah kita sesungguhnya, rumah yang tak muncul hanya karena kita menyembunyikannya di balik berbagai rumah kaca, padahal tradisi adalah rumah susun dari kristal kearifan. , menantang kita mengasahnya._Buku > Seni Budaya lokal Maros

*Kebudayaan nasional tidak dapat dipandang sebagai rumah kebudayaan tunggal yang mengingkari keanekaragaman, tetapi justru sebaiknya dipahami sebagai sebaran dari sekian banyak rumah budaya kecil yang kemudian membentuk sinerji sosial dan mempunyai pengaruh besar terhadap proses-proses penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Keanekaragaman juga termasuk di dalamnya bahasa dan aksara yang dipakai dalam naskah, termasuk juga bentuk, isi serta pengaruh asing yang masuk ke dalamnya

*mengangkat nilai-nilai sosial budaya daerah yang luhur serta menyerap nilai-nilai dari luar yang positif , juga diperlukan dalam proses pembaharuan ke pembangunan bangsa. sunting dari cat.pinggir > Berhitung Kearifan Lokal ke Pembelajaran www.Maros Budaya Pappaseng.blogspot.com

*Sirtjo Koolhof, peneliti Sureq Galigo "sastra lisan Bugis Makassar, terdapat Pemakaian bahasa literer yang khusus, metrum, penggunaan sejumlah rumus komposisi, sistem formulaik dan paralelisme. terdapat unsur-unsur yang ada dalam kecerdasan linguistik yang menunjukkan adanya sejenis kecerdasan linguistik yang memungkinkan terbentuknya sebuah komposisi sastra yang epik.....dst di http://www.sangbaco.com/2011/11/berhitung-kearifan-lokal-ke.htmlkaimuddin mbck

temu wisata dan sejarah lewat  nilai pendidikan dalam cerita rakyat

Uak Kope dari Samanggi__2)
Kayukayu Samanggi__3)
 Gua saripa dan 7 nisan Jepang mengantarai jejak Samanggi_4)


Sebuah bebukitan kars dengan panorama yang sangat indah, alam pegunungan berpadu dengan bukit-bukit kebiru-biruan yang klasik, serta hamparan kedai kedai sepanjang jalan milik pribumi yang menjajakan jagung rebus, ke unikan tempat ini membentuk barisan kawasan ini sangat ideal (khususnya remaja) yang melakukan Camping, Caving (Penelusuran Gua) panjat tebing atau sekedar menikmati panorama alam ,sungai dan flora-fauna khas yang terdapat didalamnya, daerah lintas kendaraan antar wilayah provinsi sering singgah untuk istirahat sejenak di kedaikedai tersebut, tetapi...bukan itu, karena tempat ini lebih pada nilai “history Samanggi”, sebuah tempat di Kecamatan Simbang Kab Maros, provinsi sulawesi Selatan.

Dalam history Samanggi sebagai tempat, ditemukan seorang pengelana yang dituakan dengan istilah Jo’a, sebab menemukan atau membuka wilayah pertamakali di tempat tersebut, oleh Joa’ imanggarassa, atau dikenal juga nama lain yaitu Dg Majjoa Imanggarote.
Catatan keberadaan dg. Majjoa inilah kemudian menjadi jejak awal pembicaraan kampung  Simbang ini, dalam catatan lontara Attoriolong di kab Maros, tentang penamaan “samanggi”, menandai tempat ini sebagai pusat atau titik tengah tempat  pertemuan  suku Bugis Bone dan suku Makassar Gowa pada periode yang sangat awal (sebelum berdirinya imperium  kerajaan Bugis dan Makassar).

Crew Budaya Pappaseng Maros ke lacak jejak ini, terjelaskan asal kata “samanggi”, bahwa Samanggi sebagai nama kampung dalam literasi bahasa Makassar disebut dengan “samangki”, sedang dalam literasi bahasa Bugis dinamakan  “samakki”,: sebuah tutur yang berbeda tetapi berarti sama yaitu “bersamaan “, atau bersamaan berada di tempat tersebut, (daerah Parang Tinggia spesifik tempat) Sebuah peristiwa sebelum masa damai atau masa konflik antara dua suku besar yang berakhir atas terjalinnya hubungan kekerabatan sebab “pernikahan” yang kemudian melahirkan  kesepakatan  damai dan ke-tentraman. yang disaksikan oleh Gallarang Tallua dalam hal ini adalah Samangki, Sampakang dan Sambueja, (dibawah naungan tukusiang atau kelompok kesukuan “Simbang”,  yang di pimpin oleh Dg Majjoa Imanggarote dan sahabatnya Imagguliling petta benteng.
Senja mulai turun ketika petualangan wisata dan lacak jejak ini, di depan mata terhampar rumah Dgn. Moddo, episode history samanggi  ini juga menyerempet  dalam parikadong/ cerita rakyat tentang  “Uak kope”, yang keluar dari mulut beliau, kope menurutnya (maaf) payudara seseorang mampu di bentang kebelakang jika menyusukan anaknya, yah.., seorang perempuan yang menjadi insfirasi paupau parikadong masyarakat samanggi, bernama Uak Kope…..dst (akan kami ceritakan pd episode berikutnya).http://www.sangbaco.com/2011/07/posts-tagged-wisata-sejarah-samanggi1.html


Nilai Pendidikan Dalam Cerita Rakyat dalam Esai ”Bugis-Makassar satu adanya"

Mengapa 2 etnik ini ”Bugis-Makassar”selalu di dikaitkan bahkan disatukan 


Buku ditulis oleh Leonard Andayai menyampaikan sebabnya bahwa, “Arung Palakka. Ia tidak menaruh dendam kepada Kerajaan Gowa yang menguasai Bone, ketika itu, bahkan Arung Palakka kemudian mendekatkan semua kerajaan besar yang ada di Sulawesi Selatan dalam satu ikatan perkawinan. 

Dan Bagi orang Makassar, mereka sebenarnya tidak memiliki dendam dengan orang Bugis. Sebab, keterlibatan orang Bugis hanyalah mempercepat terjadinya perang. Sebab sejak awal VOC sudah merencanakan untuk menguasai Kerajaan Gowa. 
Leonard Andayai , pada buku “The Heritage of Arung Palakka”,enyampaikan bahwa, “hingga kenyataan tersebut,  di luar Sulawesi Selatan mereka tetap menyatu, bahkan mereka http://www.sangbaco.com/2011/11/mengapa-2-etnik-ini-bugis.html
___________
kaimuddin mbck dalam kumpulan ("nilai pendidikan dalam cerita rakyat

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar