“Ada” adalah Kata Terindah dan hidup

Sejauh catatan, bahwa hidup adalah perjanjian dengan bumi: karena kita “Ada” manusia menyadari Ada-nya dengan meniadakan obye (ketiadaan) yang lainnya. Sebuah “Eksistensi mendahului esensi”, begitulah selalu filusuf-filusuf eksistensialis, menanggapi hidup untuk sebuah realita "ada" atau "keberadaan", jika "ada" adalah himbauan, maka tulislah sejarahmu sendiri dengan perasaan hidup


Sebab apa yang ada padamu saat ini bisa jadi merupakan salah satu dari banyak hal yang paling kau impikan, tetapi tidak setiap impian adalah sesuatu yang bagus dari apa yang ada di dalam lubuk hati seseorang, dengan kata lain pada dasarnya TIDAK setiap keinginan tersertakan kemudian budi pekerti yang luhur dan mulia.< pernyataan. dan jika menolak, "lalu bagaimana mereka menjelaskan adanya konflik di setiap manusia, sifat manusia yang serakah, sikap merendahkan orang lain, merasa diri sendiri hebat, saling menjatuhkan, pemikiran yang materialisme, psikopat, pembunuhan, pencurian dan masih banyak lagi. ya..kadang manusia lebih BRENGSEK DARI PADA SETAN karena faktor belajar dari masa lalu juga sibgah masa kini. Awwe.... kalo begini-mi masuk hutan maki lalu gigit akar pohon", kata Ustadz di sebuah pengajian.

Desember 2011 yang indah, Aku Merasa “Ada”.
Dalam Puisi juga Budaya : Merasa ada dengan ku singgah sejenak di taman, menghibur diri juga kumpulkan tenaga, kekuatan. Aku tanggalkan tujuan yang harus berjalan hingga ke ujung jalan, merasa ada merupakan jejak misterius, ia ter-tancapkan di pusat hati dan ingatan, betapa ingin menyentuh cahaya masa depan bersamamu, dan selalu saling mengelus jemari dalam waktu yang lama, saling menatap di lengang malam yang kita sengaja panjang-panjangkan. Dengan puisi aku terhibur dan dengan budaya aku tertantang, < ya tulis-tulis saja demi sesuatu harus ada...

Dalam Budaya : ku merasa ada dan tertantang memunggungi pintu rumah, pintu rumah “kita”, tempat anak-anak bermain, beristirahat, dan membaca dunia dengan kearifan, sebab aku tak mampu mengingat, kala aku menyepi dari suara dan gerak total setelah "ketiadaan", dan kau wanita pelindung itu, di beranda bersama anak-anak yang kau hadiahkan untukku, merasalah selalu ada dalam mengukir kebaikan, pun menjadi ada dengan dukungan, rasa aman. dan dengan dukungan maka disekitar kitapun tersibgah  penghargaan, penghargaan atas diri sendiri (mattau ke si pakatau, literasi bahasa Bugis) dan yang terpenting adalah dengan ada...merasa ada sungguh bagian dari belajar menerjemahkan kasih dalam hidup. R.Robihadi Alb. menawarkan catatan. Yang bisa diambil adalah jangan lihat seseorang dari “apa yang ada dia lakukan itu salah/aneh” tapi mulailah “apa yang menyebabkan ada-nya laku seperti itu?” karena tidak akan pernah ada asap jika tidak ada api. 

Manusia akan terus belajar menjadi setan lalu men-dewa atau
 manusia yang mulia tergantung kepada lingkungan sosialnya. Dan jangan terlalu berharap ada pada sahabat, kekasih, saudara, keluarga bahkan orang yang ada di sekitar kita, karena mereka tidak akan selamanya berada di samping anda, suatu saat mereka pasti pergi, dan anda harus berusaha sendiri. Hubungan manusia  itu merupakan sesuatu yang singkat dan terbatas karena setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing (kalo udah mati kan di kuburnya sendirian, gak ada manusia lain yang nemenin). Semua ini merupakan hasil belajar dari pengalaman yang berharga, dan
 mati juga tanda keberadaan__catatan-surat-sejak-akhir 2011

(maaf ya kalo ada yang baca orang psykologi, saya juga masih harus banyak belajar dalam menilai sesuatu. Saya merupakan manusia biasa yang mungkin saja salah. Tapi inilah pengetahuan, persepsi dan asumsi yang saya miliki)

Tuhan pun Indah dalam Imajinasi
Saya meyakini ‘Tuhan itu ada’ dan saya berlaku seolah-olah Tuhan itu mengawasi. Lalu korelasinya dengan pengendalian hasrat ? : Ia hadir, walaupun dalam imajinasi kita, mengawasi, melihat tiap detik ..jengkal kehidupan kita sehingga kita malu melakukan perbuatan yang melanggar norma, agama atau tabu, dalam kata lain perbuatan yang memposisikan akal kita inferior dibanding hasrat. Ia- kita hadirkan dalam imajinasi kita padahal Ia adalah exist/ada secara nyata namun Ia non-materi, tidak dapat terdefisinikan dalam dunia transenden, maka imajinasi kitalah satu-satunya alat untuk  ‘menghadirkan Tuhan’ dalam segala pergolakan hasrat dengan akal.
Pada waktu yang tiada batas, selalu memicu "ada", dan tanpa kata "selamat jalan….air mata, juga tanpa kata selamat tinggal."kita selalu berdekatan ADA dan tersenyum"
 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar