kumpulan puisi seniman maros

Ramai terbit buku antologi puisi, atraktifkan berkali-kali ramaikan khasanah baca puisi di maros bersama para seniman dan sastrawan, pentas baca puis demikian sederhana dan kadang eksklusif, out door maupun in door, gambaran daerah yang menyambut perkembangan seni sastra juga seni seni lainnya menandai tumbuh pesatnya ke aktifan sanggar sanggar sekolah juga UKM kampus. Dalam sejarah kesastraan di maros mengesan nama sanggar tempo dulu yaitu sanggar turi dan sanggar reaksi.


Berikut beberapa puisi yang sempat te-rangkum

 .1. puisi "Toakala
*diapresiasika sebagai pembelajaran di sekolah
“Demi menggenapkan alam
ia,benamkan tubuhnya di bibir gunung
sebab seikat janji telah menetas jadi jejak sejarah”

Catatan itu,menarik pada alam sakral, yang melukis
tubuhnya sendiri dengan lanskap.
:rimbun pohonya adalah baris keteguhan yang menjamu
derasnya hujan,tebingtebing yang rapat selalu jujur gemanya
menjawab kemarau, suara ngengat dan air terjun riuh..ramai…
ciptakan kerajaan bagi putri dan pangeran berkasihkasihan.

Sebelum tidur lamatlamat terdengar kakek menyebutnya benti merrung*.
setelah tidurmu ada yang terus bercerita,
“seikat janji itu adalah ruh,yang tumbuh menjadi alam
bermula ketika aku menyusun batubatu,jadi tubuh bagi air yang
mengalir deras,kupahat “gua Mimpi”tempat citacitaku kau semai
pada nafasku yang lembab,kuterbangkan kalubampa*sepanjang hilir sungai yg berkelakkelok demi sejuk matamu”
-tapi.ada yang tibatiba menguap,berbulu dan sangat besar!
“kelak, seikat janji itu, mengantarku kembali dari maut.
______________________
Kaimuddin.mbck
Bantimurung,Maros19.11.08

Toakala*monyet besar penghuni Bantimurung
Bantimurung*sebuah taman wisata(air terjun&Gua “Mimpi”)di Maros
Benti Merrung* air yang meruah.
Kalubampa*(bhs Macassar kuno)kupu-kupu.

puisi 2 ."02.22

oleh Wawan Mattaliu pada 27 Juni 2011 jam 20:28

sepasang sepatu gelap dan malam memunggungiku.
tentu tanpa lagu

aku terbaring dengan pintu yang tak terkunci
gomorra sangat jauh, juga garis pantai
dengan lelaki yang membelaibelai

tapi kepalaku adalah lorong di pasar yang sempit
kantongan plastik bergesekan
dan serapah tukang parkir mendesing
juga dengan semerbak kol yang berpekanpekan

qaimuddin, kutahu kaulah lelaki yang bersetia
pada daunan mangga dan angin yang biasa saja
melihat para pejalan mungkin juga kucing
yang meraup jantungku dari gelas kopi yang tinggal setengah

katakan padanya, musimku sedang tak baik,
aku butuh amoxilin, bukan radio!
juga sedotan kecil untuk kepalaku yang penuh hujan

aku masih terbaring memeluk telepon
sepatu gelap dan malam memainkan qasidah talqin
serak dan memerih. dan pintu tetap tak kukunci

qaimuddin, kutahu kau masih di situ,
mencintai daunan mangga dan sepi di atas meja
mainkanlah untukku lagu senja dengan nada minor
karena sebentar lagi,di lenganmu
akan kurajah sajakku yang tersesat
di selokan senin kemarin

---kuakan berserah pada luka yang sebenarbenarnya---

mannaungi, 27 juni 2011


 “Hujan di Mata Ibu”                                                                        
                                       “sejauh jejak tapak  kita, sedalam itu pula
luka kerinduan  kita toreh di mata ibu”
Tatapan itu adalah milikmu dik,  ia .........lekat memandangku,
sejenak..., aku kedekatnya  berbaring, kulihat jelas garisgaris lelah di wajahnya. tanganku bergerak, mengusap bekas luka di punggungnya.
aku menyuapnya nasi......tak ditelan, tapi.......mulutnya terus menganga,      "ibu....., takut kematian nak", katanya

Aku tetap disini, walau tak mengerti,
"bukankah, ibu telah lama mati, dalam ....kerinduan yg kau tanam dik?.

aku pulang dik, meski  lebaran ini hujannya begitu deras,
begitu jarum, tak mengapa……,-
-tusukan hujan ini mengembalikan tiap jeda kenangan kita pada ibu.
Dipintu rumah kita aku berdiri,”kujawab apa jika ibu bertanya tentangmu?”
        ,                                 ”kujawab apa jika ibu bertanya tentangmu, dik?”
Akupun mengetuk…,berkali-kali mengetuk.“kukira ibu sedang tidur”.
tapi, sebuah suara dari kamar ibu.
             ”….mengapa sendiri? masuklah dari jendela yang terbuka itu,
             tapi didalam rumah hujan lebih deras nak dan aku..... belum berbuka       
             puasa, selimuti tubuhku ya..”

Aku bergerak kearah jendela yang dimaksud, pada lubang itu*
     : sebuah cincin di jari ditangannya yang sering kita cium, oh.. mengapa tubuh itu terapung dengan perut bengkak,  itu ... rambutnya  tergerai diseret-seret air, tangannya memegang erat piring yang kosong, dengan mata legam tak berkedip. Ia telah kaku tak bergerak ”tidak...tidak.., semoga .....ini semu”
Pulang…..pulanglah dik,
      Kukira ibu, menyimpan rahasia dalam kerinduanya.
                     _________________________
Kaimuddin.Haq.
Maros.2.10.08.
 

puisi 4  . "Bersama Penyair Beruban di Dg. Te'ne Kala itu...!!!


~Posted by uak sena __   

tak pernah diam

mengalir saja seperti air
tidak menetes tidak juga tumpah
tapi tak pernah henti

menikmatinya seperti minum
setetes saja sudah melegakan
dua teguk sudah hilang ingatan
tak ingin berhenti menikmatinya

sungguh sakti kalimatmu
dahagakanlah sepuas-puasmu
kuyakin masih ada syair tersimpan
menghilangkan kering kerongkongan

5. pentas tuk "kopel " di trans -pantau dana pendidikan di SulSel__style Balada

*Sebuah pengertian berbunyi bahwa :segala seni kreatifitas ,simpulan pemikiran semestinya berakhir dipementasan, aktualisasi, berakhir di pagelaran , untuk mrngukur standarisasi sebuah karya./menilai baik buruknya sesuatu itu. Tapi jangan mengindikasikan saya dalam pengertian tadi, karena sebuah suara dari telepon beberapa jam yang lalu meminta datang dan berapresiasi. Lagu balada , dengan iringan musik akustik*kau petik gitar nyanyikan lagu perlahan…..teruslah bernyanyi tuk kemanusiaan , karena…..dst.*,( teriakku tentang kegelisahan dana pendidikan yang carut-marut......................
Dari Mimbar/tempat ini telah dibicarakan pikiran-pikiran dunia, Suara-suara kebebasan tanpa ketakutan, Dari mimbar ini dibicarakan lagi sejarah kemanusiaa, Pengembangan kemasyarakatan tanpa ketakutan,  Di tempat ini telah dipahatkan kemerdekaan, Segala, despot dan tirani tidak boleh  merobohkan mimbar rakyat ini

Tapi sesuatu yg kita bangun  hari ini ….dan Dilur sana ….yg tanpa batas , tanpa akhir… mungkin kita !, tetaplah org 2 kalah yg tak bisa bicara,  lagu balada ”menanti batas…..batas segala yang tidak ada batasnya, menanti akhir…akhir segala  yang tidak ada akhirnya, waktu berlalu waktu berpacu)

 Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini , Tidak ada pilihan lain. kita harus berjalan terus
Karena berhenti atau mundur berarti hancur,Apakah akan kita jual keyakinan kita,Dalam pengabdian tanpa harga, Akan maukah kita duduk satu meja,Dengan para pembunuh tahun yang lalu, Dalam satu kalimat yang berakhiran,”Iye Karaeng, Iye Puang ?”

Tidak ada pilhan lain. Kita harus berjalan terus, Pendidikan kita serupa bocah  bermata sayu, yang ditepi jalan,Mengacungkan untuk oplet dan bus yang penuh, Kita adalah berpuluh juta yang bertahu hidup sengsara, Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hawa, Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka, Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan, Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Lagu balada (dengan iringan percusionAku belajar melihatmu setelah matahari tak mengajarkan cahaya dan malam tak …….tapi ketika mereka…dst)

Tidak ada pilihan lain.kita harus berjalan terus. Di tempat ini telah dipahatkan kemerdekaan, mengLIRLAH….KARENA laut cukup pintar mengantarmu pada pantai yang tepat….. Siapakah guru para matahari ? Dia orang yang mengajarkanmu,Menapaki ilmu sepanjang hari, Yang tak peduli pada uang Tapi berjuang bagi otak dan ahlakmu……..
----------------------------------
di abadikan sebagai teks Pentas oleh : crew Maros Budaya Pappsaeng


Demi Gerimis Tak Membasahi Rambutmu---
aku bertaruh cepat dengan  lari kabut yang hampir melemparmu dgn seganggam hujan
Sedetik sebelum  ia mampir di rambutmu,  aku berloncatan seperti bunga-bunga api
Menutup rambutmu. Nah..titik hujan pun kesasar sayang…..
aku memang brengsek untuk kau sebut pahlawan, tapi tak ada lagi persembahan selain ini, selain….. gerimis tak membasahi rambutmu.

Sepi
Sepi adalah lidah api yang menjilat-jilat
Terdesak pada sudut-sudut gelap tempat segala perih ditenggelamkan
Wajah wajah bersetubuh, bugil, dingin, penuh ilusi ..imajinasi……
Disini terkubur lalu terlahir kembali, sebagai kata dalam “sepi..”

Rindu-Nya
ia, merindukanmu
silet bermata lebar, menatap paha, leher, matamu…..
tapi..kemana pergimu ketika sesosok tubuh, pucat meregang tanpa nyawa,
ia silet menembus jeruji besi, mencarimu……


Hujan
hujan itu melesat kepandanganmu lalu menyelinap ke setiap lekuk tanah,
Ah, kesima apalagi kau penuhkan mata, sebab ia(hujan), tak sempat bicara lalu tiba-tiba saja menghambur ke gurun,
Hujan itu tak dikenali apakah ia ratap tangis yang menjadikan petaka atau senyum yang menumbuhkan segala bunga dan buah…

Dalam rindu yang tak habis padamu ia hujan selalu ada dan menemukanmu.

  *Lampu Jalan (3)---
Lampu jalan tempat kita berdiri, bentuknya sederhana dan sedikit kasar, ia mungkin masih sangat terbuka dan polos, seperti sikap kita dulu, ketika …kita penuh kemalumalu-an
Lampu –lampu jalan tempat kita berdiri kini mulai berwarnawarni, apakah ini isyarat kau telah begitu lembut dan sangat tertutup ?, kali ini aku merasa, kita semakin kesasar sayang…
Aku ingin mengulang lampu jalan yang sederhana dan sedikit kasar itu saying…untuk dapat mengerti akan ke-tergesagesa-an kita, tentang cinta pertama itu, tak peduli harus kesasar atau kita saling mencari.., kita takkan berhenti kan..!

*Demi Gerimis Tak Membasahi Rambutmu---
aku bertaruh cepat dengan lari kabut yang hampir melemparmu dengan seganggam hujan
Sedetik sebelum ia mampir di tubuhmu, aku berloncatan seperti bunga-bunga api
Menutup rambutmu. Titik hujan pun kesasar sayang…..
aku memang brengsek untuk kau sebut pahlawan, tapi tak ada lagi persembahan selain ini, selain….. gerimis tak membasahi rambutmu.---maros 
_____
demikianlah beberapa kumpulan puisi seniman maros 
.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar